SOLOBALAPAN.COM-Kota Semarang, Jawa Tengah, kembali mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional. Perhelatan keagamaan berskala nasional tersebut menjadi salah satu momentum penting bagi Kota Semarang dalam mempertemukan masyarakat melalui kegiatan keagamaan sekaligus budaya.
Kepercayaan tersebut bukanlah kali pertama bagi Semarang. Kota ini sebelumnya pernah menjadi tuan rumah MTQ Nasional pada 1979 melalui penyelenggaraan MTQ ke-XI. Setelah puluhan tahun berlalu, Semarang kembali menjadi pusat perhatian dengan digelarnya MTQ Nasional XXXI.
MTQ Nasional XXXI berlangsung pada 11–20 September dan dipusatkan di Kota Semarang dengan kegiatan yang tersebar di 12 lokasi. Sebanyak 2.242 peserta ikut ambil bagian dalam kompetisi tersebut, yang terdiri dari 1.751 peserta inti dan 491 peserta cadangan. Mereka berkompetisi dalam delapan cabang dan 24 golongan lomba dengan 48 kategori.
Baca Juga: Giselle aespa Dikritik karena Unggahan Foto Senjata hingga Kaus Bergambar Richard Ramirez
Tidak hanya peserta lomba, kemeriahan MTQ juga menarik kehadiran masyarakat dalam jumlah besar. Diperkirakan lebih dari 7.000 orang datang selama pelaksanaan kegiatan. Aktivitas tersebut turut memberikan dampak terhadap perekonomian daerah, dengan perputaran uang yang diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun berdasarkan perhitungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Badan Pusat Statistik setempat.
Pergerakan ekonomi tersebut tidak hanya berasal dari kebutuhan pokok peserta dan penyelenggara. Pengeluaran juga muncul dari berbagai kebutuhan lain, seperti akomodasi, transportasi, makanan, oleh-oleh, perlengkapan tambahan, hingga kegiatan wisata yang dilakukan selama berada di Semarang.
Semarak Seni dan Budaya
Pelaksanaan MTQ Nasional XXXI juga beriringan dengan sejumlah kegiatan yang memperkaya suasana Kota Semarang selama September 2026. Salah satunya adalah Festival Kota Lama yang digelar di kawasan Kota Lama Semarang pada 4–20 September.
Festival tersebut menghadirkan berbagai kegiatan seni dan hiburan. Masyarakat maupun pengunjung dapat menikmati pertunjukan wayang on the street, festival musik jazz, berbagai kesenian dan kebudayaan, serta pasar malam. Kehadiran kegiatan tersebut turut memberikan warna tersendiri bagi suasana Semarang selama berlangsungnya MTQ Nasional.
Selain menikmati kegiatan di pusat kota, pengunjung juga memiliki pilihan untuk berwisata ke daerah pegunungan. Salah satu destinasi yang dapat dikunjungi adalah Bandungan di Kabupaten Semarang yang menawarkan suasana lebih sejuk dan berada tidak terlalu jauh dari lokasi utama MTQ.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati udara yang lebih dingin, Dataran Tinggi Dieng di wilayah Banjarnegara dan Wonosobo juga menjadi pilihan. Perjalanan menuju Dieng dapat ditempuh sekitar empat jam dalam kondisi perjalanan santai. Pada waktu tertentu, pengunjung bahkan berkesempatan menyaksikan embun upas ketika suhu di kawasan tersebut turun hingga di bawah titik beku.
Semarang dan Kekayaan Kuliner
Bagi pengunjung yang memilih tetap berada di Kota Semarang, wisata kuliner menjadi salah satu kegiatan yang menarik untuk dilakukan. Sejarah Semarang sebagai salah satu pusat perdagangan dan jalur kuliner sejak masa kolonial membuat kota ini memiliki kekayaan makanan yang dipengaruhi berbagai kebudayaan.
Pada masa Hindia Belanda, Semarang bersama Jakarta dan Surabaya dikenal sebagai salah satu pelabuhan utama di Pulau Jawa. Posisi tersebut membuat Semarang menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk penduduk pribumi, masyarakat Tionghoa, Arab, dan Eropa. Pertemuan berbagai kelompok tersebut kemudian melahirkan proses akulturasi, salah satunya dalam bidang kuliner.
Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan melalui sejumlah tempat kuliner yang telah bertahan sejak masa kolonial. Salah satunya adalah Toko Oen yang berada di kawasan Kota Lama Semarang dan dikenal sebagai salah satu tempat makan legendaris di kota tersebut.
Salah satu makanan khas yang lahir dari proses akulturasi adalah Roti Ganjel Rel. Makanan tersebut merupakan hasil adaptasi lokal terhadap ontbijtkoek, yaitu kue khas Belanda yang menggunakan rempah. Karena bahan baku ontbijtkoek cukup mahal pada masa kolonial, masyarakat setempat melakukan penyesuaian dengan memanfaatkan tepung singkong atau gaplek serta gula Jawa.
Roti hasil modifikasi tersebut memiliki tekstur padat dan keras dengan warna cokelat, aroma kayu manis, serta taburan wijen. Bentuknya yang menyerupai balok membuat masyarakat Semarang mengaitkannya dengan kayu yang digunakan sebagai pengganjal rel kereta api, sehingga kemudian dikenal dengan nama Roti Ganjel Rel.
Kuliner lain yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah akulturasi Semarang adalah loenpia atau lumpia. Makanan tersebut disebut berkembang pada akhir abad ke-19 di sekitar kawasan Pasar Johar. Kemunculannya berkaitan dengan kisah pertemuan dan pernikahan antara Tjoa Thay Yoe, seorang imigran asal Fujian, China, dengan Mbak Wasih yang merupakan masyarakat pribumi Jawa.
Toleransi dalam Keberagaman
Semangat toleransi menjadi salah satu hal yang terlihat dalam penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI di Kota Semarang. Pemerintah Kota Semarang melakukan berbagai persiapan melalui koordinasi lintas sektor untuk memastikan pelaksanaan kegiatan sebagai tuan rumah berjalan dengan baik.
Dalam laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 yang dirilis SETARA Institute, Semarang tercatat berada di posisi ketiga secara nasional dengan nilai indeks 6,160. Penilaian tersebut dilakukan terhadap 94 kota di Indonesia dengan melihat bagaimana pemerintah daerah dan masyarakat mengelola keberagaman, kebebasan beragama, serta inklusi sosial.
Semangat keberagaman tersebut juga terlihat dalam pembukaan MTQ Nasional XXXI. Paduan suara yang berasal dari 87 gereja turut tampil dalam acara tersebut. Perwakilan dari berbagai kelompok keagamaan, termasuk Guru Sekolah Minggu, perwakilan Paroki Gereja Katolik, serta masyarakat dari vihara, pura, dan kelenteng, ikut menyanyikan Mars MTQ Nasional bersama-sama.
Keterlibatan masyarakat lintas agama juga tampak dalam pemecahan rekor MURI untuk kategori menyanyikan Mars MTQ dengan jumlah peserta terbanyak. Sebanyak 24.957 orang hadir secara langsung di kawasan Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, sementara 263.262 peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring dari berbagai sekolah dan instansi di Kota Semarang.
Menariknya, kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan umat Islam. Sebanyak 10.867 warga dari berbagai agama, yaitu Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, turut berpartisipasi. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan MTQ dapat menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.
Baca Juga: Hachi Ternyata Punya Nama Jepang yang Berarti Yatim Piatu, Ini Arti di Balik Judul Kartunnya
Menteri Agama Nasaruddin Umar bahkan menyampaikan gagasan agar penyelenggaraan MTQ ke depan dapat dilakukan setiap tahun, bukan lagi dua tahun sekali. Menurutnya, MTQ merupakan salah satu pesta rakyat berskala besar yang dapat menjadi sarana memperkuat persatuan masyarakat Indonesia.
Pada akhirnya, MTQ Nasional XXXI di Kota Semarang tidak hanya menjadi ajang perlombaan keagamaan. Kehadiran berbagai kegiatan seni, budaya, kuliner, serta partisipasi masyarakat lintas agama menjadikan perhelatan tersebut sebagai ruang untuk mempertemukan keberagaman. Semangat kebersamaan yang muncul diharapkan dapat menjadi salah satu fondasi dalam memperkuat persatuan Indonesia. (Carrieolis Ratu Lathiifu)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : pemprov jateng, solobalapan.com