SOLOBALAPAN, JAKARTA - Sebulan pascabencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total 142 orang meninggal dunia.
Mirisnya, mayoritas korban jiwa atau sebanyak 94 orang justru mengembuskan napas terakhir saat berada di lokasi pengungsian, sementara 48 orang lainnya meninggal akibat dampak langsung guncangan gempa.
Puluhan Ribu Rumah Rusak dan Korban Jiwa di Pengungsian
Guncangan dahsyat gempa bumi di Flores, NTT tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menimbulkan dampak kehancuran infrastruktur yang masif.
Hingga Selasa, 15 September 2026, BNPB memetakan sebanyak 1.603 orang mengalami luka-luka, sementara 46.461 jiwa dilaporkan masih harus bertahan di posko pengungsian.
Kerusakan fisik bangunan tercatat mencakup 103.427 rumah warga, 712 fasilitas pendidikan, 558 rumah ibadah, 157 fasilitas kesehatan, dan 685 unit kantor.
Baca Juga: Aksi Sosial Reza Arap Bangun 27 Sekolah di NTT, Dari SD Hingga SMA Pakai Dana Pribadi
Selain itu, aksesibilitas daerah juga terganggu akibat 1.175 titik jalan rusak serta 50 fasilitas irigasi mengalami kerusakan.
Kendati demikian, BNPB menyebutkan angka warga yang bertahan di tempat pengungsian telah mengalami penurunan drastis dibandingkan pekan-pekan awal pascabencana yang sempat menembus angka 150 ribu jiwa.
"Saat ini pengungsi itu sudah jauh turun, yang kemarin-kemarin sampai 150 ribu lebih, sekarang hanya 46.461 jiwa," terang Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, pada Selasa, 15 September 2026.
Aktivitas Gempa Susulan Memasuki Fase Peluruhan
Di samping penanganan pengungsi dan kerusakan bangunan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau aktivitas seismik di kawasan NTT.
Selama kurun waktu 30 hari pascagempa utama, BMKG mencatat sebanyak 15.722 kali gempa susulan dengan rentang magnitudo 0,9 hingga 6,2.
Dari ribuan kejadian tersebut, sebanyak 190 guncangan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Secara statistik, tren frekuensi gempa susulan harian maupun mingguan terus menunjukkan grafik penurunan signifikan dan telah memasuki fase peluruhan.
Pada minggu pertama tercatat 5.011 kejadian, turun menjadi 4.267 kejadian pada minggu kedua, 3.158 kejadian di minggu ketiga, dan 2.421 kejadian di minggu keempat.
Memasuki minggu kelima hingga 15 September 2026 pukul 05.00 WIB, frekuensi guncangan meluruh ke angka 864 gempa susulan.
Berdasarkan distribusinya, gempa dengan magnitudo kurang dari 3,0 mendominasi dengan porsi 75,9 persen atau sebanyak 11.993 kejadian.
Sementara itu, gempa signifikan berukuran magnitudo 5,0 ke atas hanya terjadi 26 kali (0,2 persen) dan tidak tercatat lagi dalam satu pekan terakhir.
"Estimasi ini merupakan kecenderungan statistik peluruhan, bukan perkiraan tanggal pasti berakhirnya aktivitas gempa maupun prediksi waktu gempa berikutnya. Masyarakat diimbau tetap mewaspadai karakteristik wilayah NTT yang memang memiliki tingkat kegempaan tinggi," imbau Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto.
| Parameter Kebencanaan | Rincian / Data Fakta |
| Kekuatan Gempa Utama | Magnitudo 7,7 (15 Agustus 2026) |
| Total Korban Meninggal | 142 jiwa (48 dampak langsung, 94 di pengungsian) |
| Korban Luka-Luka | 1.603 orang |
| Jumlah Pengungsi | 46.461 jiwa (turun dari puncak >150 ribu jiwa) |
| Kerusakan Rumah Warga | 103.427 unit |
| Kerusakan Fasilitas Publik | 712 sekolah, 558 rumah ibadah, 157 faskes, 685 kantor |
| Total Gempa Susulan (30 Hari) | 15.722 kali (berkisar M 0,9 - M 6,2) |
| Jumlah Gempa Dirasakan | 190 kejadian |
Satu bulan berlalu pascabencana gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores, NTT, penderitaan warga belum sepenuhnya usai terutama bagi puluhan ribu pengungsi yang masih memadati posko darurat.
Kolaborasi lintas sektor dalam penanganan fasilitas kesehatan di pengungsian, perbaikan sarana pendidikan, hingga percepatan rehabilitasi rumah warga menjadi aspek paling krusial agar kehidupan masyarakat terdampak dapat kembali pulih secara menyeluruh.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo