SOLOBALAPAN.COM — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Kabupaten Lampung Selatan, Selat Sunda, masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Gunung api aktif tersebut kembali mencatatkan erupsi susulan pada Kamis (10/9/2026) pagi pukul 09.10 WIB.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui sistem laporan MAGMA ESDM mengonfirmasi bahwa getaran letusan tersebut terekam kuat di seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 47 mm dan durasi letusan berlangsung selama 17 detik.
Secara visual, puncak gunung yang memiliki ketinggian 157 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut tidak teramati secara jelas lantaran terselimuti kabut tebal pada skala 0–III. Asap kawah utama juga tertutup oleh pandangan dari pos pengamatan.
Saat letusan terjadi, kondisi cuaca di sekitar kawasan gunung terpantau cerah hingga berawan, dengan suhu udara berkisar antara 25,8°C hingga 29,7°C, kelembapan udara 69–82 persen, serta pergerakan angin lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut.
Catatan Kegempaan Masih Didominasi Gempa Vulkanik
Selain satu kali gempa letusan utama, jajaran instrumen seismik PVMBG turut mencatat rangkaian rentetan kegempaan yang mengindikasikan pergerakan magma di dalam tubuh Gunung Anak Krakatau.
Rincian aktivitas kegempaan yang terekam pada periode pengamatan yang sama antara lain:
- Gempa Erupsi/Letusan: 1 kali (amplitudo 47 mm, durasi 17 detik).
- Gempa Vulkanik Dangkal: 5 kali (amplitudo 9–18 mm, durasi 4–13 detik).
- Gempa Low Frequency: 3 kali (amplitudo 14–35 mm, durasi 4–9 detik).
- Gempa Hybrid/Fase Banyak: 1 kali (amplitudo 13 mm, durasi 10 detik).
- Gempa Tremor Menerus: 1 kali (amplitudo 1–6 mm, dominan 2 mm).
Baca Juga: Pulau Jawa Nyaris Gelap 2 Hari? Peneliti BRIN Ungkap Fakta Sebaran Abu Erupsi Anak Krakatau
Zona Bahaya dan Rekomendasi Resmi PVMBG
Mempertimbangkan aktivitas vulkanik yang masih terus berfluktuasi serta dinamis, pihak MAGMA ESDM mempertegas imbauan keselamatan bagi masyarakat lokal, nelayan, maupun wisatawan yang beroperasi di wilayah perairan Lampung Selatan dan Selat Sunda.
Masyarakat dilarang keras mendekat atau melakukan aktivitas dalam radius aman 3 kilometer (km) dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau guna mengantisipasi lontaran material pijar maupun potensi bahaya erupsi susulan. (dam)
Editor : Damianus Bram