SOLOBALAPAN.COM — Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat memperketat standar keamanan dan kualitas olahan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Guna memastikan higienitas makanan, BGN bakal memberlakukan mekanisme seleksi dan pendaftaran khusus bagi para juru masak (chef) yang bertugas di dapur mitra seluruh Indonesia.
BGN menegaskan bahwa rekam jejak (background), portofolio, hingga sertifikasi para chef akan diverifikasi terlebih dahulu sebelum diberi rekomendasi resmi untuk mengolah makanan bagi siswa.
Kepala BGN, Sudaryono, menjelaskan bahwa pihaknya tengah menyiapkan sistem terintegrasi agar yayasan pengelola dapur MBG dapat mendaftarkan tenaga masak mereka secara transparan.
"Nanti akan kami buatkan semacam link khusus untuk chef yang ada di dapur-dapur Bapak/Ibu semua didaftarkan kepada kami. Kita cek background-nya, kita cek pengalamannya. Kalau oke, saya keluarkan surat rekomendasi," ujar Sudaryono melalui akun Instagram resminya, @sudaru_sudaryono, Kamis (10/9/2026).
Baca Juga: 230 Siswa dan Belasan Guru di Dua Sekolah Pati Diduga Keracunan Nasi Bakar MBG, Puskesmas Overload
Kunci Cegah Makanan Basi dan Keracunan Massal
Sudaryono menilai, sosok chef profesional merupakan pilar utama penentu keselamatan pangan. Juru masak yang terlatih memiliki intuisi dan pengetahuan medis dasar terkait ketahanan bahan makanan, teknik memasak higienis, hingga manajemen waktu sajian agar tidak cepat basi.
" Chef itu tahu belanja barang yang segar, mengerti bahan apa yang gampang basi, serta paham durasi masak yang presisi—jam berapa harus matang dan berapa lama bertahan. Itu semua keahlian chef," jelasnya.
Pengetatan regulasi ini menjadi jawaban atas maraknya insiden kontaminasi bakteri akibat cara pengolahan dan durasi penyimpanan makanan yang tidak sesuai standar di sejumlah daerah.
Kreativitas Porsi Rp10 Ribu dengan Kualitas Restoran
Di sisi lain, Sudaryono mengapresiasi kinerja sejumlah dapur MBG yang sukses menyajikan menu lezat, bergizi tinggi, dan estetis meski dengan alokasi anggaran terbatas senilai Rp10.000 per porsi.
Menurutnya, keberhasilan tersebut lahir dari kolaborasi manajerial yayasan yang peduli serta kejelian chef dalam mengolah komposisi bahan lokal.
"Saya lihat di media sosial menunya bagus-bagus. Dengan uang Rp10.000 menunya bisa menarik dan disukai anak-anak. Itu semua adalah hasil kerja sama dan profesionalisme chef di dapur tersebut," pangkasnya. (dam)
Editor : Damianus Bram