SOLOBALAPAN.COM — Kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memakan korban serius.
Febiola Br Purba, seorang siswi asal Kabupaten Karo, Sumatra Utara, kini harus berjuang melawan kondisi medis kritis usai diduga menjadi korban keracunan hidangan MBG.
Tak main-main, dampaknya membuat siswi tersebut mengalami penurunan daya ingat secara drastis hingga mencapai 70 persen, menyerupai ingatan anak balita berusia tiga tahun.
Ayah kandung Febiola, Icuk Sugiarto Purba, membeberkan bahwa putrinya kini bahkan tidak mampu lagi mengenali guru, teman sekelas, hingga orang tua dan saudaranya sendiri.
"Ya semuanya dia lupa. Contohnya, teman-teman sekelasnya dia lupa. Waktu kami pulang dari rumah sakit, dia bertemu sama adiknya dan saya bapaknya, dia sudah tidak kenal. Padahal mereka itu biasanya duduk bersama," tutur Icuk pilu, dikutip dari akun Instagram @clevault.id, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga: Buntut Marak Kasus Keracunan MBG, Kepala BGN Semprot Dapur SPPG Nakal yang Manipulasi Label!
Pindah 5 Rumah Sakit dan Terancam Berobat Selama Setahun
Sejak pertama kali mengalami gejala keracunan pada 13 Agustus 2026 lalu, perjuangan medis Febiola tergolong sangat panjang.
Keluarga telah melarikannya ke lima fasilitas kesehatan berbeda, mulai dari RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP H. Adam Malik, hingga RS Amanda Karo, sebelum kembali dirujuk ke RSUP Adam Malik Medan.
Dokter spesialis yang menangani mengungkapkan bahwa masa pemulihan Febiola membutuhkan jangka waktu yang sangat panjang akibat kerusakan sistem organ/saraf.
"Anak saya menurut dokter perawatannya tidak sebentar. Dokter bilang harus dirawat selama setahun penuh dengan kontrol seminggu sekali," beber Icuk.
Situasi ini memukul perekonomian keluarga. Icuk dan istrinya terpaksa menanggalkan pekerjaan harian mereka demi mendampingi sang anak, hingga tabungan keluarga terkuras habis untuk biaya operasional dan obat-obatan di luar janggungan.
Dugaan Medis: Terpapar Bakteri Beracun atau Racun Jamur
Mengenai pemicu pasti kerusakan saraf ingatan Febiola, tim medis masih mendalami dua kemungkinan utama yang memerlukan waktu analisis sekitar 10 hari hingga dua minggu.
"Berdasarkan keterangan dokter, kalau tidak racun, ada bakteri beracun atau racun jamur dalam makanan tersebut," jelas Icuk.
Keluarga berharap pemerintah pusat, khususnya Badan Gizi Nasional (BGN) serta instansi terkait, melakukan evaluasi total dan bertanggung jawab penuh atas insiden yang menimpa anak mereka.
Di media sosial, kemarahan publik pun pecah. Ratusan netizen membanjiri kolom komentar mendesak pihak BGN bertanggung jawab dan meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat untuk mengusut tuntas kandungan berbahaya dalam ompreng MBG tersebut.
"Tuntut BGN & SPPG nya, mereka hrs tanggung jawab sepenuhnya. Tanggung jawab mu jg Presiden Prabowo," tulis @boreol*****.
"@badangizinasional.ri kalau memang dari menyantap MBG sampai spt ini, siapa yg harus bertgg jawab??" tulis @jkt_nigh****.
"Kok bisa sampai separah ini efeknya, ada kandungan apa dalam makanan MBG itu," tulis @ara_alv****. (dam)