Rilis Resmi BNPB: Ini 3 Daerah Paling Parah Terdampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau!

Damianus Bram • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 11:48 WIB
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di tepi pantai wilayah Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9). Badan Geologi memastikan erupsi Gunung Anak Krakatau tidak memicu gelombang tsunami. (BPBD Kabupaten Serang)
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di tepi pantai wilayah Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9). Badan Geologi memastikan erupsi Gunung Anak Krakatau tidak memicu gelombang tsunami. (BPBD Kabupaten Serang)

 

SOLOBALAPAN.COM — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pemetaan wilayah paling rentan terdampak paparan hujan abu vulkanik akibat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Tiga kabupaten dilaporkan mengalami dampak paling parah, yakni Kabupaten Lampung Selatan dan Tanggamus di Provinsi Lampung, serta Kabupaten Pandeglang di Provinsi Banten.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi bahwa pemantauan lintas sektoral terus diguncang secara intensif bersama Pemda dan Kementerian Kesehatan.

"Pemantauan terhadap wilayah yang terdampak abu vulkanik terus dilakukan bersama pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait, termasuk Kementerian Kesehatan yang mengimbau masyarakat memperhatikan kondisi kesehatan pernapasan, mata, dan kulit," terang Berton, dikutip dari JawaPos.com, Senin (7/9/2026).

Masyarakat di kawasan terdampak diminta untuk mengurangi mobilitas di luar ruangan. Apabila mendesak harus keluar gedung, penggunaan masker, kacamata pelindung, serta segera membersihkan diri usai beraktivitas menjadi SOP wajib guna menghindari risiko ISPA dan iritasi.

Baca Juga: Dampak Abu Gunung Anak Krakatau Memburuk! Penutupan Bandara Soekarno-Hatta Diperpanjang Hingga Pukul 18.00 WIB

Daftar 6 Bandara Utama yang Masih Ditutup

Dampak sebaran materi vulkanik di ruang udara tak hanya melumpuhkan jadwal penerbangan domestik, melainkan juga memaksa otoritas Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menonaktifkan operasional enam bandara udara utama demi keselamatan penerbangan.

Hingga data terkini, enam bandara yang menghentikan operasional sementara meliputi:

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menegaskan penutupan bandara ini dievaluasi secara berkala sesuai dinamika pergerakan abu vulkanik yang dirilis BMKG.

"Kementerian Perhubungan mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan. Pihak maskapai tidak memaksakan penerbangan apabila kondisi tidak memungkinkan. Pemutakhiran informasi dilakukan setiap empat jam sekali," tegas Menhub Dudy.

Jalur Penyeberangan Laut Selat Sunda Masih Beroperasi

Di tengah kelumpuhan jalur udara, Kemenhub memastikan transportasi laut dan jalur penyeberangan kapal feri di Selat Sunda sejauh ini belum terdampak secara signifikan. Operasional armada kapal masih berjalan dengan pantauan ketat dari otoritas pelabuhan.

Meskipun demikian, para penumpang jasa transportasi laut diimbau untuk tetap mengenakan masker saat berada di area terbuka pelabuhan guna mengantisipasi embusan debu halus Krakatau. (dam)

Editor : Damianus Bram
Gunung Anak Krakatau anak krakatau abu vulkanik erupsi bnpb