Dunia Soroti Bencana Karhutla Indonesia! Satelit NASA Tangkap Kepulan Asap Pekat Selimuti Kalimantan

Damianus Bram • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 15:28 WIB
Ilustrasi foto satelit Aqua milik NASA yang menangkap citra udara wilayah kebakaran hutan dan lahan di Pulau Kalimantan/NASA Earth
Ilustrasi foto satelit Aqua milik NASA yang menangkap citra udara wilayah kebakaran hutan dan lahan di Pulau Kalimantan/NASA Earth

 

SOLOBALAPAN.COM — Musibah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tengah melanda berbagai wilayah di Indonesia menjadi sorotan hangat komunitas internasional hingga viral di media sosial platform X.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) membagikan hasil citra satelit yang merekam kepulan asap pekat menyelimuti Pulau Kalimantan.

Lewat unggahan akun resmi @NASAEARTH, terlihat kondisi wilayah Indonesia pada 1 September 2026 yang ditangkap oleh sensor Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) pada Satelit Aqua milik NASA.

Gambar tersebut memperlihatkan sebaran titik merah (hotspot) yang mengindikasikan anomali suhu panas akibat Karhutla.

"Fires are smoldering in Indonesia, which is in a severe and widespread drought. Some of these are tropical peatland fires, which burn slowly, release higher amounts of air pollution, and are notoriously difficult to extinguish," tulis pernyataan resmi @NASAEARTH.

Artinya, Karhutla masih terus membara di Indonesia yang kini tengah dilanda kekeringan parah dan meluas.

Beberapa di antaranya merupakan kebakaran lahan gambut tropis yang terbakar perlahan, melepaskan racun polusi udara dalam jumlah jauh lebih tinggi, serta terkenal sangat sulit dipadamkan.

Baca Juga: Dampak Kebakaran TPA Cempo Lintas Wilayah: Warga Karanganyar Dievakuasi

Kebakaran Lahan Gambut Paling Ekstrem dalam Beberapa Dekade

Melalui laman resminya (science.nasa.gov), NASA menilai bencana kebakaran lahan gambut di Indonesia kali ini termasuk kategori paling ekstrem dalam beberapa dekade terakhir.

Kondisi tanah gambut yang mengering akibat dampak fenomena El Nino dan kemarau panjang membuat api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga menjalar serta membara di bawah tanah (ground fire).

Hal ini membuat proses pemadaman oleh tim gabungan di lapangan menjadi berkali-kali lipat lebih rumit.

Tak hanya itu, NASA membeberkan bahwa kebakaran tanah gambut mampu melepaskan senyawa sulfur dioksida hingga lima kali lebih banyak, karbon organik tiga kali lebih banyak, serta gas metana dan karbon monoksida dua kali lebih banyak dibanding kebakaran hutan biasa.

Ahli ekologi dari Maryland Center for Environmental Science, Mark Cochrane, menyebut pemicu utama kerentanan lahan gambut ini tidak lepas dari pembangunan kanal irigasi massal sejak masa lalu, pembukaan lahan sawah skala besar, ekspansi perkebunan sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI), hingga dipicu oleh ulah manusia.

Asap Beracun Ganggu Sekolah, Penerbangan, dan Taman Nasional

Dampak paparan asap pekat dari bencana Karhutla Kalimantan ini kian meluas dan merugikan berbagai sektor kehidupan masyarakat.

Sejumlah kawasan sekolah di wilayah terdampak kini terpaksa mengalihkan kegiatan belajar mengajar menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR) guna melindungi kesehatan paru-paru para siswa.

Selain itu, sebanyak sembilan kawasan Taman Nasional terpaksa ditutup sementara untuk umum, serta sejumlah jadwal penerbangan domestik terpaksa ditunda (delayed) akibat jarak pandang (visibility) yang memburuk tertutup kabut asap tebal. (dam)

Editor : Damianus Bram
karhutla kebakaran hutan Satelit NASA kalimantan nasa