SOLOBALAPAN.COM – Gunung Merapi kembali mengalami awan panas guguran pada Sabtu (29/8/2026) pagi. Berdasarkan pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), peristiwa tersebut terjadi pukul 09.18 WIB dengan jarak luncur sekitar 2 kilometer.
Awan panas guguran tersebut meluncur ke arah barat daya, menuju hulu Kali Sat/Putih. Peristiwa ini menjadi salah satu aktivitas vulkanik Merapi yang tercatat dalam beberapa hari terakhir.
BPPTKG mencatat awan panas guguran tersebut memiliki amplitudo maksimum 31,9 milimeter dengan durasi sekitar 142,28 detik. Data tersebut merupakan hasil pemantauan aktivitas Gunung Merapi oleh BPPTKG.
Baca Juga: Air Terjun Kedung Kayang, Pemandangan Air Terjun dengan Latar Gunung Merapi
Hingga laporan ini disusun, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas vulkanik Merapi masih ditandai dengan guguran lava dan awan panas guguran yang terus dipantau oleh petugas.
Aktivitas guguran juga tercatat sebelum kejadian Sabtu pagi. Pada 26 Agustus, BPPTKG mencatat sembilan kali guguran lava dengan jarak maksimum sekitar 2 kilometer. Sementara pada 28 Agustus, tercatat lima guguran lava dengan jarak maksimum sekitar 1,8 kilometer.
Dalam kondisi tersebut, masyarakat diminta memperhatikan rekomendasi resmi terkait kawasan rawan bencana Merapi. Sejumlah alur sungai yang berhulu di gunung tersebut menjadi wilayah yang perlu diwaspadai, di antaranya Kali Sat, Kali Putih, Kali Bebeng, Kali Krasak, Kali Boyong, Kali Bedog, dan Kali Kuning.
Baca Juga: Potensi Panas Bumi 55 MW Diincar di Gunung Ungaran, PLN Jadwalkan Eksplorasi 2028–2029
Namun, arah luncuran awan panas pada kejadian Sabtu secara spesifik mengarah ke barat daya atau hulu Kali Sat/Putih. Penyebutan alur sungai lainnya merupakan bagian dari kawasan yang perlu diwaspadai sesuai rekomendasi kebencanaan, bukan berarti seluruhnya terdampak kejadian terbaru.
BPPTKG dan Badan Geologi mengimbau masyarakat tidak mendekati kawasan rawan bencana serta menjauhi alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Warga juga diminta mengikuti perkembangan informasi dan rekomendasi resmi dari pihak berwenang.
Gunung Merapi berada di wilayah perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Aktivitasnya terus dipantau mengingat karakter erupsi Merapi antara lain ditandai dengan guguran lava dan awan panas guguran.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi! Kolom Abu Membumbung Tinggi Capai 250 Meter, Status Tetap Siaga
Masyarakat di sekitar Merapi diharapkan tetap meningkatkan kewaspadaan tanpa menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Perubahan aktivitas gunung dapat terjadi sewaktu-waktu sehingga perkembangan terbaru perlu mengacu pada laporan resmi BPPTKG dan Badan Geologi. (monique millania s)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com