Korban Gempa di Desa Latung NTT Belum Terima Bantuan Pemerintah, Pengungsi Mulai Terserang Penyakit

Damianus Bram • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 11:57 WIB
Kondisi memperhatikan warga Kampung Tonggong, Desa Latung, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, NTT, terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat yang dibuat sendiri pasca gempa. (Nikolaus Tolen untuk JawaPos.com)
Kondisi memperhatikan warga Kampung Tonggong, Desa Latung, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, NTT, terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat yang dibuat sendiri pasca gempa. (Nikolaus Tolen untuk JawaPos.com)

 

SOLOBALAPAN.COM – Pasca gempa bumi yang menguncang kawasan Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), warga terdampak di Desa Latung, Kecamatan Cibal Barat, kini harus berjuang bertahan hidup di tengah keterbatasan fasilitas dan ketiadaan pasokan bantuan pemerintah.

Kondisi permukiman yang mengalami kerusakan struktural retak hingga roboh total, ditambah ancaman guncangan gempa susulan yang terus berulang, memaksa warga mendirikan tenda darurat mandiri di pekarangan rumah.

Baca Juga: Ganjar Rayakan 17 Agustus Bersama Pengungsi, Sirene Gempa Susulan Bikin Suasana Tegang

Satu Tenda Disesaki 3 KK, Bantuan Resmi Masih Nihil

Minimnya ketersediaan terpal dan tenda pengungsian membuat kondisi penampungan warga jauh dari standar layak. Banyak keluarga terpaksa berdesakan memanfaatkan material sisa seadanya.

"Kalau di kampung saya ini bahkan baru satu atau dua terpal yang ada dari bantuan. Ya ada yang gabung 1 sampai 2, 3 KK dalam satu tenda. Karena memang sesuai dengan bahan yang kita miliki," ujar Nikolaus Tolen, warga Kampung Tonggong, Desa Latung, dilansir dari JawaPos.com, Rabu (26/8/2026).

Kecemasan warga berlipat lantaran gempa susulan masih kerap terjadi. Hal tersebut membuat mereka enggan mengambil risiko untuk beraktivitas atau tidur di dalam bangunan rumah.

Paparan Cuaca Ekstrem Pemicu Masalah Kesehatan

Fasilitas pengungsian yang sangat minim berimbas langsung pada kesehatan kelompok rentan seperti balita dan lansia.

Perubahan suhu yang menyengat di siang hari dan menusuk tulang pada malam hari dengan cepat menurunkan daya tahan tubuh para penyintas.

"Siang malam itu bertahan di tenda saja. Siangnya panas, malamnya dingin, itu yang bikin drop kondisi fisik badan. Anak saya memang sudah mulai kena sakit, pilek, batuk. Kemudian orang tua-orang tua juga sudah mulai pada batuk, pilek," ungkap Niko.

Krisis Tenaga Medis Formal dan Posko Kesehatan

Hingga saat ini, belum ada tim medis atau utusan dinas kesehatan resmi dari pemerintah yang menjangkau pengungsian Desa Latung.

Penanganan kesehatan hanya mengandalkan inisiatif warga lokal yang berlatar belakang nakes serta bantuan darurat dari lembaga keagamaan.

"Dari institusi kesehatan tidak ada. Kebetulan ada keluarga kita yang nakes, mereka bantu-bantu. Paling yang kita dapat itu dari pihak gereja, satu anak dapat dua tablet vitamin, itu saja," ungkap Niko.

Melihat situasi yang kian mengkhawatirkan, warga mendesak pemerintah daerah maupun pusat untuk segera turun ke lapangan mendistribusikan bantuan logistik darurat berupa tenda layak, selimut, perlengkapan tidur, serta pasokan obat-obatan dan suplemen gizi. (dam)

Editor : Damianus Bram
gempa ntt bantuan pemerintah desa latung pengungsi bencana