Dari Sekaten hingga Maudu Lompoa, Ini Lima Tradisi Maulid Nabi di Indonesia

Adi Pras • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 17:10 WIB
Ilustrasi tradisi Maulid Nabi di berbagai daerah Indonesia, dengan Sekaten, Panjang Mulud, Baayun Maulid, Endhog-endhogan, dan Maudu Lompoa. (AI Generated)
Ilustrasi tradisi Maulid Nabi di berbagai daerah Indonesia, dengan Sekaten, Panjang Mulud, Baayun Maulid, Endhog-endhogan, dan Maudu Lompoa. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM Setiap daerah memiliki cara sendiri dalam menyambut Maulid Nabi. Peringatan yang jatuh pada bulan Rabiulawal itu tidak hanya diisi pengajian atau pembacaan salawat, tetapi juga hadir dalam berbagai tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat.

Ada yang berlangsung di lingkungan keraton. Ada pula yang digelar bersama warga di kampung, lengkap dengan makanan, hiasan, hingga arak-arakan.

Berikut lima tradisi Maulid Nabi yang dikenal di berbagai daerah Indonesia.

1. Sekaten di Surakarta dan Jogjakarta

Bagi masyarakat Solo, Sekaten sudah menjadi bagian dari tradisi budaya yang lekat dengan peringatan Maulid Nabi. Tradisi serupa juga hidup di Jogjakarta, sehingga Sekaten tidak hanya identik dengan satu kota.

Baca Juga: Dikenal dengan Nama Berbeda, 5 Kuliner Ini Punya Banyak Sebutan di Berbagai Daerah

Di Surakarta, Sekaten tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Tradisi tersebut masuk dalam domain adat istiadat, ritus, dan perayaan masyarakat serta berkaitan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Di Jogjakarta, gamelan pusaka menjadi salah satu bagian yang paling mudah dikenali. Gamelan dibunyikan sebagai penanda dimulainya rangkaian Sekaten, kemudian dipindahkan ke halaman Masjid Gedhe untuk dimainkan selama perayaan. 

Rangkaian tersebut juga diisi pembacaan riwayat Maulid Nabi. Puncaknya ditandai dengan keluarnya gunungan dari keraton menuju Masjid Gedhe.

Baca Juga: Jimi Multhazam Lepas Debut Album Solo “Mollydenvm”, Eksplorasi Musik Tanpa Batas

Karena itu, Sekaten di Solo dan Jogjakarta tidak sekadar menghadirkan keramaian tahunan. Tradisi tersebut mempertemukan lingkungan keraton, gamelan pusaka, masjid, dan rangkaian peringatan Maulid dalam satu perayaan.

2. Panjang Mulud di Banten

Di Banten, salah satu tradisi yang muncul ketika Maulid tiba adalah Panjang Mulud. Namanya merujuk pada panjang, yakni wadah atau bentuk hias yang disiapkan masyarakat untuk membawa berbagai sajian dalam perayaan.

Bentuknya tidak terpaku pada satu rupa. Warga dapat membuat dan menghias panjang sesuai kreativitas masing-masing, kemudian membawanya dalam rangkaian kegiatan Maulid.

Baca Juga: Muncul Fun Tubing Banyubiru, Susuri Sungai Sambil Nikmati Pemandangan Alam

Tradisi ini juga memiliki jejak yang cukup kuat dalam khazanah budaya Banten. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten bahkan mencatat Panjang Mulud dalam koleksi kajian budaya yang membahas tradisi tersebut dalam Sajarah Banten.

Panjang Mulud bukan hanya soal membuat hiasan. Makanan yang telah disiapkan menjadi bagian dari perayaan dan dapat dibagikan setelah rangkaian kegiatan selesai.

Tradisi tersebut juga masih mendapat ruang dalam agenda kebudayaan Banten. Pemerintah Provinsi Banten pada 2026 menyebut rencana Festival Panjang Mulud sebagai salah satu upaya melestarikan tradisi keagamaan dan budaya Islam di daerah tersebut.

Baca Juga: Inilah Stasiun yang Jadi Salah Satu Pusat Transportasi di Brisbane

3. Baayun Maulid di Kalimantan Selatan

Kalau di Jawa ada gamelan Sekaten, masyarakat Banjar memiliki ayunan sebagai bagian dari perayaan Maulid. Tradisi itu dikenal dengan nama Baayun Maulid dan dikenal luas di Kalimantan Selatan.

Dalam pelaksanaannya, bayi atau anak ditempatkan di dalam ayunan sambil diiringi pembacaan syair Maulid. Tradisi ini menjadi bagian dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiulawal.

Ayunannya pun disiapkan secara khusus. Kain tapih bahalai digunakan sebagai bahan utama, kemudian dihias dengan kain khas Banjar, janur, serta berbagai perlengkapan lain.

Baca Juga: Tembus Triliunan Rupiah! Ini 5 Pemain Termahal di Bursa Transfer Eropa Musim 2026/2027

Menariknya, Baayun Maulid tidak selalu berlangsung dalam skala keluarga. Di Banjarmasin, misalnya, kegiatan ini pernah digelar secara massal dengan ratusan ayunan yang digunakan bergantian oleh para peserta.

Tradisi serupa juga masih ditemukan di daerah lain di Kalimantan Selatan. Pada 2026, Dinas Pariwisata Kalsel masih mencatat prosesi Baayun Maulid sebagai bagian dari peringatan Maulid di Masjid Al-Mukarramah, Banua Halat, Kabupaten Tapin.

4. Endhog-endhogan di Banyuwangi

Di Banyuwangi, telur menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suasana Maulid. Warga menghias telur rebus dengan bunga kertas, kemudian menancapkannya pada jodhang atau pohon pisang berhias sebelum diarak. Tradisi tersebut dikenal sebagai Endhog-endhogan.

Pemandangan selama pawai pun cukup khas. Jodhang dengan telur berwarna-warni dibawa berkeliling kampung, diiringi rebana dan lantunan selawat. Pembacaan Barzanji, zikir, dan doa juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Baca Juga: Konflik Keraton Solo Memanas! Kubu PB XIV Purboyo Laporkan LDA ke Polresta Solo

Selain telur hias, warga membawa ancak, wadah berisi nasi dan lauk. Setelah pawai dan rangkaian acara selesai, makanan tersebut dapat dinikmati bersama.

Tradisi ini masih berlangsung di berbagai wilayah Banyuwangi. Pada pelaksanaan Endhog-endhogan di Desa Kembiritan pada 2025, misalnya, lebih dari 1.000 peserta mengikuti pawai dengan ratusan kreasi jodhang dari sejumlah dusun.

Jadi, yang terlihat dalam Endhog-endhogan bukan hanya telur-telur yang diarak. Ada warga yang membuat hiasan, menyiapkan makanan, mengikuti pawai, hingga berkumpul setelah acara selesai.

5. Maudu Lompoa di Cikoang, Takalar

Di Cikoang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, peringatan Maulid Nabi memiliki nama sendiri: Maudu Lompoa. Dalam bahasa Makassar, maudu merujuk pada Maulid, sedangkan lompoa berarti besar.

Baca Juga: Di Balik “Laut Bercerita”, Dua Fotografer Senior Bantu Hidupkan Suasana 1998

Perayaannya dikenal berlangsung dalam skala besar dan diisi berbagai rangkaian ritual masyarakat Cikoang. Tradisi tersebut juga tercatat sebagai karya budaya Sulawesi Selatan yang masih bertahan.

Salah satu bagian yang paling mencolok adalah julung-julung. Bentuknya berupa perahu yang dihias dan menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan Maudu Lompoa.

Perahu tersebut tidak dibiarkan kosong. Berbagai sajian dan perlengkapan disiapkan masyarakat untuk ditempatkan di dalamnya sebelum prosesi berlangsung. Maudu Lompoa sendiri tercatat sebagai salah satu daya tarik budaya Kabupaten Takalar.

Baca Juga: Patah Hati, Lalu Lari: Ketika Olahraga Jadi Cara Mengalihkan Diri

Persiapan seperti itu membuat perayaan tidak hanya berlangsung pada hari puncak. Warga perlu menyiapkan perlengkapan dan sajian terlebih dahulu sebelum mengikuti rangkaian Maudu Lompoa.

Perayaan tersebut tumbuh mengikuti kebiasaan masyarakat di masing-masing daerah. Karena itu, ketika bulan Rabiulawal tiba, Maulid Nabi tidak hanya terdengar melalui lantunan selawat, tetapi juga terlihat lewat tradisi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. (Rahma Azra Calista)

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
Rahma Azra Calista Maulid Nabi budaya tradisi indonesia