Ganjar Rayakan 17 Agustus Bersama Pengungsi, Sirene Gempa Susulan Bikin Suasana Tegang

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:10 WIB
Ganjar Pranowo. (Instagram/ganjar_pranowo)
Ganjar Pranowo. (Instagram/@ganjar_pranowo)

SOLOBALAPAN.COM - Hari Kemerdekaan biasanya identik dengan upacara, perlombaan, dan berbagai perayaan.

Namun, bagi warga yang menjadi korban gempa Flores, 17 Agustus tahun ini dilewati dengan suasana yang jauh berbeda.

Mereka masih berada di pengungsian dan belum sepenuhnya lepas dari rasa takut setelah gempa mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga: Dua Pemain Asing Persija Jakarta Masih Diterpa Badai Cedera Jelang Kick-off Super League 2026/2027

Ganjar Pranowo memilih berada di tengah mereka pada Hari Kemerdekaan.

Ganjar tiba di Flores pada Minggu (16/8/2026).

Pada hari pertamanya, ia tidak langsung berfokus pada perayaan HUT RI, tetapi berkeliling melihat sejumlah wilayah yang terdampak gempa.

Ia mendatangi lokasi-lokasi yang mengalami kerusakan dan berbincang dengan warga untuk melihat langsung kondisi setelah bencana. 

Keesokan harinya, Ganjar kembali menemui para pengungsi.

Salah satu lokasi yang didatanginya adalah Klinik Pratama Panti Nirmala di Karot, Ruteng, Manggarai.

Di sana, ia menyapa warga yang sedang menjalani perawatan, termasuk seorang ibu yang baru saja melahirkan.

Ganjar juga membagikan mainan kepada anak-anak yang berada di lokasi tersebut.

Baca Juga: Viral Video Pengemudi Alphard Hancurkan Motor Ojol Pakai Batu di Bintaro, Tak Terima Spion Tersenggol

Ketika melihat anak-anak yang tidak bisa mengikuti upacara seperti biasanya karena kondisi gempa, Ganjar kemudian mengajak para pengungsi, relawan, dan tenaga kesehatan untuk tetap merasakan suasana 17 Agustus.

Bapak ibu, hari ini pas 17 Agustus. Sekarang kita bersama-sama nyanyi lagu Indonesia Raya,” ucap Ganjar.

Lagu Indonesia Raya kemudian dinyanyikan bersama.

Tidak ada lapangan upacara yang dipenuhi peserta atau rangkaian seremoni seperti biasanya. Mereka menyanyikannya di tengah tempat pengungsian, dengan kondisi yang masih jauh dari normal. 

Namun, momen yang lebih menegangkan terjadi ketika Ganjar melanjutkan kunjungannya ke tenda pengungsian di Kampung Waso, Manggarai Timur.

Baca Juga: Kondisi Putrinya Sempat Drop, Ibu di Karo Tuntut Transparansi Medis ke Kepala BGN: Apa Racun yang Dimakan Anak Saya?

Saat sedang berbincang dengan warga di dalam tenda, tiba-tiba terdengar suara sirene yang menjadi tanda adanya gempa susulan.

Suasana yang sebelumnya diisi percakapan berubah menjadi tegang. Warga yang masih menyimpan trauma akibat gempa sebelumnya kembali diliputi rasa cemas.

Ganjar pun ikut berada di tengah situasi tersebut.

Alih-alih meninggalkan warga begitu saja, mereka kemudian berdoa bersama di tengah suasana yang penuh kekhawatiran.

Momen tersebut juga terekam dan dibagikan melalui media sosial, memperlihatkan Ganjar berada bersama warga ketika gempa susulan terjadi. 

Dua momen itu seperti memperlihatkan dua sisi Hari Kemerdekaan warga Flores tahun ini.

Di satu tempat, mereka masih berusaha merayakan 17 Agustus dengan menyanyikan Indonesia Raya bersama-sama.

Di tempat lain, mereka masih harus bersiap menghadapi kemungkinan gempa berikutnya.

Baca Juga:    Pin Biru Teddy di HUT Ke-81 Kemerdekaan RI Banjir Pertanyaan Warganet, Emang Boleh Ubah Warna Logo Resmi?

Bagi warga yang rumahnya rusak dan masih tinggal di tenda, kemerdekaan kali ini tentu tidak bisa dirasakan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ada rasa syukur karena masih bisa berkumpul, tetapi ada pula kecemasan yang belum benar-benar hilang.

Kehadiran Ganjar di tengah mereka pun berlangsung dalam suasana yang sangat berbeda. Sehari sebelumnya ia sudah melihat sendiri kerusakan di sejumlah wilayah terdampak.

Pada 17 Agustus, ia kembali menemui pengungsi, ikut menyanyikan Indonesia Raya bersama mereka, lalu berada di tenda ketika sirene gempa susulan terdengar.

Di tengah perayaan kemerdekaan, mereka masih harus berhadapan dengan rasa takut.

Dan ketika sirene berbunyi, yang kemudian dilakukan bukan lagi bernyanyi atau berbincang, melainkan menenangkan diri dan berdoa bersama. (rastri rafiarum)

Editor : Ferry Ardi Susanto
gempa ntt 17 agustus hari kemerdekaan ganjar pranowo