SOLOBALAPAN.COM – Matahari baru saja terbit pada Sabtu (15/8) pagi sekitar pukul 05.58 WITA. Saat Nikolaus Tolen (38) dan keluarga kecilnya baru terbangun dari tidur, bumi mendadak bergetar begitu dahsyat.
Dalam hitungan kurang dari satu menit, tubuh mereka terombang-ambing akibat guncangan lempeng bumi. Suara dentuman keras terdengar dari berbagai sudut rumah saat material tembok mulai retak dan ambrol berjatuhan.
“Gempa..gempa..gempa…!” teriak Nikolaus panik.
Meski dilanda kepanikan luar biasa, pria yang akrab disapa Niko ini tidak tinggal diam. Ia secepat kilat berlari keluar rumah sembari menggendong Inka (7), anak pertamanya.
Langkah sigap itu diikuti oleh sang istri, Endak (32), yang langsung menggandeng Davin (2), anak bungsu mereka. Mereka berpacu dengan waktu menuju tempat terbuka sebelum bangunan rumah roboh total.
Beruntung, seluruh anggota keluarga selamat tanpa luka sedikit pun, meski kondisi rumah mereka rusak parah dihantam gempa.
Niko tinggal di Desa Latung, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Wilayahnya berjarak sekitar 115 hingga 120 kilometer ke arah barat dari pusat gempa bermagnitudo (M) 7,7 yang berpusat di laut timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo (8,41° LS dan 121,39° BT).
Meski tidak berada tepat di titik pusat gempa, Desa Latung menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup parah. Bencana ini telah menelan puluhan korban jiwa dan melukai ratusan warga di NTT.
“Keluarga aman cuma rumah hancur. Tembok beberapa retak dan ambrol,” cerita Niko, Selasa (17/8) sore.
Bertahan Hidup di Bawah Tenda Terpal
Kondisi bangunan yang rawan roboh memaksa Niko dan keluarganya mendirikan tenda darurat beratap terpal di belakang rumah mereka untuk berlindung pada siang hari.
“Kalau siang panasnya luar biasa, tapi gimana lagi daripada di rumah bahaya,” jelasnya.
Sementara pada malam hari, Niko memilih mengungsi ke tenda pengungsian swadaya di lapangan desa bersama warga lainnya. Langkah ini diambil lantaran guncangan gempa susulan masih terus terjadi hampit setiap hari.
“Tiap hari ada gempa susulan, jadi kami tetap tidur di luar rumah agar aman,” ungkap Niko yang merupakan mantan jurnalis di salah satu portal berita nasional tersebut.
Terisolir, 3 Hari Mati Lampu dan Jaringan Terputus
Guncangan gempa besar tersebut memutus aliran listrik di Desa Latung setelah banyak tiang pancang yang tumbang dan rusak. Akibatnya, ratusan warga harus melewati malam dalam kondisi gelap gulita dan dingin.
Tak hanya itu, jaringan pemancar seluler turut lumpuh total sehingga warga terisolasi dari informasi luar.
“Komunikasi langsung terputus pasca-gempa besar karena enggak ada sinyal. Jadi enggak bisa kontak keluarga yang jauh sama sekali,” terang Niko.
Kondisi tersebut mulai membaik pada hari ketiga pasca-gempa, setelah jaringan listrik dan internet perlahan kembali pulih.
“Tadi sore baru nyala listrik, internet juga sudah hidup,” tutur ayah dua anak ini.
3 Hari Belum Dapat Bantuan Pemerintah
Akses jalan menuju Desa Latung sempat terisolir selama dua hari akibat tertutup material batu-batu besar yang longsor dari perbukitan.
Warga akhirnya bergotong royong membersihkan jalan secara swadaya hingga kini bisa dilalui kendaraan kembali.
Namun sayangnya, hingga hari ketiga pasca-bencana, belum ada satupun bantuan logistik maupun penanganan resmi yang tersalurkan dari pemerintah daerah maupun pusat.
“Belum ada sama sekali. Pemerintah desa hanya foto-foto rumah saja,” ucap Niko.
Pria yang kini berprofesi sebagai peternak tersebut sangat berharap pemerintah segera turun tangan memberikan bantuan nyata, terutama dalam proses rekonstruksi hunian warga yang hancur.
“Kalau malam dingin tidur di tenda. Semoga segera ada bantuan untuk membangun rumah kembali,” pungkasnya. (dam)
Editor : Damianus BramSumber : jawapos.com