SOLOBALAPAN, CILEGON — Perbincangan hangat mengenai penentuan kelompok Desil 10 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terus bergulir luas di media sosial.
Hal ini terjadi setelah tidak sedikit warganet dengan kondisi ekonomi biasa dan berpenghasilan pas-pasan terkejut lantaran mendapati status kesejahteraannya masuk dalam kelompok Desil 10.
Posisi tersebut menempatkan mereka berada di tingkat pemeringkatan relatif yang sama dengan jajaran figur publik kaya raya serta konglomerat Tanah Air, seperti Raffi Ahmad hingga deretan "9 Naga".
Indikator Rumah Tangga dan Sistem Pemeringkatan Relatif
Menanggapi kehebohan serta kekhawatiran warganet mengenai potensi kesalahan pendataan, BPS melalui akun Threads resmi BPS Cilegon memberikan penafsiran serta penjelasan komprehensif pada Kamis (13/8/2026).
Baca Juga: Cara Cek Desil di Situs Cek Bansos Kemensos, Wajib Tahu Sebelum Aturan Pembatasan Pertalite Berlaku!
Pihaknya menegaskan bahwa mekanisme desil tidak bisa serta-merta dijadikan label tunggal kekayaan seseorang berdasarkan angka nominal gaji atau penghasilan semata.
Sistem desil dirancang sebagai instrumen pemeringkatan relatif berbasis unit rumah tangga (keluarga), bukan individu. Karena sifatnya yang relatif, tidak ada standar nilai batas (cut-off) nominal gaji tertentu yang secara otomatis memasukkan seseorang ke dalam Desil 10.
Klarifikasi BPS Cilegon di Threads: "Banyak yang ngeluh kenapa masuk desil 10 padahal masyarakat dengan kondisi ekonomi biasa-biasa aja? Kenapa bisa satu level sama Raffi Ahmad dan Para 9 naga?...
Di desil yg sama, ada konglomerat dan ultra-rich dgn penghasilan miliaran hingga triliunan rupiah per bulan. Tapi, ada juga keluarga dgn penghasilan jutaan per bulan. Kelas menengah dan konglomerat berada dalam satu kotak bernama desil 10, padahal daya beli mereka bagai langit dan bumi," tulis penjelasan resmi BPS Cilegon.
Faktor Multi-Indikator Penentu Kesejahteraan
BPS menjelaskan bahwa penentuan peringkat kesejahteraan keluarga dihitung secara objektif menggunakan beragam variabel indikator sosial ekonomi terpadu. Beberapa faktor utama yang dihitung dalam DTSEN meliputi:
-
Kondisi Tempat Tinggal: Kualitas fisik bangunan, luas lantai, serta kelengkapan fasilitas sanitasi dan penerangan dasar.
-
Kepemilikan Aset & Barang: Pemilikan sarana transportasi, barang elektronik, serta aset produktif maupun tidak bergerak.
-
Karakteristik Demografi & Pendidikan: Jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan tertinggi, serta beban tanggungan rumah tangga.
-
Ketenagakerjaan & Usaha: Lapangan pekerjaan anggota keluarga, status pekerjaan, serta kepemilikan bidang usaha mandiri.
-
Akses Layanan Publik: Keterjangkauan fasilitas kesehatan serta perlindungan sosial.
Oleh karena itu, dalam kelompok Desil 10 berkumpul rentang populasi masyarakat yang sangat lebar, mulai dari masyarakat kelas menengah berpenghasilan jutaan rupiah per bulan hingga kelompok ultra-rich berpenghasilan miliaran hingga triliunan rupiah.
Tabel Pemetaan Penjelasan BPS Soal Sistem Desil 10
Guna memberikan pemetaan informasi mengenai rincian indikator, konsep dasar desil, serta klarifikasi BPS secara rapi, terstruktur, dan mudah dipahami, berikut adalah rangkuman datanya:
| Parameter Informasi | Detail Fakta & Penjelasan BPS |
| Sistem Basis Data | DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional) |
| Unit Analisis | Rumah Tangga / Keluarga (Bukan individu) |
| Isu Publik | Masyarakat biasa/gaji pas-pasan masuk Desil 10 selevel Raffi Ahmad |
| Prinsip Pemeringkatan | Pemeringkatan relatif (Pengurutan 10 kelompok tingkat kesejahteraan) |
| Batas Nominal Gaji | Tidak Ada (Bukan sekadar ukuran nilai pendapatan rupiah) |
| Indikator Penentu | Bangunan rumah, kepemilikan aset, pendidikan, pekerjaan, & akses kesehatan |
| Rentang Desil 10 | Mencakup kelas menengah (jutaan/bulan) hingga ultra-rich (miliaran/bulan) |
Melalui klarifikasi ini, BPS mengimbau masyarakat agar memahami bahwa keberadaan di kelompok Desil 10 merupakan hasil kalkulasi komposit indikator kesejahteraan keluarga, sehingga masuknya kelas menengah ke dalam kelompok tersebut bukanlah sebuah kekeliruan data melainkan konsekuensi dari struktur pemeringkatan relatif 10 kelompok dalam populasi nasional.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo