SOLOBALAPAN.COM – Aksi meresahkan kembali terjadi di ruang publik. Sebuah potongan video yang memperlihatkan seorang pria mengacungkan benda diduga menyerupai senjata api (senpi) di tepi Jalan Raya RE Martadinata, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, mendadak tular (viral) di media sosial.
Peristiwa yang memicu ketakutan warga serta para pengguna jalan yang melintas tersebut diketahui berlangsung pada Senin (10/8/2026).
Merespons keresahan publik, Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Boy Jumalolo, membenarkan bahwasanya jajaran kepolisian telah mengantongi rekaman video viral tersebut dan tengah bergerak di lapangan.
"Ya, memang benar di media sosial beredar video seorang pria membawa benda yang diduga senjata api di pinggir jalan kawasan Ciputat," ujar AKBP Boy Jumalolo kepada awak media, Rabu (12/8/2026).
Boy menyampaikan bahwa jajaran Polres Tangerang Selatan bersama Polsek setempat telah melakukan pengecekan tempat kejadian perkara (TKP) serta memproses verifikasi saksi-saksi.
Polisi Masih Identifikasi Keaslian Senjata
Guna menghindari simpang siur informasi, pihak kepolisian kini tengah mendalami identitas pria dalam video tersebut sekaligus menguji jenis benda yang digunakannya.
Polisi belum dapat menyimpulkan apakah benda pistol tersebut merupakan senjata api organik, airsoft gun, atau sekadar senjata mainan.
"Saat ini proses penyelidikan masih berjalan. Senjata yang dipegang oleh orang dalam video tersebut masih kami identifikasi, apakah itu senjata api sungguhan atau hanya senjata mainan," terang Boy.
Ia berjanji akan menyampaikan temuan fakta serta kronologi utuh kasus ini begitu tim penyidik berhasil mengamankan terduga pelaku.
Imbau Masyarakat Bijak Bermedia Sosial
Di sisi lain, Kapolres Tangsel mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak cepat berspekulasi atau menyebarkan konten yang belum terverifikasi kebenarannya, guna mencegah kepanikan liar di tengah warga.
"Kami mengimbau masyarakat agar selalu bijak dalam menggunakan media sosial. Perhatikan betul kebenaran informasinya agar tidak menimbulkan persepsi atau asumsi yang salah di tengah-tengah publik," pungkasnya. (dam)
Editor : Damianus Bram