SOLOBALAPAN, NASIONAL — Di tengah duka mendalam atas gugurnya lima peserta Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih (KDKMP/KNMP), jagat maya kembali dikejutkan oleh pengakuan sepihak dari salah satu netizen.
Seorang pemilik akun media sosial Threads blak-blakan membongkar pengalaman pahitnya selama berada di dalam barak pelatihan.
Akun bernama @chameleon.9670486 tersebut mengaku sebagai salah satu peserta yang terpaksa mengambil keputusan untuk mundur di tengah jalan akibat kondisi kesehatannya yang terus menurun.
Jadwal Ekstrem 6 Jam PBB dan Kelangkaan Air Minum
Melalui unggahan panjang yang dibagikan pada Minggu (28/6/2026), netizen tersebut mengawali takarirnya dengan menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam kepada lima sejawatnya yang meninggal dunia.
Baca Juga: Daftar 5 Calon Manajer KDMP/KNMP yang Meninggal dalam Latsarmil Kopdes Merah Putih, Ini Penyebabnya
Ia kemudian menceritakan bahwa kenyataan di medan latihan sangat jauh dari ekspetasi awalnya yang mengira diklat tidak akan berjalan seketat itu.
Salah satu poin krusial yang paling disorot adalah durasi istirahat yang teramat minim serta porsi latihan fisik di lapangan yang sangat menguras stamina.
Tak hanya itu, ia mengklaim adanya krisis pasokan air bersih untuk konsumsi para peserta pada hari-hari awal karantina.
"Jadwal harian bener-bener padet banget. Tidur 3-4 jam. PBB (Pasukan Baris Berbaris) 6 jam di lapangan. Di tempat gua latsarmil, di 5 hari pertama kita kekurangan air minum. Satu hari kita cuma dapet jatah 1 sampai 1,5 liter.
Itu pun 1,5 liter peserta beli, bukan pembagian. Setelah 2 hari kekurangan minum, baru dari pihak penyelenggara kasih air galon," bebernya dalam unggahan Threads tersebut.
Tabel Rangkuman Keluhan Kelayakan Fasilitas Latsarmil KDKMP
Guna memetakan berbagai poin kesaksian yang diungkapkan oleh akun diduga eks peserta tersebut secara scannable, berikut adalah tabel klasifikasi keluhannya:
| Aspek Fasilitas & Kegiatan | Kondisi yang Dialami di Lapangan (Klaim Peserta) | Dampak & Penanganan Lanjutan |
| Waktu Istirahat | Peserta hanya mendapatkan waktu tidur selama 3 hingga 4 jam per hari. | Memicu kelelahan fisik massal di barak. |
| Porsi Latihan Fisik | Menjalani latihan PBB di lapangan terbuka selama sekira 6 jam sehari. | Kondisi fisik terus dipaksa beraktivitas berat. |
| Sistem Logistik Air | Jatah air hanya 1-1,5 liter/hari; di awal bahkan harus membeli mandiri. | Penyelenggara baru menyediakan air galon setelah berhari-hari. |
| Pelayanan Obat-obatan | Mengeluhkan penyakit kambuh, namun ketersediaan obat esensial kosong. | Keluhan awal sempat dinilai hanya sebatas kecapekan. |
| Respons Kedaruratan | Rekan satu barak mengalami hipotermia parah hingga badan kaku. | Korban sempat diminta kembali ke barak sebelum dievakuasi. |
Keluhan Penyakit Dianggap 'Hanya Kecapekan' dan Krisis Obat
Sebagai individu yang memiliki riwayat penyakit bawaan, akun tersebut mengklaim telah mengisi data rekam medis secara jujur saat proses penapisan kesehatan awal.
Ia pun tetap memaksakan diri mengikuti instruksi pelatih dengan catatan harus segera mengangkat tangan atau memisahkan diri jika fisiknya sudah melampaui batas toleransi.
Namun, kendala besar justru ia temukan saat mendatangi ruang kesehatan dinas.
Alih-alih mendapatkan pemeriksaan menyeluruh atau suplai obat-obatan yang linier dengan penyakit bawaannya, keluhan yang ia sampaikan justru sempat dikesampingkan oleh oknum petugas kesehatan di lokasi.
-
Pernyataan Ambigu Petugas: Korban mengaku sempat berada di kondisi tidak bisa berbicara dengan normal, namun oknum medis hanya menyebutnya kelelahan biasa dan tidak memberikan obat.
-
Ketiadaan Stok Obat: Saat penyakitnya terindikasi kuat kambuh untuk kedua kalinya, ia meminta obat spesifik namun pihak medis menyatakan stok obat tersebut sedang kosong. Walhasil, keesokan harinya ia dilaporkan langsung pingsan tak sadarkan diri di lokasi latihan.
Di akhir curhatannya, akun tersebut menggarisbawahi bahwa tujuannya menulis utas tersebut bukan untuk mendiskreditkan institusi atau badan hukum tertentu.
Ia mengakui kehidupan barak selama sepekan sebenarnya masih bisa dinikmati dengan baik, dengan catatan seluruh peserta berada dalam kondisi fisik yang prima serta didukung oleh sistem logistik medis yang memadai.
(lut)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo