Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Presiden Prabowo Pangkas 750 BUMN Jadi 250 Perusahaan, Bagaimana Nasib Ribuan Karyawannya?

Didi Agung Eko Purnomo • Senin, 29 Juni 2026 | 17:42 WIB
Presiden Prabowo menegaskan Program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan untuk atasi stunting dan dorong ekonomi rakyat. (YT Presiden Prabowo)
Presiden Prabowo. (YT Presiden Prabowo)

SOLOBALAPAN, NASIONAL — Langkah revolusioner diambil oleh Presiden Prabowo Subianto dalam menata ulang ekosistem Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Kepala Negara menegaskan komitmennya untuk memangkas jumlah perusahaan pelat merah secara drastis, dari yang semula berjumlah lebih dari 1.000 perusahaan menjadi hanya sekitar 250 hingga 300 perusahaan saja dalam kurun waktu dua tahun.

Kebijakan restrukturisasi makro ini langsung memicu pertanyaan besar di benak publik: bagaimana nasib ribuan karyawan yang perusahaannya terdampak oleh agenda penciutan massal ini?

Alasan Efisiensi dan Penutupan Operasional Korporasi Korup

Dalam penutupan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) pada Minggu (28/6/2026), Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa proses streamlining (perampingan) ini sudah berjalan, di mana pemerintah telah resmi menutup lebih dari 200 BUMN.

Baca Juga: Ditunjuk Prabowo Jadi Kepala BGN Baru Gantikan Dadan Hindayana, Nanik S. Deyang Ternyata Rangkap Jabatan di Pertamina?

Penciutan ini dinilai mendesak karena struktur BUMN saat ini dinilai terlalu gemuk dan tidak produktif.

 Berdasarkan data evaluasi internal, sebanyak 52 persen BUMN masih mengalami kerugian dengan total kehilangan dana negara menembus Rp20 triliun.

Banyak perusahaan negara didirikan bukan untuk mencetak profit, melainkan hanya menghabiskan anggaran rakyat untuk membiayai pengeluaran operasional (overhead) manajemen.

Tabel Analisis Data Finansial dan Target Konsolidasi BUMN

Guna memberikan gambaran yang komprehensif mengenai peta pemangkasan dan perbandingan beban biaya operasional BUMN, berikut adalah rincian datanya:

Indikator Restrukturisasi Kondisi Awal / Eksisting Target Akhir Konsolidasi (2026) Dampak Finansial & Rasionalisasi
Jumlah Total BUMN 1.077 Perusahaan 250 – 300 Perusahaan Lebih dari 750 anak/cucu perusahaan pelat merah resmi ditutup.
Rasio Kerugian Korporasi 52% BUMN Merugi Ditargetkan 100% Sehat Menghentikan kebocoran anggaran overhead yang tidak produktif.
Total Akumulasi Kerugian Rp20 Triliun Rp0 (Efisiensi Bersih) Menghapus transaksi berlapis antar-induk dan anak usaha.
Biaya Tenaga Kerja (Tahunan) Rp2 – Rp3 Triliun Tetap Dipertahankan Anggaran gaji karyawan relatif kecil dibanding proyeksi hemat.
Potensi Penghematan Netto Rp0 Rp47 – Rp50 Triliun Keuntungan bersih negara yang berhasil diselamatkan setiap tahun.

Jaminan Keamanan Kerja: Danantara Garansi 'Nol PHK'

Meskipun ratusan anak dan cucu perusahaan BUMN akan dilikuidasi, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, memastikan bahwa kebijakan ekstrem ini tidak akan diikuti oleh gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap para pegawai bawah.

Seluruh tenaga kerja akan diselamatkan secara penuh dan dialihkan secara administratif ke dalam barisan perusahaan baru hasil konsolidasi (merger).

Manajemen menekankan bahwa kerugian perusahaan murni kesalahan tata kelola struktural atas, bukan kelalaian para pekerja di lapangan.

"Seluruh karyawan tidak akan ada yang kita kurangi. Mereka akan menjadi bagian dari perusahaan-perusahaan hasil konsolidasi. Kita tidak mau juga menzalimi karyawan karena itu bukan salah mereka. Kami hitung, biaya tenaga kerja setahun cuma Rp2 sampai Rp3 triliun. Kalau begitu saya ambil saja semua karyawannya, saya masih hemat Rp47 triliun," tegas Dony Oskaria.

Proyeksi Penghematan Jumbo dan Cetak Biru Pertamina

Danantara mengalkulasi bahwa program penyatuan payung hukum BUMN ini berpotensi menghasilkan penghematan langsung (direct saving) hingga Rp50 triliun per tahun.

Dana segar ini diperoleh dari pemangkasan birokrasi dan penghapusan transaksi komersial berlapis yang selama ini terjadi antara perusahaan induk (holding), anak usaha, hingga cicit perusahaan di bawahnya yang memicu inefisiensi sistemik.

Cetak biru keberhasilan konsolidasi ini berkaca pada penggabungan sejumlah subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) yang sebelumnya telah sukses menekan pengeluaran logistik dan operasional sebesar 600 hingga 700 juta dolar AS.

Langkah sukses tersebut kini diadopsi secara masif ke klaster BUMN lainnya guna mewujudkan korporasi negara yang ramping, sehat, lincah, serta memberikan kontribusi optimal bagi roda perekonomian nasional.

(did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#prabowo #presiden #bumn