Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Terkuak Satu per Satu! Kronologi Lengkap Kasus Dokter Icha, Dugaan Intimidasi DPRD hingga Surat Wasiat yang Bikin Publik Tersentak

Laila Zakiya • Senin, 29 Juni 2026 | 15:11 WIB
Kematian dr. Icha di TTU jadi sorotan. (Radar Kudus)
Kematian dr. Icha di TTU jadi sorotan. (Radar Kudus)

 

SOLOBALAPAN.COM - Kasus meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha terus mengguncang publik.

Dokter muda yang bertugas di RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, meninggal dunia di rumah orang tuanya pada Jumat (26/6/2026), meninggalkan duka mendalam sekaligus banyak tanda tanya.

Peristiwa ini tak hanya menjadi kasus kematian biasa. Dugaan tekanan psikologis berat usai insiden di ruang IGD, keterlibatan oknum anggota DPRD TTU, hingga temuan surat di lokasi kejadian membuat kasus ini menjadi perhatian nasional.

Baca Juga: Dibanderol Rp19 Jutaan, Seberapa 'Musuh Pertamina' Honda BeAT 2026 yang Baru Meluncur?

Dugaan Intimidasi di IGD Jadi Awal Sorotan

Nama dokter Icha mulai ramai diperbincangkan setelah keluarga mengungkap dugaan intimidasi yang dialaminya saat menangani pasien korban gigitan ular di IGD RS Leona.

Paman korban, Fabianus Banase, menyebut situasi di ruang IGD malam itu sangat mencekam. Ia mengungkap tiga oknum anggota DPRD TTU diduga datang dalam kondisi tidak stabil.

"Mereka dalam keadaan mabuk saat masuk ke ruang UGD," beber Paman dr. Icha, Fabi Banase, Sabtu (27/6).

Menurut keterangan keluarga, insiden itu bermula saat dokter Icha menangani pasien sesuai prosedur medis.

Namun situasi berubah ketika beberapa orang yang mengaku anggota DPRD masuk ke ruang pelayanan dan mempertanyakan penanganan medis dengan nada tinggi.

Fabianus bahkan mengungkap salah satu ancaman verbal yang disebut diterima almarhumah.

"Salah satu di antara mereka berucap dengan nada tinggi, 'Kau akan bertemu saya di Komisi III'," tambah Fabi.

Tak hanya itu, keluarga juga menduga ada unsur provokasi yang memperkeruh suasana.

"Lalu dia langsung provokasi lagi, bahwa panggil wartawan. Begitu provokasi, masuklah anggota DPRD yang namanya Robertus Tubani. Langsung dia teriak 'kamu catat-catat nama saya, tanda saya. Saya ini anggota DPRD komisi tiga yang berurusan dengan dinas kesehatan'," bebernya.

Baca Juga: Beda Nasib Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, Eks Barca Kembali Pecahkan Rekor Fantastis di Piala Dunia 2026

Keluarga Ungkap Kondisi Psikologis Dokter Icha

Usai kejadian di rumah sakit, kondisi mental dokter Icha disebut menurun drastis. Ia mengalami trauma mendalam dan ketakutan untuk kembali bertugas.

Paman korban mengungkap pesan terakhir yang sangat memilukan.

"Dia (korban) bilang punya niat meninggal dunia untuk menghindari trauma. Bapa, saya stres. Kalau saya pulang ke sana (Kefamenanu), saya takut. Biar saya mati saja supaya jangan ada korban nakes yang lain," ujar Fabi menirukan isi pesan dr. Icha.

Keterangan ini diperkuat hasil pemeriksaan kejiwaan yang diterima keluarga. Dokter Icha disebut mengalami depresi berat.

Bahkan, rekan sejawatnya mengaku menjadi tempat curhat korban setelah insiden tersebut.

"Karena malam itu saat kejadian dibentak dan dimarahi, saya yang menjadi tempat konsultasi dr. Icha. Dia berkali-kali menelepon saya meminta tolong agar saya menjelaskan kepada keluarga dan DPR. Sampai sekarang saya masih menyimpan WhatsApp dr. Icha malam itu," ungkap dr. Tri.

Polisi Temukan Surat dan Sejumlah Barang Bukti

Penyelidikan polisi terus berjalan. Saat olah TKP di rumah orang tua korban di Baumata, aparat mengamankan sejumlah barang bukti penting.

Kapolres Kupang menjelaskan langkah awal yang dilakukan timnya.

"Begitu menerima laporan, personel kami langsung menuju lokasi untuk mengamankan TKP, melakukan olah tempat kejadian perkara, mengidentifikasi korban, mengumpulkan barang bukti, serta meminta keterangan awal dari para saksi. Semua langkah dilakukan secara profesional untuk memastikan setiap fakta di lapangan dapat terdokumentasi dengan baik," ujar Kapolres Kupang AKBP Rudy Junus Jacob Ledo, Minggu (28/6/2026).

Barang bukti yang diamankan antara lain tali nilon, ponsel, dokumen pribadi, serta sepucuk surat yang kini menjadi perhatian publik.

"Selain barang bukti itu, ada juga barang bukti lainnya berupa sepucuk surat," kata Helmi.

Keluarga juga membenarkan adanya surat yang diduga ditulis dokter Icha sebelum meninggal.

"Kami datang terlambat, karena kejadian tadi almarhumah sendiri dan ada temukan dua handphone dan satu surat."

"Semacam surat wasiat yang ia tulis dan surat itu ada di kepolisian," ujar Fabianus, Jumat (26/6/2026).

Baca Juga: PT Krakatau Posco BUMN atau Tidak? Siapa Pemiliknya? Raksasa Baja yang Gandeng Mantan Aspri Raffi Ahmad Jadi Komisaris

Dari pemeriksaan medis luar, polisi menemukan satu temuan penting.

"Hasil pemeriksaan luar menjadi bagian penting dalam proses penyelidikan. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi jenazah secara medis sebagai bahan pendukung penyidikan," kata Helmi.

Namun polisi menegaskan belum menyimpulkan hubungan langsung antara kematian dokter Icha dan dugaan intimidasi.

"Kami tetap melaksanakan penyelidikan secara komprehensif dengan mengumpulkan seluruh keterangan yang diperlukan. Kami mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi dan mempercayakan penanganan perkara ini kepada kepolisian," tegasnya.

DPRD TTU Mulai Buka Suara

Nama tiga anggota DPRD TTU ikut terseret dalam pusaran kasus ini. Salah satunya, Veronika Lake, akhirnya memberikan klarifikasi.

"Saya, Veronika Lake, dengan penuh kerendahan hati menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Dokter Icha. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta penghiburan," ujarnya, Minggu (29/6).

Ia membantah ucapan yang dilontarkannya ditujukan untuk menyerang pribadi dokter Icha.

"Terkait perkataan 'panggil wartawan saja', itu saya maksudkan sebagai usulan kepada salah satu rekan DPRD agar ada liputan eksternal dan investigatif terkait transparansi pelayanan kesehatan, evaluasi, dan perbaikan kualitas pelayanan. Jadi, tidak ditujukan kepada personal atau pribadi, tetapi sebagai bentuk dorongan untuk perbaikan pelayanan kesehatan di rumah sakit," sambungnya.

Sementara dua anggota DPRD lain juga membantah melakukan intimidasi.

“Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis. Informasi yang beredar tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya terjadi,” ujar Therensius.

“Kami akui nada bicara sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien. Tetapi sama sekali tidak ada niat mengintimidasi dokter ataupun tenaga kesehatan,” lanjutnya.

Baca Juga: Pecco Bagnaia DNF di MotoGP Belanda 2026, Ducati Bongkar Penyebabnya: Pulang Mendadak karena Kabar Besar dari Italia!

Kemenkes dan Pemda Turun Tangan

Kasus ini kini sudah menjadi perhatian pemerintah pusat. Kementerian Kesehatan menegaskan tidak akan tinggal diam.

"Kementerian Kesehatan menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya dr. Icha yang bertugas di RS Leona Kefamenanu, NTT. Dedikasi beliau dalam melayani masyarakat akan selalu menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya pengabdian tenaga kesehatan," tulis pernyataan Kemenkes di akun Instagram @kemenkes.id, Minggu (28/6).

"Terkait kabar dugaan intimidasi yang menimpa almarhumah, Kemenkes tidak akan tinggal diam. Saat ini, tim Kemenkes tengah bergerak untuk mengusut kasus ini secara transparan dan tuntas," sambung pernyataan itu.

Bupati TTU juga mengambil langkah tegas terhadap rumah sakit tempat dokter Icha bekerja.

"Kami hentikan dulu proses administrasi perpanjangan izin RS Leona. Selama kasus yang menimpa dr. Icha belum terang dan selesai, tidak ada perpanjangan izin yang akan kami terbitkan," tegas Yosep, Minggu (29/6).

Menurutnya, kasus ini menjadi alarm serius terhadap keamanan tenaga medis.

"Rumah sakit bukan tempat yang boleh membuat dokter merasa takut, tertekan, atau tidak aman. Jika sistem pengamanan dan dukungan kerja di dalamnya lemah, maka kami wajib mengevaluasi," katanya.

Baca Juga: Misteri Infus dan Tato di Kasus Penyekapan YTR Bandung, Ada Apa di Balik Kos Penyiksaan Taufik Hidayat?

Polisi Dalami Unsur Pidana

Saat ini polisi masih memeriksa sejumlah saksi dan berencana memanggil tiga anggota DPRD TTU.

"Hari ini proses pengambilan keterangan terhadap para saksi masih berlangsung. Penyidik terus bekerja mengumpulkan fakta-fakta untuk membuat terang peristiwa ini. Hasil pemeriksaan para saksi nantinya akan kami laporkan setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai," ujar AKBP Eliana Papote, Minggu (28/6).

Polisi juga menggandeng ahli pidana dan psikologi.

"Kami juga berkoordinasi dengan ahli pidana dan ahli psikologi guna mengkaji apakah dugaan intimidasi tersebut memenuhi unsur tindak pidana atau tidak. Semua dilakukan berdasarkan fakta dan ketentuan hukum yang berlaku," jelas Kapolres. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#dr. Icha #meninggal dunia #kronologi