Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

BBM Turun Juli 2026? Pertamax Bisa Anjlok Rp12 Ribuan, Tapi Ada Satu Faktor yang Bikin Publik Harus Tahan Napas

Laila Zakiya • Senin, 29 Juni 2026 | 14:56 WIB
Ilustrasi kenaikan harga BBM Diesel di SPBU Pertamina. (Radar Solo/Arief Budiman)
Ilustrasi kenaikan harga BBM Diesel di SPBU Pertamina. (Radar Solo/Arief Budiman)

 

SOLOBALAPAN.COM - Kabar soal kemungkinan turunnya harga BBM non-subsidi pada Juli 2026 mulai memantik perhatian publik.

Setelah sempat melonjak tinggi dalam beberapa bulan terakhir, harga minyak mentah dunia perlahan melandai, memunculkan harapan bahwa harga Pertamax dan jenis BBM non-subsidi lain juga ikut turun.

Namun, pertanyaannya: apakah penurunan ini benar-benar akan terjadi dalam waktu dekat, atau justru masih sebatas wacana?

Baca Juga: Nggak Cuma Honda Vario Evo 160, Motor Matic 'Sejuta Umat' Honda BeAT 2026 Juga Resmi Meluncur

Pertamina Buka Peluang Harga BBM Turun

Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga memberi sinyal bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi sangat mungkin dilakukan jika tren harga minyak global terus melemah.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Robert Dumatubun, menegaskan bahwa mekanisme harga BBM non-subsidi di Indonesia mengikuti dinamika harga minyak mentah internasional.

"Tentunya apabila harga minyak dunia seiring waktu menurun, maka potensi penurunan harga BBM non-subsidi seperti yang sudah terjadi, contohnya pada BBM non-subsidi jenis solar, dapat dilakukan," jelas Robert, Minggu (28/6/2026).

Meski begitu, Robert belum memberikan tanggal pasti kapan penurunan harga akan diumumkan.

"Kita semua berharap kondisi geopolitik dapat berangsur membaik sehingga menyebabkan harga minyak dunia kembali normal," katanya.

Artinya, peluang ada—tetapi kepastian belum.

Pertamax Bisa Turun Drastis, Bahkan ke Rp12.800?

Prediksi yang lebih mengejutkan datang dari praktisi migas Hadi Ismoyo.

Menurutnya, jika harga crude dunia kembali ke level normal sekitar US$70 per barel, maka harga BBM non-subsidi seperti Pertamax berpotensi turun signifikan.

"Sangat bisa kalau harga minyak (dunia) kembali ke angka normal. Harga BBM nonsubsidi berbanding lurus dengan harga crude internasional. Jika crude internasional naik, BBM seharusnya bisa naik, demikian sebaliknya," terang Hadi, Kamis (25/6).

Saat ini, harga keekonomian BBM masih tinggi karena rata-rata harga minyak selama Juni masih berada di level mahal.

Namun Hadi memperkirakan, bila tren pelemahan berlanjut, harga Pertamax bisa mendekati Rp12.800 per liter—jauh di bawah harga sekarang.

Tetapi ada catatan penting.

"Perlu diingat kenaikan itu harus monthly basis sesuai dengan patokan ICP yang dikeluarkan setiap bulan sekali," sambungnya.

Dengan kata lain, pemerintah tidak memakai harga harian sebagai acuan, melainkan rata-rata bulanan melalui Indonesian Crude Price (ICP).

Baca Juga: Dibanderol Rp19 Jutaan, Seberapa 'Musuh Pertamina' Honda BeAT 2026 yang Baru Meluncur?

Komut Pertamina Sudah Dorong Penurunan Mulai Awal Juli

Dorongan penurunan harga juga datang dari Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan atau Iwan Bule.

Ia meminta manajemen segera membahas penyesuaian harga BBM non-subsidi.

"Yang pasti kami dari jajaran dewan komisaris mendorong direksi manajemen untuk segera menyesuaikan dengan harga minyak yang di dunia sudah mulai turun," ujar Iwan, (26/6/2026).

Ia juga mengingatkan bahwa harga BBM saat ini masih mencerminkan kondisi ketika minyak dunia sempat berada di kisaran US$80 per barel.

Sementara itu, minyak WTI sempat turun hingga sekitar US$71 per barel.

Bahkan, Iriawan mengaku optimistis ada ruang penurunan.

"Jadi kira-kira kami akan mendorong jajaran direksi untuk melakukan itu (penyesuaian harga BBM nonsubsidi). Yang pastinya nanti akan berkomunikasi dengan kemudian ESDM untuk bisa menurunkan harga minyak nanti," ujar Iriawan.

Namun prosesnya tidak instan.

"Ada prosedurnya ya, karena minyak yang sekarang ini proses (dari) bulan yang lalu, dengan harga yang lalu. Nah tentunya kalau turunnya kemarin, berapa hari yang lalu, kita akan menyesuaikan nanti," kata Iriawan.

Dan yang paling ditunggu masyarakat:

"Turunnya berapa (rupiah), nanti kita lihat ke depan. Tapi insya Allah, doakan, mudah-mudahan bisa turun sesuai dengan harapan masyarakat," tambahnya.

Baca Juga: Masuk Radar PSSI: Orion Nettl Wonderkid Berdarah Inggris-Indonesia Bersinar di Belanda, Resmi Dikontrak NEC Nijmegen

Bahlil Belum Mau Janji

Di sisi pemerintah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia belum memberi lampu hijau penuh.

Ia memilih menahan ekspektasi publik.

"Kita lihat aja teman-teman media. Teman-teman juga harus fair dong. Pada saat harga minyak lagi naik, 2 bulan lebih hampir 3 bulan kan enggak kita naikkan. Masa baru naik 2 minggu atau 3 minggu ya? Teman-teman sudah tanya itu. Kenapa waktu kemarin kok tidak tanya, enggak diturunkan?" jawab Bahlil, Senin (29/6/2026).

Pernyataan ini menunjukkan pemerintah masih berhitung dan belum ingin terburu-buru mengambil keputusan.

Ada Satu Faktor yang Bisa Menggagalkan Semua

Inilah faktor terbesar yang membuat publik belum bisa terlalu berharap: geopolitik Timur Tengah.

Meski harga minyak sempat turun setelah meredanya tensi antara United States dan Iran, kondisi kembali memanas.

Ketegangan terbaru di Strait of Hormuz membuat pasar minyak kembali gelisah.

Analis ANZ bahkan memberi peringatan:

"Pasar kemungkinan akan mengevaluasi kembali asumsi mengenai pemulihan pasokan minyak dari Teluk Persia yang berlangsung cepat," tulis ANZ dalam catatan risetnya.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia. Gangguan kecil saja bisa langsung mendorong harga naik.

Baca Juga: Jorge Martin Gila! Cuma Finis P3 di MotoGP Belanda 2026, Tapi Malah Kudeta Puncak Klasemen

Jadi, BBM Turun atau Tidak?

Jawaban singkatnya: bisa turun, tapi belum pasti.

Semua bergantung pada tiga hal utama:

Jika harga crude bertahan di kisaran US$60–70 per barel, peluang harga Pertamax turun pada Juli atau pertengahan bulan cukup besar.

Namun selama konflik geopolitik masih memanas, masyarakat tampaknya masih harus menahan napas—karena harapan BBM turun bisa berubah hanya dalam hitungan hari. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#bahlil lahadalia #harga #bbm