SOLOBALAPAN.COM - Kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap Yuvita Tri Rezeki (YTR) di Bandung terus memunculkan fakta-fakta baru yang membuat publik semakin geram. Jika sebelumnya perhatian tertuju pada kekerasan brutal yang membuat Yuvita kehilangan penglihatannya, kini terungkap sisi lain yang tak kalah mengerikan: korban diduga mengalami kontrol total atas hidup dan aset pribadinya.
Bukan hanya tubuhnya yang menjadi sasaran kekerasan, tetapi juga kebebasan finansialnya.
Motor, ponsel, hingga rekening bank milik Yuvita disebut sepenuhnya berada di bawah kendali Taufik Hidayat, pria yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka.
Baca Juga: Ada Makam Putri Cempo di Dekat Terminal Tirtonadi, Benar Makam Atau Hanya Sekedar Tempat Singgah?
Yuvita Diduga Tak Punya Akses ke Uangnya Sendiri
Fakta ini diungkap oleh rekan kerja korban berinisial FW. Menurutnya, sebelum Yuvita menghilang dari lingkungan kerja, korban sempat meminta bantuan dengan cara yang sangat menyayat hati.
“Korban meminta sedikit ada drama dengan saya sebelum perbincangan itu selesai. ‘Teh, nanti kan katanya gajian, uang saya dan ATM saya kan sudah dipegang oleh pelaku. Saya minta sedikit drama’,” kata FW, dikutip pada Jumat, 26 Juni 2026.
Permintaan itu memperlihatkan betapa Yuvita sudah kehilangan kendali atas kehidupan pribadinya. Bahkan untuk mengakses gajinya sendiri, ia harus meminta bantuan orang lain dan menyusun skenario.
FW lalu membantu dengan berpura-pura menagih utang Rp10 juta agar Taufik mengizinkan sebagian uang Yuvita dicairkan. Namun hasilnya jauh dari harapan.
“Memang di transfer, tapi tidak senilai Rp2 juta hanya Rp500 ribu. Dia membuktikan transferannya. Di foto itu juga terlihat pelaku yang mendampingi korban untuk transfer. Jadi sepertinya ada ancaman juga dari pelaku,” jelas FW.
Pengakuan ini memperkuat dugaan bahwa Taufik bukan hanya melakukan kekerasan fisik, tetapi juga manipulasi ekonomi yang membuat korban sulit kabur.
Kekerasan Berlangsung Selama Dua Tahun
Polisi mengungkap penderitaan Yuvita bukan terjadi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan selama dua tahun penuh, sejak 2024 hingga 2026.
"Pelaku melakukan secara berulang dari Mei 2024 sampai Juni 2026 dilakukan karena kesal dan cemburu terhadap korban," terang Jawa Barat Irjen Rudi Setiawan saat konferensi pers, Jumat (26/6/2026).
Hubungan mereka sendiri bermula dari aplikasi kencan. Awalnya terlihat seperti kisah asmara biasa, namun berubah menjadi mimpi buruk.
"Mereka kenalan dan merasa dekat. Lalu hidup satu rumah di dalam tempat kos," bebernya.
Tak lama setelah tinggal bersama, pola kekerasan mulai muncul dan terus meningkat.
Dari Dipukul hingga Disundut Rokok
Lokasi pertama penyiksaan terjadi di sebuah indekos kawasan Cicaheum, Kota Bandung.
"Berdasarkan keterangan saksi dan korban, kekerasan ini bermula saat keduanya tinggal di indekos kawasan Cicaheum, Kota Bandung, pada Mei hingga September 2024," ujar Rudi menambahkan.
Di tempat itulah Yuvita mulai menerima siksaan fisik.
"Kekerasan dialami korban, yaitu badan dipukul dan disundut rokok," kata Rudi.
Namun kekejaman Taufik tidak berhenti di sana.
Saat pindah ke lokasi kedua, mata kiri Yuvita menjadi sasaran serangan menggunakan besi.
"Di kosan ini, terjadi pemukulan mata kiri korban dengan besi, itu menyebabkan matanya tidak melihat," ucap Rudi.
Di lokasi ketiga, penderitaan Yuvita semakin parah. Mata kanan korban juga rusak setelah dihantam helm.
"Menurut keterangan korban, mata kanannya dipukul menggunakan helm hingga ia tidak bisa melihat sama sekali. Selain itu, lutut korban juga ditebas dengan benda tajam sehingga ia sulit berjalan," ujar Rudi.
Akibat kekerasan berulang tersebut, Yuvita akhirnya mengalami kebutaan total dan cacat fisik permanen.
Disekap dan Dikunci dari Luar
Bukan hanya dianiaya, Yuvita juga disebut disekap secara sistematis di kamar kos. Akses keluar dan komunikasi diduga diputus sepenuhnya.
"Pelaku memukul wajah, mulut, dan telinga korban pakai helm. Memukul berulang kali hingga korban luka berat. Pelaku melakukan penyekapan dengan cara mengunci korban di dalam kamar dan meninggalkan korban dalam tidak berdaya," tutur Rudi.
Kondisi ini menjelaskan mengapa Yuvita seolah menghilang dari kehidupan sosialnya selama bertahun-tahun.
Ironisnya, surat pengunduran diri Yuvita dari tempat kerja bahkan tidak diserahkan sendiri oleh korban, melainkan oleh Taufik.
Gaya Hidup Taufik Jadi Sorotan
Di tengah kasus ini, gaya hidup Taufik juga menuai pertanyaan. Berdasarkan kesaksian rekan kerjanya, Dadang, tersangka bekerja sebagai kolektor leasing sejak awal 2023.
Namun pendapatannya dinilai tidak sebanding dengan pola hidupnya.
"Kebanyakan mah di bawah 4 sekian (juta) gitu," bongkar Dadang dalam sebuah dialog di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel dikutip pada Senin, 29 Juni 2026.
Meski berpenghasilan di bawah Rp4 juta per bulan, Taufik disebut memiliki gaya hidup cukup boros.
"Artinya kalau dihubungkan dengan pola hidup gaya hidup uang segitu enggak masuk dong... Suka minum enggak Taufik? Dengar-dengar mah suka," tanya Kang Dedi yang ternyata dibenarkan oleh narasumber.
Hal ini memunculkan spekulasi publik mengenai ke mana aliran uang yang digunakan pelaku selama ini—terutama setelah muncul dugaan bahwa seluruh aset korban juga berada dalam penguasaannya.
Dadang juga mengaku sempat melihat kondisi Yuvita yang mencurigakan pada awal 2026.
Saat itu, korban terlihat mengenakan kerudung, masker, dan kacamata tebal. Bahkan ia harus dipapah karena kesulitan melihat.
"Dia itu pakai kerudung terus pakai masker... Jadi kalau dianggap sudah mengalami gangguan penglihatan, bisa jadi sudah ada mulai penganiayaan," tutur Pak Dadang.
Kini, Taufik Hidayat telah diamankan Polda Jawa Barat dan harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya. (lz)
Editor : Laila Zakiya