SOLOBALAPAN.COM - Kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang wanita di Bandung yang menyeret nama Taufik Hidayat (30) terus menyita perhatian publik. Bukan hanya karena kekejian tindakan yang dilakukan terhadap korban, tetapi juga karena latar belakang keluarga tersangka yang kini ikut menjadi sorotan.
Nama Taufik Hidayat belakangan ramai diperbincangkan setelah terungkap bahwa ia diduga menyekap dan menyiksa kekasihnya selama bertahun-tahun.
Seiring proses hukum berjalan, perhatian publik mulai mengarah pada satu pertanyaan besar: bagaimana lingkungan keluarga membentuk karakter Taufik hingga menjadi sosok yang begitu temperamental?
Fakta mengejutkan datang dari pengakuan ayah kandung Taufik, Tata. Ia mengungkap bahwa putranya memang sudah menunjukkan perilaku bermasalah sejak usia dini.
"Dari kecilnya juga udah ada kembang-kembang kenakalan Pak, barandal. Kemarin juga ngobrol sama guru ngajinya, kalau ngaji juga suka makan obat Pak," aku Tata dikutip dari YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa tanda-tanda kenakalan Taufik sebenarnya sudah terlihat sejak kecil. Bahkan, lingkungan sekitar disebut telah lama mengenal Taufik sebagai sosok yang kerap membuat masalah.
Namun yang paling menyita perhatian publik adalah pengakuan mengenai pola asuh dalam keluarga. Taufik disebut tumbuh sebagai anak yang paling dimanja di rumah. Menurut ayahnya, ada alasan khusus mengapa ia begitu disayangi.
“Ganteng gitu lah, beda dari yang lain (anak-anaknya),” kata Tata.
Ucapan tersebut memicu perdebatan di tengah masyarakat. Banyak yang menilai perlakuan istimewa terhadap Taufik sejak kecil berpotensi membentuk rasa superior dan ego yang berlebihan.
Baca Juga: Duduk Perkara Fariz RM vs Syahravi: Babak Baru Sengketa Hak Cipta yang Siap Naik ke Tahap Penyidikan
Bahkan, setiap kali Taufik terlibat konflik, orang tuanya disebut hampir selalu berada di pihaknya. Pola pembelaan tanpa batas itu dinilai membuat Taufik sulit memahami konsekuensi dari tindakannya sendiri.
Situasi makin memprihatinkan ketika terungkap bahwa Taufik bahkan pernah melakukan kekerasan terhadap ayah kandungnya sendiri. Insiden itu terjadi saat Pak Tata sedang bekerja di sawah.
"Pernah dipukul, kepala Bapak pernah dipukul kayu. Waktu itu saya lagi macul di sawah. Dia lagi nganggur, mau makan enggak ada ikannya," kenang Pak Tata.
Yang membuat publik semakin terkejut, pemicu kekerasan tersebut terbilang sepele—hanya karena tidak ada lauk ikan di rumah. Meski mengalami kekerasan, sang ayah tetap memilih memaafkan anaknya.
Sikap ini kemudian menjadi perhatian banyak pihak. Pembiaran terhadap tindakan agresif dalam keluarga dinilai dapat memperkuat perilaku destruktif seseorang.
Rekam jejak kriminal Taufik pun bukan baru kali ini terungkap. Sebelum kasus penyekapan mencuat, ia diketahui sudah pernah berurusan dengan hukum.
"Pernah ditahan, kasus penganiayaan sama penggelapan motor. Pernah ditahan di Polsek Rancaekek, terus ke pengadilan (divonis) setahun setengah," ujarnya.
Catatan kriminal itu menunjukkan bahwa perilaku agresif Taufik bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ada pola kekerasan yang berulang dalam perjalanan hidupnya.
Tak hanya itu, kehidupan pribadi Taufik juga dipenuhi konflik. Ia pernah menikah, namun rumah tangganya hanya bertahan dua minggu. Mantan istrinya mengungkap Taufik merupakan sosok yang sangat posesif dan mudah meledak emosinya.
"Cemburu banget Pak, sampai kalau misalkan saya mau ke pasar saja tidak boleh. Kalau marah suka banting helm sama sepatu," beber Tata.
Karakter posesif dan penuh kontrol ini kini dinilai sejalan dengan pola kekerasan yang dialami korban penyekapan di Bandung.
Di sisi lain, keluarga Taufik juga diketahui menyimpan banyak tragedi. Salah satu adiknya meninggal akibat overdosis obat-obatan. Rentetan masalah keluarga tersebut disebut membuat ibu kandung Taufik mengalami depresi berat hingga akhirnya meninggal dunia. (lz)
Editor : Laila Zakiya