SOLOBALAPAN.COM - Kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang wanita berinisial YTR di Bandung terus memantik kemarahan publik. Setelah Taufik Hidayat resmi menjadi tersangka atas dugaan penyekapan selama tiga tahun, perhatian masyarakat kini tidak hanya tertuju pada aksi brutalnya, tetapi juga pada latar belakang keluarga yang membesarkannya.
Nama Taufik Hidayat menjadi perbincangan nasional setelah fakta-fakta memilukan terkait kondisi korban terungkap ke publik.
YTR diketahui mengalami penyiksaan berat selama bertahun-tahun hingga kondisinya memprihatinkan saat akhirnya ditemukan.
Di tengah proses hukum yang berjalan, pola asuh orang tua Taufik ikut menjadi sorotan. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana lingkungan keluarga dapat membentuk karakter seseorang hingga berujung pada perilaku kekerasan ekstrem.
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan terhadap lingkungan tempat tinggal pelaku, Taufik disebut tumbuh sebagai anak yang sangat dimanja. Kepala desa setempat mengungkapkan bahwa sejak kecil, Taufik hampir selalu mendapatkan pembelaan dari keluarganya setiap kali terlibat konflik.
“Kalau kecil berantem sama orang, sama bapaknya dibelain. Sama tetangga juga begitu. Kalau ada masalah, orang tuanya selalu membela, dimanja,” ungkap Kepala Desa tempat keluarga Taufik tinggal, dikutip dari tayangan YouTube Kang Dedi Mulyadi.
Pernyataan tersebut memperkuat dugaan bahwa Taufik tumbuh dalam pola asuh permisif, di mana perilaku buruk tidak mendapat batasan atau konsekuensi yang tegas.
Baca Juga: Hanya Jadi Penonton, Ini Penyebab Timnas Indonesia U-23 Absen di Asian Games 2026
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ikut menyoroti aspek psikologis dari kasus ini. Menurutnya, pola asuh dalam keluarga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak hingga dewasa.
“Latar belakang psikologi seseorang akan mempengaruhi kepentingan dan perilakunya ke depan,” kata Dedi.
Dedi juga menyinggung pengakuan ayah Taufik, Tata, yang menyebut pernah dipukul anaknya sendiri menggunakan kayu namun tetap memilih memaafkan.
“Kalau sampai orang tua dipukul oleh anak pakai kayu dan orang tuanya tetap memaafkan, itu bisa menjadi cerminan bahwa anak tersebut terlalu dimanja,” ujarnya.
Fakta lain yang mengejutkan datang langsung dari pengakuan sang ayah. Tata mengakui bahwa Taufik memang mendapatkan perlakuan istimewa dibanding saudara-saudaranya.
"Bener disayang iya. Karena paling, ganteng gitulah. Beda dengan yang lain," ujar Tata percaya diri.
Pengakuan ini memicu reaksi keras dari publik. Banyak yang menilai favoritisme dalam keluarga berpotensi menciptakan rasa superior pada anak, terlebih jika tidak diimbangi disiplin yang sehat.
Kasus ini semakin kompleks setelah keluarga korban mengungkap bahwa Taufik memang dikenal sering bermasalah bahkan sebelum kasus YTR mencuat.
Kakak ipar korban, Melanie, sempat mendatangi rumah keluarga Taufik untuk mencari keberadaannya. Dalam pertemuan itu, ayah Taufik mengungkap tabiat asli anaknya.
"Katanya memang bermasalah sih di sana juga. Kalau nggak mabuk, nyuri, ya, penganiayaan emang," kata Melanie kepada Dedi Mulyadi, Rabu 24 Juni 2026.
Tak hanya itu, Tata juga mengaku sudah lama tidak mengetahui keberadaan putranya.
"Katanya tidak pernah (pulang), 'udah lama kok nggak pulang', kata bapaknya. 'Saya juga nggak tahu keberadaan anak saya'," beber Melanie seolah menirukan ucapan ayah Taufik.
Pengakuan tersebut memperkuat asumsi publik bahwa perilaku agresif Taufik bukan muncul secara tiba-tiba. Ada pola panjang yang diduga telah terbentuk sejak masa kecil, mulai dari pembelaan berlebihan, sikap memanjakan, hingga minimnya konsekuensi atas tindakan buruk.(lz)
Editor : Laila Zakiya