SOLOBALAPAN.COM - Kasus penyekapan dan penganiayaan sadis yang menimpa YTR (29) di Kabupaten Bandung terus menyita perhatian publik. Setelah buron, Taufik Hidayat akhirnya berhasil ditangkap aparat Polda Jawa Barat di kawasan Majalaya.
Namun yang memicu kemarahan publik bukan hanya kekejaman yang diduga ia lakukan selama tiga tahun, melainkan juga ekspresinya saat diamankan polisi.
Dalam momen penangkapan itu, Taufik terlihat tenang, bahkan masih sempat tersenyum tipis atau cengengesan saat digiring petugas.
Sikap tersebut memicu gelombang reaksi keras di media sosial, mengingat kondisi korban yang kini mengalami luka permanen.
Keberadaan Taufik sendiri berhasil dilacak setelah polisi menemukan jejak transaksi digital yang dilakukan selama pelarian. Sebelumnya, ia sempat kabur keluar Jawa Barat.
“Kisah pelariannya tadi sempat diceritakan, yang bersangkutan sempat berpindah ke Tangerang. Merasa bahwa Tangerang itu tempat yang aman, tapi di sana juga bingung dan merasa tidak aman, lalu kembali lagi ke Jawa Barat,” kata Kapolda Jawa Barat Rudi Setiawan di Bandung.
Setelah kembali ke Jawa Barat, Taufik diketahui menuju rumah kerabatnya di Majalaya, Kabupaten Bandung. Polisi yang terus melakukan pelacakan kemudian menemukan petunjuk penting melalui aktivitas daring tersangka.
“Tadi pagi yang bersangkutan melakukan beberapa transaksi. Ini menjadi petunjuk buat kita. Oleh sebab itu, para tim yang bertugas di Majalaya tetap berada di sana, mencari seputar wilayah perumahan tersebut, dan akhirnya sore hingga malam hari dapat bertemu dan menangkap yang bersangkutan,” ujarnya.
Pihak kepolisian memastikan Taufik bergerak seorang diri selama pelarian dan tidak mendapat bantuan dari pihak lain.
“Yang kita lihat ini pergerakannya sendiri, tidak ada bantuan orang lain. Sehingga bisa kita pastikan pelariannya ini sendiri,” katanya.
Saat menjalani pemeriksaan awal, Taufik disebut mengakui seluruh perbuatannya terhadap korban. Ia juga mengaku menyesal dan berdalih kekerasan dilakukan saat berada di bawah pengaruh alkohol.
“Semua yang dia lakukan dia mengakui. Dia juga menyatakan menyesal dan mengaku perbuatannya dilakukan dalam kondisi dipengaruhi konsumsi alkohol,” katanya.
Meski begitu, pengakuan soal alkohol kini menjadi sorotan tersendiri. Sejumlah pihak khawatir narasi tentang kondisi psikologis atau gangguan kejiwaan pelaku justru bisa menjadi celah dalam proses hukum.
Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengingatkan publik agar tidak buru-buru menyimpulkan Taufik mengalami gangguan mental.
"Kalau sejak sekarang kita bangun spekulasi ada gangguan kejiwaan tertentu dan seterusnya, saya khawatir itu justru menjadi celah yang dimanfaatkan oleh pelaku dan penasihat hukumnya untuk meyakinkan publik," kata Reza.
Menurutnya, asumsi tersebut berbahaya karena bisa memengaruhi cara publik hingga aparat memandang perkara.
"Kalau itu impian kita bersama, maka memang kita tidak boleh punya asumsi lain. Hanya satu asumsi yang kita bangun bahwa pelaku sehat, tidak punya gangguan apa pun, waras, paham," kata Reza.
Reza juga menegaskan bahwa jika pelaku dianggap mengalami gangguan jiwa, hal itu bisa berdampak pada bobot hukuman yang dijatuhkan.
"Jelas, orang yang sakit tidak semestinya dihukum berat. Apa kita ingin membayangkan pelaku seharusnya akan mendapatkan nasib yang semudah itu? Tentu saja tidak," kata Reza.
Baca Juga: Batal Jadi Persiter Ternate, Adhyaksa FC Resmi Pilih Palangkaraya Kalteng Sebagai Homebase Baru
Peringatan tersebut muncul karena secara hukum, kondisi kejiwaan pelaku bisa menjadi faktor yang dipertimbangkan dalam persidangan. Jika tim kuasa hukum berhasil membangun narasi bahwa pelaku tidak sepenuhnya sadar atas perbuatannya, ancaman hukuman berat berpotensi melemah.
Di sisi lain, publik sulit menerima kemungkinan itu melihat dampak yang dialami korban. YTR ditemukan dalam kondisi sangat memprihatinkan setelah tiga tahun hilang kontak dari keluarganya.
Korban mengalami gangguan penglihatan hingga kebutaan pada kedua mata, bibir sumbing, kesulitan berbicara, tidak dapat berjalan normal, serta kehilangan sejumlah barang berharga.
Keberadaan korban baru diketahui setelah keluarga menerima pesan WhatsApp dari orang tak dikenal yang menginformasikan bahwa YTR berada di IGD Rumah Sakit Hasan Sadikin.
Sementara itu, sikap Taufik yang masih terlihat santai saat ditangkap juga memperkuat persepsi publik mengenai minimnya empati pelaku.
“Kami sempat menanyakan juga bahwa yang bersangkutan juga merasa takut, curiga sama semua orang, dan tidak tahu mau ke mana, dan akhirnya sampailah di Majalaya dan tertangkap itu," kata Rudi Setiawan, Rabu (24/6/2026). (lz)
Editor : Laila Zakiya