SOLOBALAPAN.COM - Kasus penyekapan wanita di Bandung yang menyeret nama Taufik Hidayat terus mengungkap detail yang membuat publik merinding. Selama kurang lebih tiga tahun, pria berusia 30 tahun itu diduga berhasil menyembunyikan aksi penganiayaan sadis terhadap YTR (29) dengan berbagai cara yang terbilang sistematis.
Dari luar, kehidupan Taufik dan korban di sebuah kamar kos di kawasan Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, tampak biasa saja. Namun di balik pintu yang selalu tertutup rapat, dugaan kekerasan brutal terjadi berulang kali hingga meninggalkan luka permanen pada korban.
Kunci Kamar Kos Jadi Senjata untuk Mengisolasi Korban
Salah satu cara utama Taufik menutupi aksinya adalah dengan mengisolasi korban dari lingkungan sekitar. Menurut kesaksian istri penjaga kos, Mulyati, korban hampir tidak pernah terlihat keluar kamar.
Saat Taufik keluar untuk aktivitas sehari-hari, ia disebut selalu memastikan korban tetap terkunci di dalam.
Bahkan ketika harus membeli makan ke luar area kos, pelaku selalu memastikan tak ada orang lain yang dapat masuk ke dalam kamar kosannya.
Cara ini membuat korban nyaris tak memiliki kesempatan untuk meminta pertolongan. Warga sekitar pun tidak memiliki akses untuk melihat kondisi YTR secara langsung.
Bangun Narasi Bohong soal Penyakit Mata Korban
Agar kecurigaan warga mereda, Taufik juga diduga terus membangun cerita palsu tentang kondisi kesehatan YTR. Ia kerap mengatakan korban mengalami gangguan penglihatan parah sejak kecil dan membutuhkan operasi mata.
"Iya dia suka bahas pasangannya. Dia bilang sakit matanya mau operasi di RS. Cuma harus pakai BPJS dan harus ada uang Rp10 juta. Katanya istrinya itu kondisi matanya minus 17, jadi mata nggak lihat dari kecil dan bilangnya orang tua ceweknya itu di Jawa," kata Mulyati.
Cerita ini menjadi tameng yang cukup efektif. Saat kondisi mata korban memburuk hingga nyaris buta, warga mengira itu bagian dari penyakit lama, bukan akibat kekerasan.
Padahal belakangan terungkap kondisi korban sangat mengenaskan. YTR mengalami luka permanen pada wajah, mata, hingga kesulitan berjalan.
"Luka yang permanen, mata buta dan bibirnya tidak utuh. Rencananya mau operasi," kata Syahrul, Senin (22/6).
Tutupi Suara Kekerasan dengan Sikap Santai
Meski tak terdengar jeritan minta tolong, penghuni kos beberapa kali mendengar benturan keras dari dalam kamar Taufik. Anehnya, setiap ditanya, Taufik selalu bersikap santai seolah tak terjadi apa-apa.
"Enggak pernah terdengar (suara jeritan), hanya terdengar batuk si pelaku keras. Kan dia suka sakitnya batuk terus. Suara perempuan atau rintihan enggak ada atau minta tolong. Suara pukulan atau tendangan ke tembok sering kedengaran," ucap Mulyati.
Saat suara benturan itu memicu kecurigaan, Taufik lagi-lagi berhasil mengelak.
"Tapi ibu datangi gak ada apa-apa. Kalau ibu dengar suara begitu mungkin ibu juga sudah curiga mungkin langsung minta pertolongan dan diselidiki," sambungnya.
Menurut warga, Taufik juga dikenal temperamental dan agresif.
"Suka tempramen, tiba-tiba ngajak berantem," jelasnya.
Sikap intimidatif ini diduga ikut membuat lingkungan sekitar enggan terlalu jauh mencampuri urusannya.
Baca Juga: Biodata Baila Fauri, Member Grup No Na Eks Idol Junior yang Jadi Bridesmaid Jennifer Coppen
Rekayasa Cerita Saat Bawa Korban ke Rumah Sakit
Kasus ini mulai terbongkar ketika YTR dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada 12 Juni 2026. Namun bahkan dalam situasi kritis itu, Taufik masih berusaha menutupi jejak.
Ia meminta penjaga kos, Resa Rohendi, ikut mengantar korban dan berpura-pura menjadi keluarga.
Taufik bahkan mengarahkan narasi agar pihak rumah sakit percaya luka korban disebabkan kecelakaan domestik.
Resa mengaku diminta menyebut korban jatuh di kamar mandi. Namun sesampainya di rumah sakit, ia memilih jujur kepada petugas medis.
"Setelah itu, pelapor mendatangi RSHS dan diketahui bahwa korban dalam keadaan luka berat di bagian kepala, wajah, kaki dan luka ringan di bagian tangan," kata Hendra, Selasa (16/6).
Pengakuan jujur Resa menjadi titik balik yang akhirnya membuka kasus penyekapan tersebut ke publik.
Pelarian ke Tangerang hingga Kembali ke Bandung
Usai kasus terendus polisi, Taufik kabur dan masuk daftar pencarian orang (DPO). Ia berpindah-pindah lokasi untuk menghindari penangkapan.
Menurut penyidik, Taufik sempat merasa Tangerang adalah tempat aman untuk bersembunyi. Namun rasa takut membuatnya kembali ke Jawa Barat.
"Pelariannya sempat berpindah ke Tangerang. Di sana bingung dan merasa tidak aman, lalu kembali ke Jawa Barat. Yang bersangkutan merasa takut, curiga kepada semua orang, tidak tahu harus ke mana," kata Kapolda Jabar Irjen Pol Rudi Setiawan.
Pelariannya akhirnya terhenti setelah polisi melacak aktivitas digitalnya.
"Selasa pagi kita sudah berada di Majalaya, sudah mengikuti apa yang dilakukan. Yang bersangkutan melakukan beberapa transaksi, , ini menjadi petunjuk buat kita," ujar Rudi dikutip Rabu (24/6/2026).
Taufik akhirnya diringkus di sebuah perumahan di Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung.
Baca Juga: Soroti Dominasi Oligarki, Aliansi BEM Solo Desak Reformasi Total Sistem Ekspor-Impor
Alkohol Disebut Jadi Pemicu Kekerasan
Dalam pemeriksaan, Taufik mengakui semua perbuatannya. Ia berdalih kekerasan terjadi saat dirinya berada di bawah pengaruh alkohol.
"Setiap dia mengonsumsi alkohol, selalu berdebat dengan kekasihnya. Terjadi cekcok yang kemudian berujung pada penganiayaan," kata Kapolda Jabar Rudi.
Ia juga mengaku menyesal.
"Mengenai kejahatan yang dilakukannya, dia mengakui semua perbuatannya dan menyatakan penyesalan atas apa yang telah dilakukannya karena berada di bawah pengaruh alkohol," ujarnya.
Namun polisi menilai penjelasan itu belum cukup untuk menjelaskan kekejaman yang berlangsung selama tiga tahun.
"Karena apa yang dilakukan ini merupakan sesuatu yang tidak wajar, di luar kebiasaan perilaku seseorang. Ini sadis," kata Rudi.
Kini Taufik Hidayat ditahan di sel khusus Mapolda Jawa Barat dengan pengawasan CCTV 24 jam. Sementara YTR masih menjalani perawatan intensif dan akan menjalani rekonstruksi wajah akibat luka berat yang dideritanya. (lz)
Editor : Laila Zakiya