SOLOBALAPAN, TEKNOLOGI — Pemadaman listrik bergilir yang kian sering terjadi belakangan ini tengah dikeluhkan oleh masyarakat di berbagai wilayah Pulau Jawa dan Bali.
Kondisi ini memicu tanda tanya besar di kalangan publik mengenai stabilitas serta keandalan sistem kelistrikan nasional.
Menanggapi fenomena tersebut, Pengamat Sistem Tenaga Listrik dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Kevin Marojahan Banjar Nahor, angkat bicara.
Ia menjelaskan bahwa gelombang mati lampu yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa dipicu oleh dua kendala utama pada sektor pembangkit listrik, yakni force outage dan derating.
Mengenal Istilah Force Outage dan Derating
Menurut Kevin, penurunan pasokan listrik ke masyarakat tidak terjadi begitu saja, melainkan akibat adanya dinamika teknis dan strategi operasional di area pembangkit.
Baca Juga: Dudung Bongkar Borok Pengadaan Motor Listrik MBG: Anggaran Zonk, Vendor Tak Punya Bengkel Aktif
“Mengapa sering mati lampu akhir-akhir ini? Pemadaman listrik yang terjadi belakangan ini di sejumlah wilayah Pulau Jawa ternyata dipicu oleh dua hal di pembangkit listrik, yakni force outage dan derating,” ungkap Kevin seperti dikutip dari unggahan akun Instagram resmi Institut Teknologi Bandung (ITB), @itb1920.
Untuk mempermudah pemahaman, berikut adalah rincian perbedaan serta dampak dari kedua istilah teknis tersebut:
| Istilah Teknis Kelistrikan | Pengertian dan Definisinya | Dampak & Langkah Operasional di Lapangan |
| Force Outage | Gangguan mendadak dan tidak direncanakan pada unit pembangkit listrik. | Terjadi akibat adanya kerusakan mesin secara tiba-tiba sehingga pasokan listrik berkurang instan. |
| Derating | Penurunan kapasitas produksi listrik dari kemampuan maksimal pembangkit. | Sengaja dilakukan operator untuk menjaga ketersediaan bahan bakar (batu bara atau minyak) agar tetap aman. |
Strategi Penghematan Bahan Bakar Demi Hindari Fatalitas
Kevin membeberkan bahwa dalam kondisi tertentu, pembangkit listrik terpaksa hanya dijalankan sekitar 60 persen dari kapasitas normalnya.
Langkah penurunan kapasitas (derating) ini dinilai jauh lebih aman dibandingkan memaksakan mesin beroperasi penuh hingga cadangan bahan bakar habis total.
Sebab, jika Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sampai berhenti total akibat kehabisan bahan bakar, proses penyalaan kembali (startup) membutuhkan prosedur yang sangat rumit dan memakan waktu lama.
"Jika dipaksa 100 persen dan bahan bakar habis, PLTU butuh waktu hingga dua hari untuk menyala kembali," papar Kevin menjelaskan kompleksitas mesin PLTU.
Pemadaman Bergilir Demi Mencegah Blackout Total
Lebih lanjut, pemadaman bergilir sebenarnya merupakan langkah darurat yang diperlukan demi menjaga keandalan sistem makro tenaga listrik.
Operator di lapangan wajib mempertahankan cadangan daya (reserve margin) sebagai tameng antisipasi jika ada gangguan mendadak pada jaringan transmisi atau pembangkit lain.
Saat beban permintaan listrik melonjak tajam—terutama pada jam-jam puncak—sementara cadangan daya kian menipis, maka pengurangan beban lewat pemadaman bergilir terpaksa dieksekusi.
Tujuan utama dari langkah pahit ini adalah mencegah terjadinya blackout (pemadaman total skala besar) yang berpotensi melumpuhkan jaringan listrik secara keseluruhan.
Tekanan Tambahan dari Potensi Krisis Iklim 'El Nino Godzilla'
Selain kendala teknis internal, Kevin juga mengingatkan tantangan eksternal berupa perubahan iklim global. Fenomena El Nino ekstrem atau yang kerap dijuluki El Nino Godzilla berpotensi memperparah kondisi pasokan listrik nasional melalui dua arah:
-
Lonjakan Konsumsi Daya: Suhu udara yang jauh lebih panas di luar ruangan otomatis mendorong masyarakat menggunakan pendingin ruangan (AC) secara lebih intensif dan lama, sehingga permintaan listrik meroket.
-
Penurunan Produksi PLTA: Musim kemarau panjang yang ekstrem mengancam pasokan air. Menurunnya debit air di waduk berisiko mengganggu kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) vital di Jawa Barat, seperti PLTA Cirata dan PLTA Saguling.
Jika volume air waduk menyusut, kemampuan PLTA menghasilkan listrik akan ikut anjlok. Imbasnya, beban penyediaan listrik nasional dari sumber energi lainnya akan menjadi semakin berat.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo