Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Bukan Orang Sembarangan, Ini Sosok Dino Patti Djalal yang Disindir Seskab Teddy di Video Terbarunya

Laila Zakiya • Rabu, 3 Juni 2026 | 11:22 WIB
Seskab Teddy Indra Wijaya balas saran Dino Patti Djalal lewat media sosial. (Tangkapan Layar Instagram/sekretariat.kabinet)
Seskab Teddy Indra Wijaya balas saran Dino Patti Djalal lewat media sosial. (Tangkapan Layar Instagram/sekretariat.kabinet)

 

SOLOBALAPAN.COM – Jagat media sosial tengah dihebohkan oleh tanggapan video dari Seskab Teddy Indra Wijaya terhadap mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Dino Patti Djalal.

Melalui saluran resmi Sekretariat Kabinet, Teddy menanggapi lima poin saran diplomasi yang diunggah Dino pada Sabtu (30/5/2026).

Walau mengapresiasi masukan tersebut, kalimat penutup Teddy yang menyinggung rekam jejak Dino langsung memicu perbincangan hangat di kalangan publik.

Seskab Teddy meluruskan bahwa anggaran operasional kunjungan kerja luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang melebihi pagu negara sebenarnya ditutup menggunakan dana pribadi sang presiden.

"Kemudian berikutnya, karena saya di-mention oleh Pak Dubes Dino, saya mau luruskan beberapa hal," kata Teddy melalui video yang diunggah akun media sosial Sekretariat Kabinet, Senin (1/6).

Meski berterima kasih atas masukan yang dinilai terstruktur, Teddy menyelipkan kalimat yang dianggap netizen sebagai sindiran halus atas masa jabatan Dino di birokrasi masa lalu.

"Terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan," tutur Teddy.

Pernyataan tersebut sontak memicu rasa penasaran publik. Siapa sebenarnya Dino Patti Djalal dan seberapa besar pengaruhnya dalam sejarah diplomasi Indonesia?

Baca Juga: Tim Terpadu Karanganyar Minta Aktivitas Pembangunan di Berjo Dihentikan Sementara

Profil Dino Patti Djalal: Anak Diplomat Senior yang Lahir di Luar Negeri

Dino Patti Djalal sejatinya bukan nama baru dalam peta politik luar negeri Indonesia.

Ia merupakan salah satu eksponen diplomat paling berpengaruh dalam dua dekade terakhir.

Dino lahir di Belgrade, Yugoslavia (kini Serbia) pada 10 September 1965. Darah diplomasi mengalir kuat di tubuhnya, sebab ia merupakan putra dari pakar hukum laut internasional sekaligus diplomat senior tanah air, Hasjim Djalal.

Karier profesional Dino di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dimulai sejak tahun 1987.

Dedikasinya dalam berbagai perundingan bilateral serta pemetaan isu strategis internasional membuat penasihat politik ini merangkak naik dengan cepat di jajaran birokrasi.

Baca Juga: Dari Making Bed hingga Fish Steak, Gelar Karya SMKN 7 Solo Jadi Ajang Unjuk Kompetensi

Sepak Terjang Karier: Dari Juru Bicara SBY hingga Dubes di Washington DC

Nama Dino Patti Djalal mulai dikenal luas oleh masyarakat dan media internasional saat memasuki era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Berikut adalah rekam jejak karier krusial dari seorang Dino Patti Djalal:

* Juru Bicara Presiden Bidang Luar Negeri (2004–2010): Dino dipercaya menjadi "wajah" sekaligus penyambung lidah diplomasi Indonesia selama hampir enam tahun. Ia aktif mengomunikasikan visi geopolitik presiden ke hadapan awak media global.

* Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (2010–2013): Ia dipromosikan menjadi Dubes di Washington DC. Selama masa penugasannya, Dino berperan vital mempererat hubungan bilateral Indonesia-AS di sektor pertahanan, perdagangan, dan investasi lewat skema Kemitraan Komprehensif.

* Wakil Menteri Luar Negeri (Juli 2014–Oktober 2014): Dino diangkat menjadi Wamenlu pada masa akhir Kabinet Indonesia Bersatu II. Masa jabatan inilah yang disentil oleh Seskab Teddy karena hanya berlangsung sekitar 3 bulan menjelang transisi kepemimpinan nasional.

Baca Juga: Kerugian Capai Rp 41 Miliar, Inisial F Eks Istri Reza Smash Terlibat Kasus Love Scamming, Begini Caranya Kelabui Korban

Pendiri FPCI dan Suara Kritis Geopolitik

Setelah purnatugas dari lingkungan birokrasi, Dino tidak lantas meninggalkan dunia internasional.

Pada tahun 2015, ia mendirikan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), sebuah organisasi non-pemerintah yang kini bertransformasi menjadi salah satu wadah literasi hubungan internasional dan geopolitik terbesar di Indonesia.

Di luar kiprah menterengnya, nama Dino juga sempat menyita perhatian publik pada tahun 2018.

Ia sempat dipanggil untuk dimintai keterangan sebagai saksi oleh penyidik Polda Metro Jaya saat pihak kepolisian mengusut kasus hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet.

5 Saran Dino Patti Djalal untuk Presiden Prabowo

Polemik ini sendiri berakar dari kekhawatiran Dino terkait besarnya logistik kunker presiden. Dino mencatat bahwa dalam kalkulasinya, Presiden Prabowo merupakan salah satu kepala negara yang paling aktif bepergian ke luar negeri sejak dilantik.

"Sebagai sahabat lama Bapak, saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia, mengimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini," ujar Dino dalam videonya.

"Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri," katanya.

Baca Juga: 8 Rekomendasi Motor Touring Murah Terbaik 2026 untuk Perjalanan Jarak Jauh, Nyaman Tanpa Bikin Kantong Jebol

"Kunjungan kepala negara ke luar negeri memakan biaya yang besar dan bahkan sangat besar. Ini termasuk biaya rombongan tim pendahulu, biaya pesawat, biaya hotel, biaya logistik, biaya konsumsi, biaya protokoler dan pengamanan," imbuhnya.

Guna efisiensi, Dino menyodorkan lima opsi taktis:

1. Optimasi Komunikasi Digital: Menyarankan presiden memaksimalkan teknologi jarak jauh.

"Untuk menjaga komunikasi dengan pemimpin dunia lain, kami menyarankan Presiden Prabowo lebih mengandalkan video call atau Zoom atau telepon," ujar Dino, sambil mencontohkan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum yang intens menelepon Donald Trump tanpa tatap muka langsung.

2. Formula 1 Plus 8 di Forum Internasional: Memanfaatkan satu KTT untuk menemui banyak kepala negara sekaligus.

"Untuk menghemat biaya dan waktu, kami juga menganjurkan agar Presiden Prabowo dapat memanfaatkan kunjungan ke suatu forum internasional untuk bertemu kepala negara lain yang juga hadir," kata Dino. Ia menyayangkan momen Sidang PBB tahun lalu saat permintaan pertemuan dari Presiden Finlandia Alexander Stubb konon tidak terespons.

3. Transparansi Rencana Perjalanan: Meminta Istana mengumumkan jadwal keberangkatan secara akuntabel.

"Baik Seskab Teddy atau Menlu Sugiono perlu mengumumkan rencana kunjungan Presiden ke suatu negara satu bulan sebelumnya, atau minimal seminggu sebelum hari-H... Perlu lah diterapkan asas akuntabilitas dan transparansi karena cukup sering publik tidak tahu Presiden ada di mana di luar negeri," tegasnya.

Baca Juga: Sinopsis Lengkap Film Evil Dead Burn 2026: Babak Baru Teror Deadites yang Lebih Emosional

4. Lebih Banyak Menerima Tamu di Dalam Negeri: Menyarankan Prabowo meniru pola Presiden China Xi Jinping yang lebih aktif menyambut delegasi asing di Beijing ketimbang terbang ke luar negeri.

"Saya juga menganjurkan untuk satu tahun ke depan Presiden Prabowo lebih banyak menerima tamu negara di Tanah Air ketimbang melakukan perjalanan ke luar negeri," kata Dino.

5. Pendelegasian Tugas Taktis ke Menlu: Meminta diplomasi taktis diserahkan sepenuhnya kepada Menlu Sugiono demi menghemat anggaran negara, mengingat rombongan Menlu jauh lebih ringkas dibanding rombongan kepresidenan. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#dino patti djalal #Seskab Teddy