SOLOBALAPAN.COM – Polda Jawa Tengah baru saja membongkar praktik penipuan online jaringan internasional bermodus love scamming atau pig butchering.
Salah satu tersangka yang berhasil diamankan dan mengejutkan publik adalah seorang perempuan berinisial F, yang dikonfirmasi merupakan Fabiola Elizabeth Agnes, mantan istri dari salah satu personel boyband SMASH, Reza.
Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Artanto, membenarkan status hukum dari figur publik berkebangsaan Jerman tersebut.
"Bisa dibenarkan (model berinisial F adalah Fabiola mantan istri Reza SMASH)," beber Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Artanto.
Dalam struktur sindikat yang beroperasi di bawah naungan PT Digi Global Konsultan di Solo Baru ini, Fabiola memiliki peran krusial demi memuluskan jalannya aksi penipuan yang sukses meraup keuntungan hingga Rp41,1 miliar (sekitar 2,3 juta dollar AS) dari ratusan korban mancanegara, khususnya warga negara Amerika Serikat.
Baca Juga: Puasa 18 Jam hingga Makan 4.000 Kalori, Ini Transformasi Gila Nicholas Galitzine Demi He-Man
Modus Operandi Sindikat: Menyasar Korban Lewat Taktik Pig Butchering
Metode penipuan pig butchering atau love scamming ini diawali dengan pendekatan emosional yang sangat intens.
Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa jaringan ini tidak beroperasi secara acak, melainkan menggunakan sistem penyaringan berlapis yang melibatkan divisi marketing khusus.
Divisi marketing bertugas mencari target di berbagai media sosial dan aplikasi kencan dengan menggunakan akun serta foto-foto menarik.
Target utama mereka sengaja diarahkan kepada warga negara asing. Ketika calon korban mulai merespons namun masih ragu untuk mengeluarkan uang, di sinilah peran penting Fabiola Elizabeth Agnes dimulai.
Direktur Direktorat Reserse Siber (Dit Ressiber) Polda Jateng, Kombes Himawan Susanto Saragih, membeberkan bagaimana cara pelaku memanfaatkan pesona fisik Fabiola untuk memanipulasi psikologis para korban.
"Jadi model yang dapat kami amankan ini tugasnya adalah melayani video call sesuai dengan yang dikehendaki korban," ucap Direktur Direktorat Reserse Siber (Dit Ressiber) Polda Jawa Tengah (Jateng) Kombes Himawan Susanto Saragih.
"Para pelaku yang berperan sebagai marketing mencari korban melalui berbagai platform. Sementara F bertugas melakukan video call agar korban semakin percaya," terang Himawan, Selasa (2/6/2026).
"Jadi marketing itu untuk menjerat korban. Mereka akan menyortir calon korban yang butuh diyakinkan, maka F yang akan maju melayani video call. Itu supaya korban berinvestasi," sambungnya.
Fabiola dipilih oleh sindikat ini karena latar belakangnya sebagai seorang model profesional, serta kapasitas dirinya yang fasih dalam berkomunikasi 'bisnis'.
Kehadiran Fabiola melalui panggilan video seolah menjadi bukti konkret bagi korban bahwa sosok yang mereka dekati secara romantis adalah nyata dan dapat dipercaya.
Baca Juga: Hari Lahir Pancasila 2026, Pemkot Surakarta Teguhkan Semangat Persatuan dan Kebangsaan
Jebakan Investasi Kripto Palsu Berujung Kerugian Puluhan Miliar
Setelah kedekatan personal dan emosional berhasil dibangun melalui bantuan visual dari Fabiola, sindikat ini mulai melancarkan tahap akhir penipuan. Korban perlahan diarahkan untuk menanam modal pada platform perdagangan aset kripto (crypto trading).
"Jadi calon korban dibuat dekat dulu secara personal, baru mereka meminta transfer dana secara bertahap," kata Himawan.
Akan tetapi, platform investasi tersebut sebenarnya adalah situs web palsu yang telah dimanipulasi sistemnya oleh tim IT dari sindikat ini.
Korban yang terbuai harapan memperoleh keuntungan besar terus mentransfer sejumlah dana secara bertahap, tanpa menyadari bahwa uang tersebut langsung masuk ke rekening yang dikendalikan penuh oleh sindikat.
Sejak beroperasi dari Juli 2025 hingga Mei 2026, jaringan ini diperkirakan telah menargetkan sekitar 5.000 orang, dengan catatan sedikitnya 133 orang telah menjadi korban murni dari skema investasi palsu ini hingga mengalami total kerugian mencapai Rp41 miliar.
Atas kontribusinya melayani panggilan video penjerat tersebut, Fabiola bersama 38 tersangka lainnya yang menempati berbagai posisi (kepala jaringan, supervisor, leader, hingga marketing) mendapatkan upah bulanan berkisar antara Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan.
Peringatan Aparat terhadap Fenomena Love Scamming
Berkaca dari masifnya kerugian finansial yang ditimbulkan oleh sindikat yang bermarkas di Sukoharjo ini, Polda Jateng meminta masyarakat luas untuk memperkuat literasi digital dan menjaga kewaspadaan saat berinteraksi di ruang siber.
Kedekatan personal yang dibangun secara instan oleh orang asing di media sosial wajib dicurigai jika sudah mulai mengarah pada pembahasan finansial.
"Masyarakat diharapkan tak mudah mempercayai ajakan berinvestasi, terutama dari orang yang baru dikenal melalui media sosial," kata Artanto memberikan peringatan keras.
Kini, Fabiola Elizabeth Agnes bersama puluhan anggota sindikat lainnya harus mendekam di ruang tahanan Mapolda Jateng guna menjalani proses hukum lanjutan akibat keterlibatan mereka dalam jaringan kejahatan siber internasional tersebut. (lz)
Editor : Laila Zakiya