Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Rupiah Tembus Rp17.600 dan Impor LPG Bengkak, Kementerian ESDM Buka Suara Soal Nasib BBM hingga Gas Melon

Didi Agung Eko Purnomo • Rabu, 20 Mei 2026 | 18:55 WIB
Ilustrasi kenaikan harga BBM Diesel di SPBU Pertamina. (Radar Solo/Arief Budiman)
Ilustrasi kenaikan harga BBM Diesel di SPBU Pertamina. (Radar Solo/Arief Budiman)

SOLOBALAPAN, EKONOMI — Gejolak nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus level Rp17.600 per dolar AS memicu kekhawatiran besar di tengah masyarakat.

Publik mulai cemas bahwa merosotnya mata uang garuda akan memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) serta gas LPG 3 kg (gas melon) yang sebagian besar pasokannya masih bergantung pada jalur impor.

Merespons kepanikan tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya angkat bicara demi memberikan kepastian hukum dan stabilitas ekonomi nasional.

Pemerintah Garansi Harga Subsidi Tidak Naik

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh untuk menjaga daya beli masyarakat.

Baca Juga: Harga Bensin Naik? Ini 10 Rekomendasi Motor Matic dan Bebek Honda Paling Irit BBM Lengkap dengan Harganya

Ia memastikan harga LPG subsidi 3 kg serta BBM bersubsidi (seperti Pertalite dan Solar) tidak akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat, meskipun beban anggaran negara dipastikan membengkak.

Menurut Laode, koridor kebijakan ekonomi saat ini masih mengacu pada instruksi awal tahun, yakni mempertahankan harga energi bersubsidi tetap stabil demi menjaga iklim domestik.

"Belum ada perubahan. Harga elpiji subsidi tetap enggak ada (perubahan). Ya kan sudah diumumkan Pak Menteri (ESDM). (Sampai akhir tahun enggak berubah?) Enggak berubah," ujar Laode Sulaeman saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta.

Dilema Tingginya Angka Impor LPG Indonesia

Keputusan pemerintah untuk menahan harga gas melon terbilang cukup berat di tengah situasi makroekonomi saat ini.

 Berdasarkan data pemetaan Ditjen Migas, ketergantungan Indonesia terhadap komoditas gas internasional justru mengalami tren kenaikan yang sangat signifikan:

Rapor Ketergantungan Impor LPG Nasional

Dengan porsi impor yang mendominasi lebih dari 80 persen, setiap pelemahan nilai tukar rupiah otomatis akan melambungkan biaya pengadaan bahan baku yang harus dibayarkan pemerintah kepada pemasok luar negeri.

Kondisi Kurs Rupiah dan Dampaknya Terhadap Postur Subsidi

Parameter Sektor Energi Realitas Kondisi Lapangan (Mei 2026) Dampak Riil Terhadap APBN
Nilai Tukar Rupiah Rp17.668 per dolar AS (Penutupan Pasar) Beban alokasi anggaran subsidi energi membengkak
Pasokan LPG Domestik Didominasi Impor (Hingga 83,97%) Biaya pokok pengadaan gas melon melonjak tajam
Kebijakan Harga Ditahan/Tetap hingga akhir tahun Harga eceran resmi di pangkalan dijamin aman

Bagaimana dengan Nasib Pertamax Cs?

Berbeda dengan kelompok subsidi yang sudah mendapatkan garansi keamanan harga, nasib BBM non-subsidi seperti Pertamax series masih menjadi teka-teki.

Pergerakan harga minyak mentah dunia yang sangat fluktuatif digabung dengan ambruknya nilai tukar rupiah membuat kalkulasi harga keekonomian menjadi sangat dinamis.

Terkait potensi penyesuaian harga komoditas non-subsidi tersebut, pihak Kementerian ESDM memilih untuk bersikap hati-hati dan enggan berspekulasi lebih jauh kepada awak media.

"Kayaknya itu saya belum bisa jawab, ya. Ini soalnya posisi grafiknya kan lagi gini. Nanti saya salah jawab," pungkas Laode menyudahi penjelasan.

(did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Kementerian ESDM #lpg #rupiah #gas melon #bbm