SOLOBALAPAN.COM – Polemik penilaian Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat masih terus memanas di media sosial. Setelah video perdebatan antara peserta dan dewan juri viral di TikTok hingga X, kini publik kembali dibuat geram usai status WhatsApp milik Indri Wahyuni tersebar luas.
Nama Indri Wahyuni sendiri menjadi sorotan setelah dianggap tidak objektif saat menjadi juri dalam perlombaan tersebut.
Dalam cuplikan video yang ramai dibagikan warganet, tim dari SMAN 1 Pontianak dinilai salah ketika menjawab pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Padahal, publik menilai substansi jawaban peserta sudah benar. Kontroversi muncul karena jawaban serupa dari tim lain justru dianggap benar oleh dewan juri.
Saat peserta mengajukan protes, keputusan juri tetap dinyatakan final. Dalam video yang beredar, Indri Wahyuni kemudian memberikan penjelasan bahwa artikulasi menjadi salah satu faktor penilaian.
“Artikulasi itu penting. Dewan juri menilai berdasarkan apa yang terdengar jelas. Kalau tidak terdengar, maka juri berhak memberikan pengurangan nilai,” ujar Indri dalam video yang viral di media sosial.
Pernyataan tersebut memicu kritik luas dari warganet yang menilai persoalan utama bukan terletak pada sekolah pemenang, melainkan pada konsistensi dan objektivitas penilaian dewan juri.
Di tengah derasnya kritik publik, status WhatsApp yang diduga milik Indri Wahyuni kemudian bocor dan beredar di berbagai platform media sosial.
Baca Juga: Pasar Triwindu Solo Jadi Magnet Gen Z, Kini Viral karena Spot Vintage dan Instagramable
Dalam salah satu unggahannya, Indri terlihat membela kemenangan SMAN 1 Sambas yang menjadi juara dalam kompetisi tersebut.
“They deserve the win and the explanation why they are still the winner of the game. Focusing on one school and neglecting justice for other is a part of the biggest ignorance that one could do…,” tulis status tersebut.
Tak hanya itu, Indri juga menilai publik terlalu fokus pada satu sekolah dan mengabaikan perjuangan sekolah lain yang berhasil menang.
“Jawaban sapujagad tapi ga ada yang mau buka ini. Seolah-olah jawaban tersebut benar. Sekolah yg menang dinilai tidak pantas menang. Padahal hasil akhir tetap sekolah tsb yg menang. Semoga ada jalan utk sekolah tersebut membuktikan diri di Nasional bahwa mereka pantas menang dan jadi juara,” tulisnya lagi.
Dalam status lainnya, Indri bahkan menyinggung kondisi sekolah pemenang yang disebut berasal dari wilayah terpencil dan pernah menjadi kawasan konflik.
“Cuma karena sekolah tersebut tidak terkenal lalu tdk pantas dibanggakan? Itu sekolah jauh, terpencil dan bekas wilayah konflik tahun 1999. Bukankah semangatnya adalah siapapun yg maju mewakili provinsi harus dibanggakan? They deserve the win, that’s all… May Allah bless their way to go to Grand Final,” lanjut isi status tersebut.
Pernyataan itu justru semakin memancing reaksi publik. Banyak warganet menilai kritik masyarakat sejak awal bukan ditujukan kepada sekolah pemenang, melainkan kepada mekanisme penilaian juri yang dianggap tidak konsisten.
Tak berhenti sampai di situ, status lain Indri juga ramai disorot karena dianggap menunjukkan sikap santai di tengah kontroversi yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Tak Sekadar Ujian, Kethoprak “Geger Pasar Bahulak” Bawa Cerita Kehidupan Masyarakat Desa
“Terakhir, mau open endorse ah. Biar makin kaya. Supaya LHKPN gw yang tersebar makin bikin shock banyak orang. Hayo yang iri makin panas, ngeledekin gw gak akan bikin gw jatuh. At the end, u will always have me kata misua,” tulisnya.
Unggahan tersebut langsung menuai respons keras dari netizen. Banyak yang mempertanyakan sikap Indri yang dinilai tidak menunjukkan refleksi atas polemik yang sedang terjadi.
Sebelumnya, Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman telah menyampaikan permintaan maaf terkait kontroversi penilaian dalam LCC Empat Pilar Kalbar.
“Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini,” ujarnya.
MPR RI juga disebut akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penjurian agar kejadian serupa tidak terulang dalam pelaksanaan lomba di daerah lain.
Diketahui, Indri Wahyuni merupakan pejabat di lingkungan Sekretariat Jenderal MPR RI. Ia menjabat sebagai Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI yang berkaitan dengan program pemasyarakatan Empat Pilar Kebangsaan di berbagai daerah Indonesia. (LZ)
Editor : Laila Zakiya