SOLOBALAPAN.COM – Nama Indri Wahyuni mendadak menjadi sorotan publik usai polemik penilaian dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat viral di media sosial.
Cuplikan video perlombaan yang beredar di TikTok hingga X memperlihatkan momen ketika peserta dari SMAN 1 Pontianak memberikan jawaban terkait mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Namun, jawaban tersebut justru dianggap salah oleh dewan juri dan membuat tim peserta mendapatkan pengurangan nilai.
Kontroversi semakin memanas karena tim lain yang memberikan jawaban dengan substansi serupa justru dinyatakan benar oleh juri.
Situasi itu memicu protes langsung dari peserta yang merasa dirugikan. Akan tetapi, keputusan dewan juri tetap dinyatakan final.
Di tengah polemik tersebut, Indri Wahyuni kemudian memberikan penjelasan yang kini ramai diperbincangkan publik.
“Artikulasi itu penting. Dewan juri menilai berdasarkan apa yang terdengar jelas. Kalau tidak terdengar, maka juri berhak memberikan pengurangan nilai,” ujarnya dalam video yang beredar luas di media sosial.
Pernyataan tersebut justru memicu gelombang kritik dari warganet. Banyak yang menilai substansi jawaban peserta sebenarnya sudah tepat sehingga penilaian dianggap tidak objektif.
Baca Juga: Empowered Parents, Extraordinary Kids! Festival ABK MIM PK Kartasura 2026 Penuh Inspirasi
Profil Indri Wahyuni di Lingkungan MPR RI
Berdasarkan informasi yang beredar, Indri Wahyuni diketahui merupakan pejabat di lingkungan Sekretariat Jenderal MPR RI.
Ia menjabat sebagai Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI yang memiliki tugas dalam pengelolaan dan pelaksanaan program sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan.
Dalam perannya tersebut, Indri berkaitan dengan berbagai kegiatan pemasyarakatan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika kepada masyarakat di berbagai daerah.
Namanya kini menjadi perhatian luas setelah keterlibatannya sebagai juri dalam ajang LCC Empat Pilar 2026 menuai kontroversi.
Selain Indri, sosok juri lain yang ikut menjadi sorotan publik adalah Dyastasita WB.
Dyastasita diketahui menjabat sebagai Kepala Biro Pengkajian Konstitusi di bawah Deputi Bidang Pengkajian dan Pemasyarakatan Konstitusi Setjen MPR RI.
Baca Juga: “Geger Pasar Bahulak”, Kethoprak Mahasiswa Teater Hidupkan Sudut Pasar Tradisional
Viral di TikTok dan X, Publik Soroti Objektivitas Penilaian
Polemik LCC Empat Pilar MPR RI Kalbar terus menjadi pembahasan hangat di media sosial.
Banyak netizen mempertanyakan konsistensi penilaian dewan juri setelah video potongan perlombaan tersebar luas.
Tidak sedikit komentar yang meminta evaluasi terhadap sistem penjurian dalam lomba tingkat nasional tersebut.
Sebagian warganet juga menilai ajang edukasi kebangsaan seharusnya tetap mengedepankan objektivitas dan keterbukaan, terutama ketika peserta mengajukan keberatan secara langsung di arena lomba.
Baca Juga: Gaya Pakaian Syifa Hadju di Bali Jadi Sorotan, Celetukan Spontannya ke El Rumi Picu Debat Netizen
MPR RI Minta Maaf dan Janji Evaluasi
Menanggapi ramainya kritik publik, Abcandra Muhammad Akbar Supratman akhirnya menyampaikan permintaan maaf atas polemik yang terjadi dalam Final LCC Empat Pilar Kalimantan Barat.
Ia mengakui adanya kelalaian dalam proses penilaian dan memastikan kejadian tersebut akan menjadi bahan evaluasi internal.
“Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini,” ujarnya.
Akbar juga menegaskan bahwa MPR RI akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pelaksanaan lomba agar insiden serupa tidak kembali terjadi di daerah lain.
Polemik ini pun menjadi pengingat penting bahwa kompetisi pendidikan bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik terhadap integritas dan profesionalisme penyelenggara. (lz)
Editor : Laila Zakiya