Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Sisi Gelap Kyai Ashari: Tak Hanya Rudapaksa, Santriwati yang menolak Juga Jadi Korban Pemukulan

Didi Agung Eko Purnomo • Sabtu, 9 Mei 2026 | 18:36 WIB
Tampang oknum kiai yang diduga mencabuli 50 santriwati Ponpes Pati, ditangkap di Wonogiri, Jawa Tengah, Kamis (7/5). (Istimewa)
Tampang oknum kiai yang diduga mencabuli 50 santriwati Ponpes Pati, ditangkap di Wonogiri, Jawa Tengah, Kamis (7/5). (Istimewa)

SOLOBALAPAN, PATI — Tabir gelap di balik sosok Kyai Ashari, pengasuh sekaligus pendiri pondok pesantren di Pati, kian terbuka lebar.

Selain dugaan tindakan rudapaksa yang mencuat, terungkap fakta baru bahwa pelaku juga kerap melakukan kekerasan fisik terhadap santriwati yang dianggap tidak patuh.

Fakta memilukan ini dibeberkan oleh salah satu korban dalam tayangan podcast Curhat Bang Denny Sumargo. Korban menyebut bahwa lingkungan di bawah kendali Ashari sangatlah keras dan penuh tekanan.

Kekerasan Fisik sebagai Alat Penekan

Menurut pengakuan korban, Kyai Ashari tidak segan-segan melayangkan pukulan jika ada santri yang membantah atau tidak menuruti keinginannya.

Baca Juga: Cerita Pilu Santriwati di YouTube Denny Sumargo: Terungkap Cara Kyai Ashari Perdaya Korban di Ponpes

Hal ini menciptakan suasana mencekam di lingkungan pesantren, di mana kepatuhan mutlak menjadi hal yang dipaksakan.

"Di sana itu keras. Kalau di situ itu kalau tidak benar langsung dipukul sama oknum tadi," ungkap salah satu korban. Aksi kekerasan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada santri yang berani bersuara atau melawan perintahnya.

Kekuasaan Mutlak sebagai Pendiri Yayasan

Dominasi Kyai Ashari di pondok tersebut sangat besar karena posisinya sebagai pendiri sekaligus pemegang otoritas tertinggi di yayasan.

Hal inilah yang membuat orang-orang di sekitar, termasuk pengurus lainnya, merasa tidak berdaya untuk melakukan intervensi.

"Yang lain enggak dibolehin sama oknumnya. Jadi dia paling tinggi," tambah korban. Status "paling tinggi" inilah yang dimanfaatkan pelaku untuk bertindak sewenang-wenang tanpa takut mendapatkan sanksi internal.

Terjebak Doktrin Hormat Guru

Korban juga menceritakan bagaimana perasaan takut berkecamuk setiap kali dipanggil ke kamar pelaku.

Meskipun mereka merasa tidak nyaman dan takut "diapa-apakan", budaya hormat terhadap guru (takzim) sering kali disalahgunakan untuk menjerat mental para santriwati.

Seperti diketahui, Kyai Ashari sempat menjadi buron sebelum akhirnya berhasil ditangkap di Wonogiri.

Kini, dengan semakin banyaknya kesaksian yang muncul, publik berharap proses hukum dapat berjalan maksimal untuk memberikan keadilan bagi para korban yang telah menderita lahir dan batin.

(did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Kyai Ashari #Rudapaksa #pemukulan #santriwati