SOLOBALAPAN, PATI — Tabir gelap di balik sosok Kyai Ashari, pengasuh sekaligus pendiri pondok pesantren di Pati, kian terbuka lebar.
Selain dugaan tindakan rudapaksa yang mencuat, terungkap fakta baru bahwa pelaku juga kerap melakukan kekerasan fisik terhadap santriwati yang dianggap tidak patuh.
Fakta memilukan ini dibeberkan oleh salah satu korban dalam tayangan podcast Curhat Bang Denny Sumargo. Korban menyebut bahwa lingkungan di bawah kendali Ashari sangatlah keras dan penuh tekanan.
Kekerasan Fisik sebagai Alat Penekan
Menurut pengakuan korban, Kyai Ashari tidak segan-segan melayangkan pukulan jika ada santri yang membantah atau tidak menuruti keinginannya.
Baca Juga: Cerita Pilu Santriwati di YouTube Denny Sumargo: Terungkap Cara Kyai Ashari Perdaya Korban di Ponpes
Hal ini menciptakan suasana mencekam di lingkungan pesantren, di mana kepatuhan mutlak menjadi hal yang dipaksakan.
"Di sana itu keras. Kalau di situ itu kalau tidak benar langsung dipukul sama oknum tadi," ungkap salah satu korban. Aksi kekerasan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada santri yang berani bersuara atau melawan perintahnya.
Kekuasaan Mutlak sebagai Pendiri Yayasan
Dominasi Kyai Ashari di pondok tersebut sangat besar karena posisinya sebagai pendiri sekaligus pemegang otoritas tertinggi di yayasan.
Hal inilah yang membuat orang-orang di sekitar, termasuk pengurus lainnya, merasa tidak berdaya untuk melakukan intervensi.
"Yang lain enggak dibolehin sama oknumnya. Jadi dia paling tinggi," tambah korban. Status "paling tinggi" inilah yang dimanfaatkan pelaku untuk bertindak sewenang-wenang tanpa takut mendapatkan sanksi internal.
Terjebak Doktrin Hormat Guru
Korban juga menceritakan bagaimana perasaan takut berkecamuk setiap kali dipanggil ke kamar pelaku.
Meskipun mereka merasa tidak nyaman dan takut "diapa-apakan", budaya hormat terhadap guru (takzim) sering kali disalahgunakan untuk menjerat mental para santriwati.
-
Pura-pura Tidur: Saat diajak tidur bersama dengan dalih menemani ziarah, korban mengaku hanya bisa menutup mata sambil ketakutan, tanpa benar-benar bisa tidur lelap.
-
Ketakutan Melawan: Rasa takut dianggap "melawan guru" menjadi alasan utama mengapa banyak korban memilih untuk diam dan menanggung beban mental tersebut sendirian dalam waktu yang lama.
Seperti diketahui, Kyai Ashari sempat menjadi buron sebelum akhirnya berhasil ditangkap di Wonogiri.
Kini, dengan semakin banyaknya kesaksian yang muncul, publik berharap proses hukum dapat berjalan maksimal untuk memberikan keadilan bagi para korban yang telah menderita lahir dan batin.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo