SOLOBALAPAN, NASIONAL — Jagat media sosial Twitter (X) tengah dihebohkan dengan munculnya kembali cuitan lawas dari sebuah akun misterius bernama Soothsayer.
Akun tersebut mendadak viral setelah prediksinya mengenai kemunculan wabah Hantavirus di tahun 2026 dianggap menjadi kenyataan.
Kehebohan ini bermula seiring dengan laporan munculnya kasus Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang dikabarkan telah menelan korban jiwa.
Warganet pun mulai mengaitkan peristiwa nyata tersebut dengan unggahan Soothsayer empat tahun silam.
Prediksi yang Terlalu Akurat?
Akun dengan handle @iamsoothsayer tersebut diketahui mengunggah sebuah cuitan singkat pada 11 Juni 2022.
Dalam cuitan yang kini telah dibagikan ribuan kali tersebut, ia menuliskan garis waktu yang sangat spesifik:
"2023: Corona ended, 2026: Hantavirus," tulis akun tersebut.
Cuitan ini menjadi perbincangan panas setelah akun base populer seperti @tanyarlfes menyoroti tanggal pengunggahan yang tertera.
Warganet merasa janggal sekaligus takjub bagaimana seseorang bisa memprediksi jenis virus dan tahun kejadiannya dengan sangat tepat jauh sebelum peristiwa itu terjadi.
Sosok Misterius di Balik Layar
Seiring dengan viralnya cuitan tersebut, banyak warganet yang mencoba menelusuri siapa sebenarnya pemilik akun Soothsayer. Namun, informasi yang didapat sangat terbatas:
-
Bergabung Sejak: Juni 2022.
-
Bio Akun: Menuliskan deskripsi singkat "Membaca masa depan".
-
Aktivitas: Akun tersebut tampak tidak aktif lagi setelah cuitan terakhirnya pada 18 Juni 2022.
Tanggapan Warganet
Beragam teori pun bermunculan di kolom komentar. Ada yang menganggap ini sebagai kebetulan belaka, namun tak sedikit yang menduga adanya penggunaan fitur pengaturan tanggal atau bahkan teori konspirasi.
"Lihat tahun ngetweetnya deh, kok bisa?" tulis salah satu warganet yang merasa merinding dengan ketepatan ramalan tersebut.
Hingga saat ini, cuitan tersebut terus mendapatkan interaksi tinggi.
Di sisi lain, otoritas kesehatan dunia memang sedang memantau perkembangan kasus di kapal pesiar MV Hondius, namun masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak menelan mentah-mentah ramalan yang beredar di internet tanpa dasar medis yang jelas.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo