SOLOBALAPAN.COM - Kabar meninggalnya dr. Myta Aprilia Azmi mengguncang dunia medis Indonesia.
Dokter muda yang tengah menjalani masa internship di Jambi itu wafat setelah sempat menjalani perawatan intensif di ICU RSUP Dr. Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang, Jumat (1/5/2026).
Di tengah duka, muncul pertanyaan besar di publik: apakah beban kerja selama masa internship menjadi faktor yang memperburuk kondisi kesehatannya?
Jejak Dedikasi dari Catatan Pribadi
Sebelum kabar duka ini mencuat, dr. Myta dikenal sebagai sosok yang penuh dedikasi. Hal itu tergambar dari catatan pribadinya di LinkedIn yang kini ramai diperbincangkan.
Ia menggambarkan dirinya sebagai dokter umum yang tengah menyelesaikan masa magang dengan semangat tinggi dalam melayani pasien.
Dalam tulisannya, ia menekankan komitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan yang aman, penuh empati, dan profesional.
Tak hanya soal pekerjaan, dr. Myta juga menuliskan pentingnya keseimbangan hidup.
Ia menyebut keluarga sebagai sumber motivasi, sekaligus tetap meluangkan waktu untuk hal-hal sederhana seperti merawat hewan peliharaan dan bermain gim.
Namun, di balik narasi dedikasi tersebut, publik mulai menyoroti realitas yang mungkin berbeda di lapangan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Teken Perpres Nomor 27 Tahun 2026: Potongan Ojol Resmi Maksimal 8 Persen!
Kronologi Kondisi Memburuk
Berdasarkan informasi yang beredar, kondisi kesehatan dr. Myta dilaporkan mulai menurun sejak Maret 2026 saat bertugas di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi.
Meski telah merasakan gejala sakit, ia diduga tetap menjalani jadwal jaga malam dalam kondisi demam tinggi dan sesak napas. Kondisinya kemudian memburuk hingga saturasi oksigen turun di bawah 80 persen.
Ia akhirnya dirujuk ke RSMH Palembang untuk mendapatkan penanganan intensif sebelum dinyatakan meninggal dunia.
Hingga kini, penyebab pasti wafatnya dr. Myta belum diumumkan secara resmi oleh pihak rumah sakit.
“Kami belum mendapat izin untuk menyampaikan informasi mengenai dr. Myta. Saat ini kami masih menunggu izin dari Kementerian Kesehatan,” kata Siti Khalimah saat dikonfirmasi pada Jumat (1/5/2026) malam.
Baca Juga: BEM Soloraya Turun ke Jalan di Tugu Kartasura, Soroti Upah Buruh hingga Nasib Guru Honorer
Sorotan Beban Kerja Dokter Internship
Kasus ini memicu respons dari berbagai pihak, termasuk praktisi kesehatan dr. Gia Pratama. Melalui media sosial, ia menyampaikan kritik terhadap sistem kerja dokter muda.
"Untuk teman-teman dokter internship, lelahmu valid. Sakitmu harus didengar. Keselamatanmu harus dijaga," tulis dr. Gia dalam unggahannya, seperti dikutip pada Sabtu (2/5/2026).
Ia menegaskan bahwa dokter internship tetap manusia yang memiliki batas fisik, bukan tenaga kerja tanpa batas.
"Teman-teman bukan tenaga kerja murah dan bukan mesin jaga. Jam kerja yang manusiawi, supervisi yang layak, lingkungan kerja yang aman, dan penanganan medis saat sakit; semua itu adalah hak dasar," tegasnya.
Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran publik bahwa sistem kerja yang belum ideal bisa berdampak serius terhadap kesehatan tenaga medis muda.
Baca Juga: Langkah Pelan Menjaga Ingatan Kota Solo, Anak Muda Hidupkan Baluwarti Lewat Telusur Berkain
Duka dan Tuntutan Evaluasi
Ucapan duka juga disampaikan oleh berbagai pihak, termasuk Komite Internsip Kedokteran Indonesia (KIKI) Sumatera Selatan.
"Segenap keluarga besar Komite Internsip Kedokteran Indonesia (KIKI) Provinsi Sumatera Selatan mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya rekan sejawat kami: dr. Myta Aprilia Azmi," tulis pernyataan resmi dalam instagram @dinkesprovsumsel, Sabtu (2/5/2026).
"Kepergian beliau adalah kehilangan besar bagi dunia kedokteran di Sumsel. Selamat jalan, dr. Myta. Jasamu dalam pengabdian kesehatan akan selalu kami kenang," tambahnya dalam unggahan tersebut.
"Kami berdoa semoga almarhumah husnul khotimah, segala amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT, diampuni segala khilafnya, dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya," pungkas kutipan doa dari rekan sejawat.
Di sisi lain, keluarga almarhumah menyatakan dukungan terhadap upaya investigasi agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami mendukung langkah IKA FK Unsri untuk dilakukan investigasi, agar ada perbaikan sistem kerja bagi dokter internship ke depan. Kami tidak ingin ada kejadian serupa terulang,” kata dr Pebri Mahardika, perwakilan keluarga almarhumah. (lz)
Editor : Laila Zakiya