Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Siap-Siap! Pemerintah Bakal Hapus Prodi yang Tidak Lagi Relevan, Inilah 8 Bidang Industri yang Jadi Prioritas Indonesia Emas

Didi Agung Eko Purnomo • Selasa, 28 April 2026 | 20:21 WIB
Ilustrasi perguruan tinggi.
Ilustrasi perguruan tinggi.

SOLOBALAPAN, NASIONAL — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tengah melakukan evaluasi besar-besaran terhadap relevansi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja.

Sebagai langkah ekstrem, pemerintah berencana menutup sejumlah program studi (prodi) yang dianggap tidak lagi relevan dan mengalami penumpukan lulusan (oversupply).

Langkah ini diambil agar fokus pendidikan tinggi di Indonesia bisa bergeser ke delapan industri strategis nasional yang diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.

Baca Juga: Kemendikti Kaji Penghapusan Prodi Keguruan, Lulusannya Capai 490 Ribu Per Tahun Tapi Hanya 20 Ribu yang Terserap

Daftar 8 Bidang Industri Strategis Nasional

Berdasarkan keterangan Sekjen Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, dan Dirjen Risbang, Fauzan Adziman, delapan sektor yang akan menjadi pilar utama tersebut meliputi:

  1. Kesehatan: Fokus pada kemandirian alat kesehatan dan obat-obatan.

  2. Ketahanan Pangan: Pengembangan teknologi pertanian dan kedaulatan pangan.

  3. Digitalisasi: Terutama pada pengembangan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) dan semikonduktor.

  4. Hilirisasi & Industrialisasi: Pengolahan sumber daya alam di dalam negeri agar memiliki nilai tambah tinggi.

  5. Pertahanan: Penguatan teknologi alutsista dan keamanan nasional.

  6. Material Maju dan Manufaktur: Inovasi bahan baku industri dan sistem produksi modern.

  7. Energi: Fokus pada transisi energi baru terbarukan (EBT).

  8. Maritim: Optimalisasi potensi ekonomi biru dan teknologi perkapalan.

Pergeseran dari Market-Driven ke Market-Driving

Badri Munir Sukoco menyoroti bahwa banyak kampus di Indonesia saat ini terjebak dalam strategi market-driven, yakni hanya membuka prodi berdasarkan apa yang sedang "laris" atau populer di mata calon mahasiswa.

Akibatnya, terjadi ledakan lulusan di bidang-bidang tertentu yang sebenarnya sudah jenuh di pasar kerja.

Ke depan, pemerintah mendorong strategi market-driving, di mana perguruan tinggi harus berani membuka prodi baru yang sesuai dengan kebutuhan delapan industri strategis di atas, meskipun prodi tersebut mungkin belum populer saat ini.

"Perlu ada kerelaan dari masing-masing rektor untuk melakukan kajian itu, disesuaikan agar prodinya relevan. Kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi," tegas Badri.

Dukungan Beasiswa LPDP STEM 2026

Sejalan dengan kebijakan ini, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) juga telah meluncurkan program beasiswa khusus, yaitu Beasiswa STEM Industri Strategis Tahun 2026.

Beasiswa jenjang S2 dan S3 ini difokuskan untuk mencetak SDM unggul di delapan bidang utama tersebut, ditambah bidang pendukung seperti Kebijakan Publik, Hukum, Bisnis, serta Industri Kreatif.

Langkah integrasi antara dunia pendidikan, riset, dan industri ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di angka 12 hingga 15 persen pada sektor-sektor strategis tersebut.

(did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Bidang Industri #Indonesia Emas #prodi #pemerintah