SOLOBALAPAN, NASIONAL — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) tengah menyiapkan langkah berani untuk menekan angka pengangguran terdidik di Indonesia.
Plt Sekjen Kemendikti Saintek, Badri Munir Sukoco, mengungkapkan adanya rencana untuk mengevaluasi hingga menutup program studi (prodi) yang dianggap sudah tidak relevan dengan kebutuhan industri, termasuk prodi keguruan.
Dalam Simposium Kependudukan 2026, Senin (27/3), Badri menyoroti adanya ketimpangan besar (mismatch) antara jumlah lulusan perguruan tinggi dengan serapan tenaga kerja di lapangan.
Ironi Lulusan Keguruan: Melimpah Tapi Sulit Kerja
Badri memaparkan data statistik yang cukup memprihatinkan.
Saat ini, prodi ilmu sosial mendominasi pendidikan tinggi hingga 60 persen, di mana bidang kependidikan atau keguruan menjadi penyumbang lulusan terbesar.
"Keguruan kita meluluskan tiap tahun 490 ribu lulusan. Sementara pada saat yang sama, pasar untuk bidang ini hanya sekitar 20 ribu. Jadi, 470 ribu sisanya berpotensi tersisih dan menjadi pengangguran terdidik," tegas Badri.
Kondisi ini dipicu oleh strategi kampus yang cenderung market driven atau hanya membuka prodi berdasarkan tren pasar saat ini tanpa mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang, sehingga terjadi penumpukan lulusan (oversupply).
Transformasi ke Strategi Market Driving
Guna menyongsong Indonesia Emas 2045, Kemendikti mendorong perguruan tinggi beralih ke strategi market driving.
Alih-alih mengikuti tren, kampus diminta membuka prodi yang mendukung delapan industri strategis yang tengah digagas pemerintah.
Langkah-langkah yang diusulkan meliputi:
-
Penutupan Prodi: Memilih dan memilah prodi yang sudah terlalu banyak lulusannya namun sedikit serapan kerjanya untuk ditutup.
-
Program Interdisipliner: Mendorong skema major-minor. Misalnya, mahasiswa jurusan Teknik (Engineering) bisa mengambil minor Manajemen, atau mahasiswa Kedokteran mengambil minor Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain) untuk pengelolaan RS.
-
Relevansi Industri: Menyesuaikan kurikulum agar lulusan bisa langsung berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan di atas 8 persen.
Antisipasi Oversupply Dokter
Selain keguruan, Badri juga memperingatkan potensi kelebihan pasokan tenaga medis.
Berdasarkan standar World Bank, Indonesia diprediksi akan mengalami oversupply dokter pada tahun 2028 jika pembukaan prodi kedokteran tidak dikendalikan dan distribusinya tidak diratakan ke berbagai daerah.
Kemendikti berharap para Rektor memiliki "kerelaan" untuk melakukan kajian mendalam dan menyesuaikan prodi di kampus masing-masing agar sejalan dengan visi negara maju.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo