SOLOBALAPAN.COM – Nama Diyah Kusumastuti mendadak viral di media sosial setelah kasus dugaan penganiayaan anak di Daycare Little Aresha, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, menjadi sorotan nasional.
Sosok yang disebut sebagai Ketua Yayasan itu kini berada di pusat penyidikan setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian.
Kasus ini mencuat usai penggerebekan yang dilakukan Polresta Yogyakarta pada Jumat, 24 April 2026.
Dari pengungkapan tersebut, aparat menemukan dugaan kekerasan sistematis terhadap bayi dan balita yang dititipkan di tempat penitipan anak tersebut.
Diyah Kusumastuti Jadi Sorotan Publik
Polisi menetapkan total 13 orang tersangka dalam perkara ini. Mereka terdiri dari pimpinan yayasan, kepala sekolah, hingga para pengasuh.
Kapolresta Jogja Kombes Eva Guna Pandia mengungkapkan identitas tersangka utama.
"Yang pertama itu inisial DK, Ketua Yayasan. Yang kedua inisial AP, kepala sekolah. Sebelas orang lainnya berperan sebagai pengasuh," jelas Pandia dalam jumpa pers di Mapolresta Jogja, Senin (27/4) sore.
Inisial DK yang dimaksud kemudian ramai dikaitkan dengan Diyah Kusumastuti, sehingga namanya viral dan banyak dicari publik.
Baca Juga: Menjelang Idul Adha, Harap-Harap Cemas Peternak di Sukoharjo
Dugaan Anak Diikat Sejak Pagi hingga Sore
Kasus ini mengejutkan masyarakat karena dugaan perlakuan tak manusiawi terhadap anak-anak yang masih balita.
Kapolresta Yogyakarta menyebut para korban ditempatkan di ruangan penuh sesak dengan sirkulasi buruk.
"Perlakuan tak manusiawi ini salah satunya penempatan dalam satu ruangan yang overload dimana sirkulasi udaranya sangat minim. Mereka diikat menggunakan kain (yang) dibuat seperti tali. Mengikatnya ke pintu," tutur Eva Pandia, Senin (27/4).
Kasatreskrim Polresta Yogyakarta Kompol Riski Adrian menambahkan perlakuan itu diduga berlangsung hampir sepanjang hari.
"Dari pagi sampai sore (diikat). Nanti setelah mau makan baru dipakaikan baju terus difoto dikirim ke orang tua. (Dilepas ikatannya) palingan waktu saat mandi, saat makan atau saat mau dijemput orang tua," tutup Adrian.
Korban Diduga Capai 53 Anak
Polisi menyebut jumlah korban sementara mencapai 53 anak dari total 103 anak yang terdaftar di daycare tersebut.
Sebagian korban diduga mengalami luka di area tangan dan kaki akibat ikatan.
Polisi juga sudah melakukan visum terhadap sejumlah anak untuk memperkuat alat bukti.
Motif Ekonomi Ikut Disorot
Selain dugaan kekerasan, polisi juga mendalami kemungkinan motif ekonomi di balik operasional daycare tersebut.
Jumlah anak yang ditampung dinilai tidak sebanding dengan jumlah pengasuh.
"Yang disampaikan Pak Kapolresta ya benar, sangat benar, motif ekonomi. Karena masak satu orang (pengasuh) harus menjaga tujuh sampai delapan orang (anak)," kata Adrian.
Ia juga menjelaskan sistem kerja yang tidak ideal.
"Satu shift itu ada yang 2 (pengasuh), ada yang 3, ada yang 4. Artinya seharusnya kan dia membatasi (jumlah anak yang diasuh). Karena dari keterangan dari wali murid, mereka dijanjikan satu miss itu dua sampai tiga anak. Tapi kenapa masih menampung terus, berarti kan ini memang ada mencari keuntungan ya," sambungnya.
Baca Juga: Sinopsis Toy Story 5: Perjuangan Woody Melawan Invasi Teknologi Digital, Siap Tayang Juni 2026!
Dugaan Dilakukan Secara Sistematis
Komisioner KPAI RI Dyah Puspitarini menilai kasus ini memiliki pola yang terstruktur.
"KPAI menemukan ada indikasi semacam SOP atau pedoman yang dilakukan oleh tersangka bahwa kekerasan ini terjadi secara sistem otomatis dan terstruktur karena dilakukan oleh lebih dari 3, 4 bahkan 10 orang," ujar Dyah.
Struktur Yayasan Ikut Diperiksa
Selain Diyah Kusumastuti, polisi juga mendalami peran pihak lain dalam struktur yayasan.
Nama-nama pejabat pembina, penasihat, hingga unsur pengelola turut menjadi sorotan.
Bahkan disebut ada akademisi dan aparat penegak hukum yang tercatat dalam struktur organisasi yayasan, meski keterlibatan langsung mereka masih didalami.
Pemkot Jogja Siapkan Solusi Darurat
Pasca kasus ini mencuat, Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan 15 daycare pengganti untuk menampung anak-anak yang sebelumnya dititipkan di Little Aresha.
DPRD Kota Jogja juga mendorong audit menyeluruh terhadap tempat penitipan anak agar kasus serupa tidak terulang kembali.
Viralnya nama Diyah Kusumastuti tak lepas dari posisinya sebagai figur sentral di Daycare Little Aresha Jogja. Dengan 13 tersangka dan puluhan korban anak, kasus ini menjadi salah satu dugaan kekerasan daycare terbesar yang pernah terungkap di Yogyakarta. Polisi masih terus mendalami kemungkinan tersangka baru dan peran masing-masing pihak. (lz)
Editor : Laila Zakiya