SOLOBALAPAN, PURWAKARTA — Masih ingat dengan sosok Syamsiah, guru di SMAN 1 Purwakarta yang sempat viral karena tetap sabar meski diejek oleh para siswanya?
Sosok yang akrab disapa Bu Atun ini kembali mencuri perhatian publik pada Selasa (21/4/2026).
Bukan karena konflik baru, melainkan karena aksi kedermawanannya yang luar biasa di tengah kesederhanaan hidup yang ia jalani.
Sisi lain kehidupan Bu Atun terungkap saat tokoh masyarakat Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berkunjung langsung ke sekolah tempatnya mengajar.
Baca Juga: Sama-sama Single, Momen Dedi Mulyadi Bertemu Rieta Amilia Bikin Netizen Heboh Jodohkan Keduanya!
Dalam pertemuan tersebut, terungkap bahwa sang guru PKN ini setiap harinya berangkat mengajar menggunakan angkutan kota (angkot) demi membantu ekonomi para sopir angkot yang kini sepi penumpang.
Tolak Mewah dan Pilih Donasikan Rp25 Juta
Tersentuh dengan dedikasi dan kesabaran Bu Atun, Dedi Mulyadi secara spontan memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp25 juta.
Namun, alih-alih menggunakan uang tersebut untuk membeli kendaraan pribadi atau keperluan konsumtif lainnya, Bu Atun justru memberikan jawaban yang mengejutkan sekaligus mengharukan.
Ia memilih untuk mendonasikan seluruh uang pemberian tersebut kepada yayasan anak yatim yang ia bina tepat di depan kediamannya. "Saya niatkan niat baik bapak menjadi ganda.
Rp25 juta akan saya sumbangkan kepada yayasan yatim yang saya bina. Karena saya punya yayasan yatim di depan saya," ujar Bu Atun dengan penuh kerendahan hati.
Nasib Sembilan Murid yang Mengejek
Terkait kasus video viral yang sempat memperlihatkan sembilan siswanya bertindak tidak sopan, Bu Atun menegaskan bahwa ia telah memaafkan mereka secara tulus sejak awal.
Baginya, sanksi yang diberikan sekolah kepada para siswa tersebut adalah bagian dari proses pendidikan karakter, bukan didasari oleh rasa benci atau dendam pribadi.
Bu Atun berpesan bahwa setiap pendidik harus tetap mengedepankan sisi kemanusiaan dalam menangani kenakalan remaja. "Menghukum itu bukan membenci, menghukum itu menyayangi," tegasnya.
Ia bahkan menolak membawa masalah tersebut ke ranah hukum karena yakin bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berubah menjadi lebih baik melalui proses pembinaan.
Sosok Pendidik Pancasila Sejati
Mengabdi sejak tahun 2003, Bu Atun memang dikenal sebagai pribadi yang sangat memegang teguh nilai-nilai moral.
Sebagai guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKN), ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan contoh nyata tentang kesabaran dan pemaafan kepada peserta didiknya.
Keyakinannya bahwa "yang nakal tidak selamanya nakal" menjadi landasan utama bagi Bu Atun dalam mengajar.
Sikap merakyat dengan konsisten naik angkot serta kepeduliannya terhadap anak yatim kini menjadikannya simbol inspiratif bagi dunia pendidikan Indonesia, membuktikan bahwa martabat seorang guru tidak ditentukan oleh harta, melainkan oleh keluasan hati.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo