Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Kenapa DKI Jakarta Musnahkan 6,9 Ton Ikan Sapu-Sapu? Apa Bahayanya? Simak 4 Alasan Ilmiah di Balik Pembersihan Besar-Besaran Ini

Didi Agung Eko Purnomo • Selasa, 21 April 2026 | 22:53 WIB
Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) mengangkat jaring ikan sapu-sapu di kawasan Setu Babakan, Jakarta Selatan, Jumat (17/04/2026).
Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) mengangkat jaring ikan sapu-sapu di kawasan Setu Babakan, Jakarta Selatan, Jumat (17/04/2026).

SOLOBALAPAN, JAKARTA — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengambil langkah ekstrem guna menyelamatkan ekosistem perairan ibu kota.

Sejak Jumat (17/4/2026), operasi penangkapan massal berhasil menjaring sekitar 6,98 ton atau setara 68.880 ekor ikan sapu-sapu di berbagai lokasi sungai dan danau di Jakarta.

Ikan-ikan hasil tangkapan tersebut kemudian dimusnahkan dengan cara dibelah dan dikubur.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada penyelewengan hasil tangkapan serta memutus rantai populasi spesies yang selama ini dianggap sebagai "hama" sungai tersebut.

Meskipun sering dianggap membantu membersihkan akuarium, ikan sapu-sapu ternyata menyimpan bahaya besar bagi alam liar.

Status Spesies Invasif yang Agresif

Faktor utama pemusnahan ini adalah status ikan sapu-sapu sebagai spesies invasif. Ikan dengan nama ilmiah Hypostomus plecostomus ini mampu berkembang biak dengan sangat cepat bahkan dalam ukuran tubuh yang masih kecil.

Baca Juga: Kenapa Ikan Sapu-Sapu Harus Dikubur? Termasuk Hewan Invasif, Ternyata Ini Rahasia Kekuatan Bertahan Hidupnya yang Luar Biasa

Tanpa adanya predator alami di perairan Indonesia, populasinya meledak dan mendominasi habitat sehingga menyingkirkan ikan-ikan lokal asli Jakarta.

Perusak Struktur Sungai dan Pemicu Erosi

Ikan sapu-sapu memiliki perilaku merusak yang berdampak langsung pada fisik lingkungan. Mereka memiliki kebiasaan membangun sarang dengan cara menggali lubang di tebing dan dasar sungai.

Aktivitas ini mempercepat pengikisan permukaan tanah atau erosi di bantaran sungai, yang pada akhirnya merusak struktur habitat bagi organisme lain.

Persaingan Makanan yang Tidak Seimbang

Sebagai omnivora oportunistik, ikan sapu-sapu dikenal sangat agresif dalam mencari makan. Mereka tidak hanya memakan alga atau lumut, tetapi juga mengonsumsi telur ikan lain dan detritus.

Spesies lokal yang bergantung pada sumber makanan yang sama kalah bersaing dengan sifat agresif ikan ini, sehingga keanekaragaman hayati ikan asli di sungai Jakarta menurun drastis.

Potensi Penyebaran Penyakit dan Patogen

Ikan sapu-sapu dikenal memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa, bahkan mampu hidup di perairan yang sangat tercemar dan minim oksigen.

Kondisi ini membuat mereka berpotensi menjadi pembawa (carrier) patogen atau penyakit baru yang dapat menginfeksi ikan lokal.

Secara global, ancaman ini telah diakui oleh para peneliti dunia sebagai salah satu penyebab utama menurunnya kualitas air dan hilangnya populasi ikan asli setempat.

Di habitat aslinya di Amerika Selatan, populasi mereka terkendali karena adanya predator alami seperti Peacock Bass.

Namun di Jakarta, pelepasan ikan sapu-sapu oleh pemilik akuarium yang kurang bertanggung jawab telah memicu "bencana" ekologis yang memaksa pemerintah turun tangan secara masif.

(did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Ikan Sapu-Sapu #dki jakarta