SOLOBALAPAN, JAKARTA — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengambil langkah ekstrem guna menyelamatkan ekosistem perairan ibu kota.
Sejak Jumat (17/4/2026), operasi penangkapan massal berhasil menjaring sekitar 6,98 ton atau setara 68.880 ekor ikan sapu-sapu di berbagai lokasi sungai dan danau di Jakarta.
Ikan-ikan hasil tangkapan tersebut kemudian dimusnahkan dengan cara dibelah dan dikubur.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada penyelewengan hasil tangkapan serta memutus rantai populasi spesies yang selama ini dianggap sebagai "hama" sungai tersebut.
Meskipun sering dianggap membantu membersihkan akuarium, ikan sapu-sapu ternyata menyimpan bahaya besar bagi alam liar.
Status Spesies Invasif yang Agresif
Faktor utama pemusnahan ini adalah status ikan sapu-sapu sebagai spesies invasif. Ikan dengan nama ilmiah Hypostomus plecostomus ini mampu berkembang biak dengan sangat cepat bahkan dalam ukuran tubuh yang masih kecil.
Tanpa adanya predator alami di perairan Indonesia, populasinya meledak dan mendominasi habitat sehingga menyingkirkan ikan-ikan lokal asli Jakarta.
Perusak Struktur Sungai dan Pemicu Erosi
Ikan sapu-sapu memiliki perilaku merusak yang berdampak langsung pada fisik lingkungan. Mereka memiliki kebiasaan membangun sarang dengan cara menggali lubang di tebing dan dasar sungai.
Aktivitas ini mempercepat pengikisan permukaan tanah atau erosi di bantaran sungai, yang pada akhirnya merusak struktur habitat bagi organisme lain.
Persaingan Makanan yang Tidak Seimbang
Sebagai omnivora oportunistik, ikan sapu-sapu dikenal sangat agresif dalam mencari makan. Mereka tidak hanya memakan alga atau lumut, tetapi juga mengonsumsi telur ikan lain dan detritus.
Spesies lokal yang bergantung pada sumber makanan yang sama kalah bersaing dengan sifat agresif ikan ini, sehingga keanekaragaman hayati ikan asli di sungai Jakarta menurun drastis.
Potensi Penyebaran Penyakit dan Patogen
Ikan sapu-sapu dikenal memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa, bahkan mampu hidup di perairan yang sangat tercemar dan minim oksigen.
Kondisi ini membuat mereka berpotensi menjadi pembawa (carrier) patogen atau penyakit baru yang dapat menginfeksi ikan lokal.
Secara global, ancaman ini telah diakui oleh para peneliti dunia sebagai salah satu penyebab utama menurunnya kualitas air dan hilangnya populasi ikan asli setempat.
Di habitat aslinya di Amerika Selatan, populasi mereka terkendali karena adanya predator alami seperti Peacock Bass.
Namun di Jakarta, pelepasan ikan sapu-sapu oleh pemilik akuarium yang kurang bertanggung jawab telah memicu "bencana" ekologis yang memaksa pemerintah turun tangan secara masif.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo