SOLOBALAPAN, EKOSISTEM - Ikan sapu-sapu kini menjadi ancaman serius bagi perairan tawar di Indonesia, terutama di sungai-sungai besar seperti Ciliwung.
Dikenal sebagai spesies invasif, ikan ini memiliki daya tahan tubuh yang sangat tangguh sehingga sulit untuk dimusnahkan.
Salah satu metode yang sering dilakukan oleh aktivis lingkungan maupun petugas kebersihan adalah mematahkan tubuhnya lalu menguburnya di dalam tanah.
Bukan tanpa alasan, langkah ini diambil berdasarkan fakta ilmiah mengenai kemampuan adaptasi ikan tersebut.
1. Memutus Akses Oksigen Total
Ikan sapu-sapu memiliki kemampuan unik untuk bertahan hidup di luar air lebih lama dibandingkan ikan lainnya.
Melansir The Science Times, ikan ini mampu memperlambat aktivitas metabolisme tubuhnya saat berada di darat.
Jika hanya dibiarkan tergeletak di pinggir sungai, ikan ini masih berpotensi hidup kembali jika terkena air hujan atau terpapar air secara tidak sengaja.
Penguburan berfungsi untuk menutup akses oksigen secara total dan memastikan ikan benar-benar mati secara permanen.
2. Toleransi Hipoksia yang Tinggi
Berdasarkan penelitian dalam jurnal Scientific Reports tahun 2025, beberapa jenis ikan seperti sapu-sapu memiliki toleransi hipoksia.
Artinya, sel-sel tubuh mereka bisa bertahan meski dalam kondisi kadar oksigen yang sangat rendah sebelum akhirnya terjadi kerusakan saraf.
Penguburan mempercepat proses penghentian fungsi organ yang masih aktif. Tanpa penguburan, proses menuju kematian ikan ini berlangsung lambat, yang memberikan peluang bagi mereka untuk bertahan hidup lebih lama di permukaan tanah.
3. Mengunci Kandungan Logam Berat
Ikan sapu-sapu dikenal sebagai "pembersih" yang sangat toleran terhadap polusi. Namun, hal ini membuat tubuh mereka menjadi gudang racun.
Penelitian dalam jurnal Heliyon (2023) menyebutkan bahwa ikan sapu-sapu di perairan tercemar mengandung kadar logam berat tinggi seperti merkuri dan timbal.
Jika bangkainya dibiarkan membusuk di tempat terbuka:
-
Mencemari Lingkungan: Cairan pembusukan yang membawa logam berat bisa meresap ke tanah permukaan.
-
Meracuni Rantai Makanan: Hewan lain (seperti kucing atau burung) yang memakan bangkai tersebut bisa ikut keracunan.
-
Resiko Hanyut: Air hujan bisa membawa bangkai kembali ke sungai dan menyebarkan polutan lebih luas.
Dengan dikubur, polutan tersebut akan terpendam di dalam tanah secara aman dan tidak lagi membahayakan makhluk hidup lainnya di ekosistem terbuka.
Sekilas Fakta Ikan Sapu-Sapu (Plecostomus):
-
Status: Hewan Invasif (mengancam spesies asli).
-
Habitat: Perairan tawar, sangat toleran terhadap limbah.
-
Bahaya: Merusak ekosistem, mengonsumsi telur ikan lain, dan mengandung logam berat.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo