SOLOBALAPAN.COM - Pencarian link video viral bertajuk Ibu Tiri vs Anak Tiri 7 Menit kembali ramai di media sosial.
Setelah versi kebun sawit beredar luas, kini muncul narasi lanjutan yang disebut berpindah ke dapur dengan label No Sensor Full Durasi.
Konten tersebut ramai diburu pengguna internet di TikTok, X, Telegram, hingga grup percakapan.
Banyak akun anonim memanfaatkan rasa penasaran publik dengan menyebarkan tautan yang diklaim berisi video lengkap.
Namun, di balik judul sensasional itu, publik justru diminta waspada. Sebab tautan semacam ini kerap menjadi modus lama kejahatan digital.
Baca Juga: 236 Desa di Boyolali Siap Gelar Pilkades 2027, Dispermasdes Tunggu Regulasi
Viral dari Kebun Sawit Kini Geser ke Dapur
Fenomena video ini bermula dari potongan klip berdurasi singkat yang disebut memiliki versi penuh sekitar tujuh menit.
Narasi yang dibangun menyebut video tersebut merupakan kejadian nyata di Indonesia.
Belakangan, muncul variasi judul baru yang menyebut adegan bergeser dari kebun sawit ke dapur.
Tambahan kata Part 2, Full Video, hingga No Sensor sengaja digunakan untuk memancing klik lebih banyak.
Padahal, hasil penelusuran terhadap video yang beredar justru menunjukkan banyak kejanggalan.
Diduga Hanya Kompilasi Konten Asing
Analisis literasi digital menunjukkan adanya perbedaan mencolok dalam potongan video yang beredar.
Mulai dari kualitas gambar, pakaian pemeran, hingga latar tempat yang tidak konsisten.
Hal itu mengindikasikan video tersebut bukan satu rangkaian utuh, melainkan hasil kompilasi dari berbagai sumber berbeda.
Selain itu, ditemukan detail berupa merek produk luar negeri pada pakaian pemeran.
Salah satu petunjuk disebut mengarah pada produk insektisida dari Taiwan.
Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa video bukan berasal dari Indonesia, melainkan konten asing yang dikemas ulang menggunakan narasi lokal agar cepat viral.
Jangan Asal Klik, Saldo Rekening Bisa Ludes
Yang paling berbahaya bukan isi videonya, melainkan tautan yang disebarkan. Banyak link viral semacam ini justru menjadi pintu masuk kejahatan siber.
Modus yang paling sering digunakan antara lain:
-
Phishing, tautan palsu untuk mencuri username, password, email, hingga data mobile banking.
-
Malware/Spyware, file berbahaya yang dapat membaca SMS OTP dan mengambil akses perangkat.
-
Ransomware, program jahat yang mengunci perangkat dan meminta tebusan.
“Dampaknya tidak main-main. Pengguna bisa kehilangan akses akun hingga saldo rekening terkuras habis setelah mengklik atau mengunduh file dari link mencurigakan,” demikian peringatan yang perlu diwaspadai publik.
Artinya, rasa penasaran beberapa menit bisa berujung kerugian besar.
Baca Juga: Viral! Bayi di Riau Diberi Nama Ali Khamenei, Terinspirasi Pemimpin Iran yang Gugur
Bisa Kena Jerat Hukum
Selain ancaman finansial, pengguna juga perlu memahami risiko hukum jika ikut menyebarkan tautan bermuatan asusila.
Berdasarkan Undang-Undang ITE, distribusi konten yang melanggar kesusilaan dapat dikenai hukuman pidana penjara hingga enam tahun dan denda maksimal Rp1 miliar.
“Membagikan link video asusila di grup WhatsApp atau kolom komentar medsos, meskipun hanya iseng, sudah termasuk kategori mendistribusikan konten ilegal,” tegas aturan hukum yang berlaku.
Dengan kata lain, sekadar ikut membagikan link di grup pun bisa menimbulkan konsekuensi serius.
Kenapa Konten Seperti Ini Mudah Viral?
Fenomena ini menunjukkan pola lama di dunia digital. Konten sensasional diberi label lokal, ditambah kata viral, full durasi, part 2, atau no sensor, lalu disebarkan akun anonim demi trafik dan keuntungan.
Saat banyak orang penasaran, pelaku tinggal memanen klik, data, atau pemasukan iklan dari situs jebakan.
Imbauan untuk Pengguna Internet
Masyarakat diimbau tidak mudah percaya pada tautan yang beredar tanpa sumber jelas. Jika menemukan link mencurigakan:
-
Jangan klik sembarangan
-
Jangan unduh file APK atau aplikasi tak dikenal
-
Jangan isi data pribadi
-
Jangan ikut menyebarkan ke orang lain
-
Gunakan keamanan tambahan di perangkat dan akun perbankan
Di era digital saat ini, kewaspadaan jauh lebih penting daripada rasa penasaran sesaat. Sebab sekali salah klik, bukan cuma data yang hilang, saldo rekening pun bisa ludes misterius. (lz)
Editor : Laila Zakiya