SOLOBALAPAN.COM — Stabilitas politik Iran dilaporkan terguncang hebat.
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru saja naik takhta, Mojtaba Khamenei, dikabarkan dalam kondisi tak sadarkan diri dan tengah menjalani perawatan medis darurat di kota suci Qom.
Laporan yang dilansir dari The Economic Times menyebutkan bahwa intelijen AS dan Israel telah berbagi memo diplomatik yang mengonfirmasi kondisi parah sang pemimpin.
Baca Juga: Kerugian Perang Harus Dibayar! Iran Beri Syarat Berat untuk Buka Kembali Jalur Selat Hormuz
Kondisi Kritis dan Lumpuhnya Pengambilan Keputusan
Berdasarkan memo yang dilihat oleh The Times, dilansir dari JawaPos.com, Mojtaba Khamenei saat ini tidak mampu terlibat dalam pengambilan keputusan strategis apa pun bagi rezim Iran.
Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, sosoknya memang tidak pernah lagi tampil di depan publik.
"Mojtaba Khamenei sedang dirawat di Qom dalam kondisi kritis. Rezim saat ini seolah kehilangan komando pusat," tulis laporan tersebut, Selasa (7/4/2026).
Ultimatum Mengerikan Donald Trump
Kabar kritisnya Mojtaba muncul tepat saat Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan gertakan paling kerasnya.
Trump memberikan tenggat waktu hingga Selasa (7/4) pukul 20.00 ET bagi Iran untuk menyepakati perjanjian damai atau menghadapi kehancuran total.
Trump menegaskan tidak akan ada lagi perpanjangan waktu bagi Teheran. Jika kesepakatan tidak tercapai, AS mengancam akan melumpuhkan seluruh infrastruktur vital Iran.
"Mereka punya waktu hingga besok. Setelah itu, mereka tidak akan memiliki jembatan. Mereka tidak akan memiliki pembangkit listrik. Zaman Batu," tegas Trump saat berbicara di Gedung Putih.
Trump mengklaim bahwa langkah militer yang diambil AS sejak akhir Februari lalu telah berhasil melemahkan Iran secara signifikan.
Ia menyebut Iran saat ini dalam kondisi "terpenggal kepalanya" secara kepemimpinan.
"Anda harus mengerti, kita telah berurusan dengan orang-orang ini selama 47 tahun. Saat ini, mereka telah dipenggal kepalanya. Ini seharusnya ditangani oleh tujuh presiden sebelumnya," tambah Trump.
Situasi ini menempatkan Iran pada posisi yang sangat terjepit. Dengan pemimpin tertinggi yang kritis dan ancaman serangan total dari Amerika Serikat, dunia kini menanti apakah Iran akan menyerah pada ultimatum Trump atau justru terjadi eskalasi perang yang lebih mengerikan di Asia Barat. (dam)
Editor : Damianus Bram