SOLOBALAPAN, AMERIKA SERIKAT - Memasuki tahun kedua masa jabatan keduanya, Presiden Donald Trump harus menghadapi kenyataan pahit.
Berdasarkan hasil survei terbaru dari CNN dan University of Massachusetts Amherst periode Maret-April 2026, angka kepuasan publik (approval rating) sang presiden merosot tajam hingga menyentuh angka 33 persen.
Penurunan ini menjadi rekor terendah bagi Trump, sekaligus sinyal adanya keretakan serius dalam koalisi pemilih yang memenangkannya pada Pilpres 2024 lalu.
Munculnya Fenomena "The Regretful Trump Voter"
Untuk pertama kalinya, data menunjukkan adanya pergeseran sentimen di basis pendukung inti. Jika pada April 2025 sebanyak 74 persen pemilih Trump merasa sangat percaya diri, kini angka tersebut turun menjadi 62 persen.
Sekitar 16 hingga 20 persen pemilihnya kini mengaku memiliki "perasaan campur aduk" atau keraguan terhadap kinerja sang presiden, sebuah angka keraguan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pemilih Kamala Harris.
Janji Ekonomi yang Terbentur Realita
Faktor ekonomi menjadi pemicu utama kekecewaan publik. Janji kampanye Trump untuk menekan biaya hidup justru berbenturan dengan kondisi di lapangan:
-
Inflasi Tinggi: 71 persen warga Amerika menilai Trump gagal mengendalikan harga kebutuhan pokok di supermarket.
-
Harga Bensin: 45 persen pendukung setianya mengeluhkan mahalnya harga bahan bakar.
-
Kegagalan Tarif Impor: Kebijakan tarif impor yang dulu dibanggakan kini dianggap gagal oleh 64 persen responden karena justru memicu kenaikan harga barang sehari-hari.
Isu Perang Iran dan Kekecewaan Basis "Kerah Biru"
Kebijakan militer Trump terhadap Iran dianggap mengkhianati janji kampanye "America First" yang bertekad mengakhiri perang tanpa akhir.
Erosi dukungan paling terlihat pada kelompok kelas pekerja kulit putih (blue-collar) yang tingkat kepuasannya anjlok dari 63 persen menjadi 49 persen.
Selain itu, dukungan dari pemilih pria dan warga Afrika-Amerika juga dilaporkan terjun bebas hingga 20 poin dalam setahun terakhir.
Bayang-bayang Kasus Jeffrey Epstein
Di tengah isu ekonomi dan perang, administrasi Trump juga dihantui masalah transparansi.
Sebanyak 59 persen warga Amerika meyakini pemerintah masih menyembunyikan informasi krusial terkait kasus Jeffrey Epstein.
Ketidakmampuan pemerintah dalam meyakinkan publik terkait integritas ini menambah persepsi negatif di mata masyarakat.
Profil Tokoh: Donald Trump
-
Nama Lengkap: Donald John Trump
-
Jabatan: Presiden Amerika Serikat ke-45 dan ke-47.
-
Partai: Republik (GOP).
-
Kondisi Terkini: Menghadapi tantangan besar menjelang Pemilu Midterm 2026 akibat penurunan dukungan dari kelompok independen, moderat, dan basis pekerja kulit putih yang merasa kebijakan ekonominya terlalu ekstrem.
Tren penurunan ini diprediksi bisa menjadi "tsunami" politik bagi Partai Republik di Kongres jika Trump tidak segera menstabilkan harga kebutuhan pokok dan menemukan jalan keluar diplomatik dari konflik Iran.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo