SOLOBALAPAN.COM - Kasus dugaan mark up proyek video profil desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, terus menjadi perhatian publik.
Nama Amsal Christy Sitepu semakin viral setelah dituntut dua tahun penjara.
Namun, sorotan kini tak hanya tertuju pada terdakwa, melainkan juga pada Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menangani perkara tersebut, yakni Wira Arizona.
Lantas, siapa sebenarnya sosok Wira Arizona dan mengapa namanya ikut menjadi perbincangan hangat?
Baca Juga: Daftar Produk Terlaris di Samsung Official Store Online
Kronologi Kasus yang Menjerat Amsal Sitepu
Kasus ini bermula dari proyek pembuatan video profil desa di Kabupaten Karo pada tahun anggaran 2020 hingga 2022.
Dalam proyek tersebut, Amsal Sitepu yang merupakan Direktur CV Promiseland menawarkan jasa produksi video kepada sekitar 20 desa.
Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Medan, jaksa menilai terdapat dugaan penggelembungan anggaran dalam proposal yang diajukan terdakwa.
Biaya produksi yang diajukan disebut mencapai sekitar Rp30 juta per desa.
Namun, berdasarkan hasil audit, nilai tersebut dinilai lebih tinggi dari estimasi wajar dan menimbulkan kerugian negara sebesar Rp202.161.980.
Tuntutan JPU Wira Arizona
Dalam sidang, Wira Arizona membacakan tuntutan terhadap terdakwa. Ia meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman:
-
Pidana penjara 2 tahun
-
Denda Rp50 juta subsider 3 bulan kurungan
-
Uang pengganti Rp202.161.980
Jaksa juga menyebut adanya faktor yang memberatkan, seperti sikap terdakwa selama persidangan dan belum dikembalikannya kerugian negara.
Kasus ini didakwa melanggar aturan dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, khususnya Pasal 3 jo Pasal 18.
Siapakah Wira Arizona?
Nama Wira Arizona mendadak viral setelah tuntutan terhadap Amsal Sitepu ramai dibahas di media sosial.
Ia diketahui merupakan Jaksa Penuntut Umum di Kejaksaan Negeri Karo yang kerap menangani perkara tindak pidana korupsi.
Sebelum kasus ini mencuat, Wira Arizona sudah beberapa kali terlibat dalam persidangan kasus serupa di wilayah Sumatera Utara.
Namun, perkara Amsal Sitepu menjadi titik yang membuat namanya dikenal luas publik.
Sorotan Publik dan Isu Kekayaan
Tak hanya perannya sebagai jaksa, Wira Arizona juga menjadi bahan perbincangan terkait laporan harta kekayaannya.
Seorang pengguna media sosial menyoroti data LHKPN milik Wira yang dianggap cukup besar dibandingkan profil jabatannya.
"Iseng buka LHPN jaksa yang nangani kasus Amsal Sitepu. Di 2022 jabatannya masih Ajun Jaksa Madya, dengan standar penghasilan PNS di level itu (cek gambar) Tapi pas dilihat hartanya, lumayan bikin kaget," tulis seorang netizen.
Dalam unggahan tersebut disebutkan total kekayaan mencapai Rp2 miliar, yang sebagian besar berasal dari hibah.
"Di rinciannya banyak yang tercatat sebagai hibah, jadi malah makin penasaran aja itu biasanya gimana sih praktiknya. Terus sempat lihat juga video akad nikahnya tahun 2022 dengan mas kawin 50 mayam dan acaranya terlihat cukup besar Mau tips kayakna dong kak," tulis netizen di media sosial.
Tak sedikit warganet yang ikut berkomentar dan memberikan pandangan beragam terkait hal tersebut.
"Bisa jadi karena orang tua yang kaya dan sebagai anak serba nanggung untuk lapor di LHKPN. Gak ada aarahan pasti gimana cara isi LHKPN, bahkan tiap instansi bisa beda-beda. Ada yang 'cari aman', harta bawaan dari ortu yang melekat di diri sehari-hari juga ikut dilaporkan just in case mendadak viral dan dikulik gaya hidupnya, terlihat mobil mewah, tas branded tapi kok LHKPN-nya dikit? Itu fenomena yang gue temukan di kalangan wajib lapor LHKPN yang masih muda-muda dan emang tajir dari ortu. Dilaporkan atas nama ortu, tidak dilaporkan tapi sehari-hari dipakai," sambung lainnya.
"Ah jaksa, udah jadi rahasia umum kali gimana dapat duitnya," komentar warganet.
"Harta 2 miliar tidaklah besar karena rumah saja biasanya sudah di atas 500 juta. Hibah biasannya harta pemberian orang tua, tinggal lihat saja orang tuanya orang kaya apa enggak," lanjut warganet lain.
Mengapa Kasus Ini Jadi Viral?
Kasus ini menyedot perhatian publik karena menyangkut industri kreatif, khususnya jasa videografi.
Banyak pihak menilai pekerjaan seperti konsep, editing, hingga produksi video memiliki nilai yang tidak selalu bisa diukur secara kaku.
Selain itu, tuntutan terhadap Amsal yang mencapai dua tahun penjara memicu diskusi luas, termasuk soal keadilan dalam menilai pekerjaan kreatif.
Di sisi lain, sosok jaksa seperti Wira Arizona ikut menjadi perhatian karena perannya dalam membangun argumentasi hukum dalam kasus yang sensitif ini. (lz)
Editor : Laila Zakiya