SOLOBALAPAN, JAKARTA - Masyarakat Indonesia diimbau untuk mulai bersiap menghadapi transisi cuaca.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi merilis prakiraan bahwa musim kemarau 2026 di sejumlah wilayah akan datang lebih awal dibandingkan rata-rata tahunan.
Fenomena ini dipicu oleh berakhirnya fase La Niña lemah pada Februari lalu, yang kini membawa kondisi iklim global menuju fase netral namun dengan intensitas curah hujan yang mulai menurun drastis.
Puncak Musim Kemarau: Agustus Jadi Titik Terkering
Berdasarkan analisis data dari BMKG, puncak musim kemarau 2026 diprediksi tidak akan terjadi secara serentak di seluruh pelosok negeri. Namun, mayoritas wilayah Indonesia akan merasakan titik terkering pada bulan Agustus mendatang.
Baca Juga: Hadapi Kemarau 2026, Sukoharjo Revitalisasi Dam Cendono dan Siapkan Mitigasi Air
Puncak kemarau pada Agustus 2026 diperkirakan mencakup sekitar 429 Zona Musim (ZOM) atau setara dengan 61,4% wilayah Indonesia.
Area ini meliputi Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi. Sementara itu, sekitar 12,6% wilayah lainnya sudah akan mencapai puncak kemarau lebih awal pada bulan Juli.
Transisi Mulai April: Monsun Australia Mulai Mendominasi
Pertanyaan mengenai apakah bulan April sudah memasuki musim kemarau kini terjawab. BMKG menyebutkan sekitar 114 ZOM (16,3% wilayah Indonesia) akan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.
Tanda-tanda awal ini ditandai dengan perubahan pola angin, di mana angin baratan (Monsun Asia) mulai beralih menjadi angin timuran (Monsun Australia) yang membawa massa udara lebih kering.
Wilayah yang mulai terdampak pada April meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga wilayah NTT dan NTB.
Pemetaan Waktu Puncak Kemarau 2026
| Bulan Puncak | Persentase Wilayah | Cakupan Wilayah Utama |
| Juli 2026 | 12,6% | Sumatra, Kalimantan Tengah/Utara, sebagian Jawa & Sulawesi |
| Agustus 2026 | 61,4% (Mayoritas) | Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi |
| September 2026 | 14,3% | Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, Maluku, Papua |
Dampak dan Imbauan BMKG
Kondisi kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung lebih lama dan lebih kering di beberapa titik. Hal ini tentu membawa risiko bagi sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
BMKG menyarankan masyarakat dan pemerintah daerah untuk:
-
Manajemen Air: Mulai memanen air hujan atau menjaga cadangan air di waduk/embung.
-
Sektor Pertanian: Menyesuaikan pola tanam yang lebih tahan terhadap kondisi minim air.
-
Kesehatan: Mewaspadai polusi udara dan debu yang meningkat saat kondisi kering.
Memahami kapan puncak musim kemarau 2026 sangat penting untuk perencanaan aktivitas luar ruangan maupun langkah mitigasi bencana kekeringan di lingkungan masing-masing. Tetap pantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG untuk mendapatkan data yang lebih spesifik di wilayah Anda. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo