Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Kapan Puncak Musim Kemarau 2026? Simak Penjelasan BMKG Terkait Prediksi Wilayah yang Terdampak Lebih Awal

Didi Agung Eko Purnomo • Jumat, 27 Maret 2026 | 20:49 WIB
Sukoharjo mulai mitigasi kemarau 2026 dengan revitalisasi Dam Cendono, pengecekan pompa air, dan antisipasi kekeringan sesuai prediksi BMKG. (ILUSTRASI)
Sukoharjo mulai mitigasi kemarau 2026 dengan revitalisasi Dam Cendono, pengecekan pompa air, dan antisipasi kekeringan sesuai prediksi BMKG. (ILUSTRASI)

SOLOBALAPAN, JAKARTA - Masyarakat Indonesia diimbau untuk mulai bersiap menghadapi transisi cuaca.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi merilis prakiraan bahwa musim kemarau 2026 di sejumlah wilayah akan datang lebih awal dibandingkan rata-rata tahunan.

Fenomena ini dipicu oleh berakhirnya fase La Niña lemah pada Februari lalu, yang kini membawa kondisi iklim global menuju fase netral namun dengan intensitas curah hujan yang mulai menurun drastis.

Puncak Musim Kemarau: Agustus Jadi Titik Terkering

Berdasarkan analisis data dari BMKG, puncak musim kemarau 2026 diprediksi tidak akan terjadi secara serentak di seluruh pelosok negeri. Namun, mayoritas wilayah Indonesia akan merasakan titik terkering pada bulan Agustus mendatang.

Baca Juga: Hadapi Kemarau 2026, Sukoharjo Revitalisasi Dam Cendono dan Siapkan Mitigasi Air

Puncak kemarau pada Agustus 2026 diperkirakan mencakup sekitar 429 Zona Musim (ZOM) atau setara dengan 61,4% wilayah Indonesia.

Area ini meliputi Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi. Sementara itu, sekitar 12,6% wilayah lainnya sudah akan mencapai puncak kemarau lebih awal pada bulan Juli.

Transisi Mulai April: Monsun Australia Mulai Mendominasi

Pertanyaan mengenai apakah bulan April sudah memasuki musim kemarau kini terjawab. BMKG menyebutkan sekitar 114 ZOM (16,3% wilayah Indonesia) akan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.

Tanda-tanda awal ini ditandai dengan perubahan pola angin, di mana angin baratan (Monsun Asia) mulai beralih menjadi angin timuran (Monsun Australia) yang membawa massa udara lebih kering.

Wilayah yang mulai terdampak pada April meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga wilayah NTT dan NTB.

Pemetaan Waktu Puncak Kemarau 2026

Bulan Puncak Persentase Wilayah Cakupan Wilayah Utama
Juli 2026 12,6% Sumatra, Kalimantan Tengah/Utara, sebagian Jawa & Sulawesi
Agustus 2026 61,4% (Mayoritas) Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi
September 2026 14,3% Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, Maluku, Papua

Dampak dan Imbauan BMKG

Kondisi kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung lebih lama dan lebih kering di beberapa titik. Hal ini tentu membawa risiko bagi sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

BMKG menyarankan masyarakat dan pemerintah daerah untuk:

Memahami kapan puncak musim kemarau 2026 sangat penting untuk perencanaan aktivitas luar ruangan maupun langkah mitigasi bencana kekeringan di lingkungan masing-masing. Tetap pantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG untuk mendapatkan data yang lebih spesifik di wilayah Anda. (did) 

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#2026 #musim kemarau #prediksi #bmkg