SOLOBALAPAN.COM - Potongan video perdebatan panas di program televisi Rakyat Bersuara mendadak viral di media sosial.
Dalam tayangan tersebut, pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda terlihat melontarkan kata-kata kasar saat berdebat dengan akademisi dan mantan diplomat.
Perdebatan itu terjadi dalam episode bertajuk 'Perang Meluas, Kita Harus Bagaimana' yang membahas konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang tengah menjadi sorotan dunia.
Dalam dialog tersebut, mantan Duta Besar RI untuk Tunisia tahun 2017, Ikrar Nusa Bakti, menyampaikan pandangannya mengenai Amerika Serikat.
“Jangan Anda pikir Amerika tuh negara yang baik,” ujar Ikrar dikutip pada Rabu, 11 Maret 2026.
Ucapan itu langsung memancing reaksi dari Abu Janda yang terlihat menunjuk-nunjuk Ikrar dengan nada tinggi.
“Gue tidak ada urusan sama perasaan lo pak!” lanjutnya.
Ikrar kemudian menanggapi pernyataan tersebut dengan mengajak lawan bicaranya memahami sejarah.
“Katanya Anda mau belajar sejarah,” sambung Ikrar.
Namun situasi semakin memanas ketika Abu Janda kembali melontarkan komentar yang dianggap menyindir Ikrar.
“Jagoan gue daripada lo pasti lah!” tukasnya.
Emosi Abu Janda Memuncak
Perdebatan yang awalnya membahas geopolitik dunia berubah menjadi panas ketika Abu Janda menuding narasumber lain terlalu terbawa perasaan terhadap Amerika dan Israel.
“Elo tuh terlalu baper pak, dari tadi lo kalau komentar gue perhatiin terlalu baper. Jangan bawa-bawa perasaan pak!” tegasnya.
Ikrar tetap mencoba merespons dengan tenang.
“Enggak ada urusan perasaan,” balas Ikrar.
Namun Abu Janda kembali melontarkan pernyataan yang memicu kontroversi.
“Lo gak suka Amerika, Bang Feri gak suka sama Trump, lo gak suka sama Israel, itu perasaan lo semua!” ujar Abu Janda.
Tak berhenti di situ, Abu Janda bahkan mengeluarkan kata-kata kasar di tengah perdebatan.
“Gue enggak ada urusan sama perasaan lo anj*r,” sambungnya.
Mendengar ucapan tersebut, Ikrar tetap berusaha melanjutkan penjelasan mengenai pandangannya terhadap sejarah hubungan Amerika dengan Indonesia.
“Enggak apa-apa Anda bilang saya anj*r, tapi Anda harus tahu ya, itu ketika partai Republik..” ucap Ikrar.
Ia kemudian menjelaskan peristiwa sejarah yang melibatkan Amerika Serikat di Indonesia.
“Dengerin dulu. Bagaimana ketika Amerika Serikat itu awal-awal kemerdekaan Indonesia juga itu membantu pemberontakan daerah di PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta), dan kemudian ada perubahan besar dari kebijakan Amerika terhadap Indonesia,” tandasnya.
Sempat Diperingatkan Pembawa Acara
Dalam potongan video lain yang beredar, Abu Janda juga terlihat memotong pembicaraan dan mengucapkan kata kasar kepada Ikrar Nusa Bakti.
Aiman Witjaksono selaku pembawa acara sempat mengingatkan agar diskusi tetap berlangsung dengan bahasa yang santun.
Situasi semakin panas ketika pakar hukum tata negara Feri Amsari meminta pembawa acara mengambil tindakan karena Abu Janda beberapa kali mengucapkan kata kasar dalam debat.
Permadi Arya kemudian menyatakan dirinya bersedia meninggalkan acara tersebut.
"Nggak usah lu usir, dengan senang hati gue pergi," katanya.
Ucapan itu langsung ditanggapi Feri Amsari.
"Silakan dengan senang hati. Ketololan tidak dibutuhkan," sambung Feri Amsari.
Setelah itu, suasana semakin tegang hingga akhirnya Aiman meminta Abu Janda meninggalkan ruang dialog.
Dapat Sorotan dari Akademisi
Viralnya potongan video tersebut juga mendapat tanggapan dari Profesor Ilmu Komunikasi dan Regulasi Digital Universitas Airlangga, Henry Subiakto.
Menurutnya, penggunaan kata kasar dalam forum publik justru bisa merugikan pihak yang dibela oleh seseorang.
"Munculnya kata-kata "an***g" ini justru memperburuk citra dari pihak yang dia dukung dan bela," tulisnya dalam akun X @henrysubiakto.
Henry juga menilai seseorang yang tampil di ruang publik tidak hanya membawa identitas pribadi.
Ia menegaskan bahwa seorang narasumber juga merepresentasikan pihak yang mereka wakili.
Aksi Abu Janda dalam debat tersebut pun menuai beragam komentar dari warganet di media sosial. (lz)
Editor : Laila Zakiya