SOLOBALAPAN.COM - Fenomena video viral kembali mengguncang jagat media sosial Indonesia.
Kali ini, sebuah rekaman yang dijuluki warganet sebagai “mukena pink” ramai dibicarakan sejak awal Ramadan 2026.
Video tersebut menyebar cepat di berbagai platform seperti TikTok dan X, memicu rasa penasaran publik hingga banyak pengguna internet berburu link video yang disebut-sebut sebagai versi tanpa sensor.
Video Mukena Pink Bikin Heboh TikTok
Warga TikTok dibuat gempar akan munculnya video mukena pink.
Kira-kira, apa isi dari video mukena pink yang dibahas orang-orang di TikTok?
Akun TikTok @irsanjulian bagikan informasi soal video mukena pink yang sedang ramai dibahas publik ini.
Dilansir dari TikTok @irsanjulian, tampak pemilik akun bagikan video yang kini sedang viral.
Yang pertama, video ini menampilkan sosok wanita yang memakai mukena pink.
Lalu wanita yang pakai mukena pink itu sedang melaksanakan sholat di dalam ruangan.
Kemudian video itu juga memperlihatkan dua gambar gunung yang berdiri berdampingan.
Setelah itu, @irsanjulian menyebut bahwa wanita ini tampak merekam aktivitas yang ia lakukan dengan menggunakan mukena pink.
“Waduh ada yang viral lagi ini ukhti mukena pink ini bikin warga TikTok heboh gara-gara bikin konten,” ucap @irsanjulian.
Video yang dibagikan oleh @irsanjulian pun mendapatkan ratusan like dari warganet.
Kemudian beberapa dari mereka berkomentar soal video mukena pink ini.
Viral Sejak Awal Ramadan 2026
Fenomena viral bertajuk “Ukhti Mukena Pink” mendadak ramai diperbincangkan di media sosial, terutama di platform X dan TikTok.
Pencarian terkait video tersebut bahkan meningkat tajam sejak awal Ramadan 2026.
Cuplikan video yang beredar memperlihatkan seorang perempuan mengenakan mukena berwarna merah muda bermotif bunga yang sedang berada di atas sajadah.
Potongan rekaman singkat itu kemudian menyebar luas setelah diunggah ulang oleh berbagai akun di media sosial.
Sejak saat itu, berbagai kata kunci seperti “ukhti mukena pink”, “ukhti mukenah pink asli”, hingga “ukhti mukenah pink viral terbaru” mulai ramai dicari oleh pengguna internet.
Sensor Putih Picu Rasa Penasaran
Viralnya video ini ternyata bukan karena tren busana muslim atau mukena Ramadan.
Perhatian warganet justru tertuju pada adanya sensor berbentuk kotak putih yang menutupi sebagian area dada perempuan dalam video tersebut.
Keberadaan sensor itulah yang memicu spekulasi luas di kalangan pengguna media sosial.
Banyak warganet kemudian mencoba mencari video versi lengkap atau tanpa sensor untuk mengetahui isi sebenarnya dari rekaman tersebut.
Klaim Video Tanpa Sensor Belum Terbukti
Seiring meningkatnya pencarian, sejumlah akun anonim mulai mengklaim memiliki video “full version” atau durasi panjang.
Namun hingga saat ini klaim tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.
Mayoritas konten yang beredar hanyalah potongan video singkat yang sama dan terus diunggah ulang oleh berbagai akun tanpa keterangan jelas mengenai identitas pemeran maupun lokasi perekaman.
Bahkan hingga kini belum ada bukti konkret bahwa video tanpa sensor benar-benar pernah beredar di internet.
Waspada Link Penipuan
Di tengah tingginya rasa penasaran publik, sejumlah pihak tidak bertanggung jawab diduga memanfaatkan situasi ini dengan menyebarkan tautan mencurigakan.
Beberapa link yang beredar mengklaim berisi video “full version” dari mukena pink.
Padahal tautan tersebut berpotensi mengarah pada situs berbahaya yang dapat mencuri data pribadi atau menyebarkan malware.
Seorang pengamat keamanan siber bahkan mengingatkan pentingnya kewaspadaan saat menemukan tautan semacam ini.
“Jangan biarkan rasa penasaran mengalahkan logika keamanan digital Anda. Periksa URL sebelum mengeklik,” tegas seorang pengamat siber pada Sabtu (28/2/2026).
Pelajaran Penting bagi Pengguna Internet
Fenomena viral mukena pink menunjukkan bagaimana sebuah potongan video singkat bisa memicu gelombang pencarian besar di dunia maya.
Namun di balik viralitas tersebut, pengguna internet juga perlu lebih berhati-hati dalam menyikapi informasi yang beredar.
Terlebih ketika konten yang viral belum jelas kebenarannya dan justru berpotensi dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk melakukan penipuan digital. (LZ)
Editor : Laila Zakiya