Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Di Mana Netanyahu Saat Iran Menggempur Israel? Terungkap Tujuan Wing of Zion ke Berlin, Picu Rumor Sang Perdana Menteri Lari

Didi Agung Eko Purnomo • Selasa, 3 Maret 2026 | 19:55 WIB

Trump dan Netanyahu berjabat tangan saat bertemu di Gedung Putih pada 7 April 2025.
Trump dan Netanyahu berjabat tangan saat bertemu di Gedung Putih pada 7 April 2025.

SOLOBALAPAN.COM – Eskalasi konflik yang belum pernah terjadi sebelumnya antara koalisi AS-Israel melawan Iran telah memicu sebuah pertanyaan krusial yang terus bergema di berbagai ruang diskusi global dan media sosial: Di mana keberadaan Perdana Menteri Israel saat ini?

Di saat negara yang dipimpinnya menghadapi serangan rudal balistik besar-besaran, keberadaan sang pemimpin justru menjadi sorotan tajam.

Pasalnya, "Wing of Zion," pesawat kepresidenan resmi yang setara dengan Air Force One, terpantau radar mendarat di Berlin, Jerman.

Tak pelak, manuver penerbangan ini memunculkan rumor liar bahwa sang perdana menteri diam-diam melarikan diri saat militernya tengah berperang dan rakyatnya menderita di bawah ancaman bombardir rudal Teheran.

Jejak 'Wing of Zion' di Berlin: Manuver atau Pelarian?

Spekulasi miring ini pertama kali dipicu oleh data pelacak penerbangan (flight tracker).

Pesawat Boeing 767 yang dikenal sebagai "Wing of Zion" terpantau lepas landas meninggalkan wilayah udara Israel, berputar-putar di atas Laut Mediterania selama beberapa jam, dan akhirnya mendarat di ibu kota Jerman.

Fakta ini sontak memicu badai teori konspirasi di media sosial. Banyak pihak—yang disinyalir dimotori oleh akun-akun terkait Iran—menyimpulkan bahwa pemimpin Israel tersebut tengah mencari perlindungan aman di daratan Eropa.

Baca Juga: Abaikan Ancaman Trump! Iran Lancarkan Serangan Balasan Mematikan, Hujani Israel dan Pangkalan AS dengan Rudal Hipersonik

Namun, apakah benar demikian? Kebenarannya ternyata jauh lebih bersifat strategis ketimbang urusan personal.

Stefan Kornelius, juru bicara pemerintah Jerman, telah mengonfirmasi bahwa pesawat "Wing of Zion" memang dipindahkan ke Berlin, murni atas permintaan otoritas Israel untuk alasan keamanan.

"Pemerintah Israel bertanya apakah mereka bisa memarkir pesawat ini di sini. Kami dengan senang hati memenuhi permintaan itu," tegas Kornelius dalam sebuah konferensi pers, seperti dikutip dari laporan Hindustan Times.

Ia juga memberikan detail krusial yang membantah narasi pelarian: Tidak ada satu pun pejabat pemerintah Israel di dalam pesawat tersebut saat mendarat; hanya kru dan awak penerbangan.

Langkah ini disimpulkan sebagai manuver pengamanan tingkat tinggi untuk memindahkan aset negara yang sangat vital dan berteknologi canggih ke lokasi aman, demi menghindarinya dari potensi kehancuran akibat serangan balasan Iran.

Netanyahu Tetap di Tel Aviv Pimpin Kabinet Perang

Menjawab derasnya arus informasi yang simpang siur, kantor Perdana Menteri secara resmi menepis klaim yang menyebut pemimpin mereka telah meninggalkan negara tersebut atau bahkan terbunuh.

Sebuah pembaruan resmi yang dirilis melalui media sosial menegaskan bahwa Netanyahu tetap berada di Tel Aviv, dan baru saja menggelar pertemuan krusial dengan Menteri Pertahanan, Kepala Staf Militer, dan Direktur agen intelijen Mossad.

Pertemuan strategis ini diperkuat dengan rilis beberapa dokumentasi foto yang menunjukkan sang perdana menteri tengah aktif memimpin rapat kabinet perang di bunker keamanan.

Dalam sebuah pernyataan resminya, ia juga menegaskan kehadirannya di dalam negeri untuk mendampingi rakyatnya.

"Kemarin di sini, di Tel Aviv, dan sekarang di Beit Shemesh, kita kehilangan orang-orang yang kita sayangi.

Hati saya bersama keluarga mereka, dan atas nama Anda semua, warga Israel, saya mengirimkan harapan untuk pemulihan yang cepat bagi yang terluka," ujarnya secara tersirat mengonfirmasi lokasinya.

Baca Juga: Iran Bermanuver Minta Bantuan ke Rusia dan China, Dari Rudal Panggul Verba hingga CM-302 Supersonik

Sang Ayah Memimpin Perang, Sang Anak Asyik di Miami

Ironisnya, di saat sang ayah bersusah payah meredam rumor miring dan memimpin perang dari bunker, sorotan tajam justru beralih ke Yair Netanyahu (34), sang putra perdana menteri.

Di saat lebih dari 360.000 tentara cadangan Israel dimobilisasi penuh untuk diterjunkan ke garis depan, Yair justru dilaporkan tengah asyik berada di Miami, Florida, Amerika Serikat.

Absennya Yair dari panggilan wajib tugas militer ini memicu amarah dan rasa frustrasi mendalam di kalangan prajurit garis depan.

Kepada The Times di London, seorang prajurit di perbatasan utara mengungkapkan kekecewaannya.

"Yair menikmati hidupnya di Miami Beach sementara saya berada di garis depan...

Saudara-saudara, ayah, dan putra-putra kami semua pergi ke garis depan, tetapi Yair masih belum ada di sini. Ini tidak membantu membangun kepercayaan pada kepemimpinan negara," ungkap prajurit yang enggan disebutkan namanya tersebut.

Lebih dari sekadar isu moralitas dan empati, keberadaan Yair di AS nyatanya juga menimbulkan celah kekhawatiran keamanan tingkat tinggi.

Howard Stoffer, pakar hubungan internasional dan mantan pejabat Gedung Putih, bahkan menyebut Yair sebagai "target yang sangat rentan".

"Saya rasa adalah sebuah kebodohan baginya untuk berada di sini (AS)... Akan sangat dramatis (dampaknya) jika putra Perdana Menteri Israel diculik atau diserang," pungkas Stoffer. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Israel #wing of zion #iran #perdana menteri #berlin #netanyahu