SOLOBALAPAN.COM – Ancaman dan peringatan keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tampaknya tak lagi memiliki arti di mata Teheran.
Iran merespons gempuran mematikan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan ratusan warganya dengan melancarkan serangan balasan berskala masif.
Pada Minggu (1/3/2026), hujan rudal balistik Iran secara resmi diluncurkan menuju berbagai target strategis di wilayah Israel serta jaringan pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah.
Abaikan Ancaman Trump, Sasar 27 Pangkalan
Sebelumnya, Donald Trump secara terbuka memperingatkan bahwa Iran akan dihantam "dengan kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya" jika berani melakukan serangan balik.
Namun, ancaman tersebut sama sekali tak menyurutkan langkah Teheran.
Unit elite Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa mereka telah berhasil menyerang 27 pangkalan yang menampung pasukan AS di kawasan Teluk, serta fasilitas militer Israel di Tel Aviv.
Baca Juga: Iran Bermanuver Minta Bantuan ke Rusia dan China, Dari Rudal Panggul Verba hingga CM-302 Supersonik
Target serangan meluas secara dramatis ke negara-negara yang menampung instalasi militer Washington, meliputi Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, Yordania, Arab Saudi, Irak, hingga Oman.
"Ledakan terus terdengar di Qatar dan Uni Emirat Arab," lapor jaringan televisi Al Jazeera.
Di sisi lain, Komando Pusat AS (Centcom) telah mengonfirmasi jatuhnya korban jiwa di pihak mereka, yakni tiga tentara Amerika tewas dan lima lainnya menderita luka serius.
Guncang Israel, Sasar Tempat Perlindungan
Serangan balasan ini juga menghantam langsung wilayah pendudukan Israel dan memicu kekacauan.
Di Kota Beit Shemesh, sebelah barat Yerusalem, sedikitnya delapan warga Israel dilaporkan tewas dan 27 lainnya terluka akibat hantaman rudal.
Mirisnya, media berbahasa Ibrani menyebut bahwa bangunan yang hancur terkena sasaran tersebut diklasifikasikan sebagai shelter atau tempat perlindungan bom.
Tim penyelamat dari Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel hingga kini masih melakukan pencarian intensif di lokasi jatuhnya proyektil, di mana media lokal memperingatkan kemungkinan masih banyak korban tertimbun reruntuhan.
Selain itu, seorang warga dilaporkan terluka akibat pecahan rudal yang jatuh di Kota Petah Tikva, timur laut Tel Aviv.
Militer Israel mengakui bahwa penyelidikan tengah dibuka menyusul laporan sejumlah warga yang mengaku tidak mendengar sirene peringatan udara saat rudal datang menyambar.
Teror Rudal Hipersonik Fatah-2
Daya hancur dari operasi balasan ini tak lepas dari senjata mematikan yang digunakan.
Untuk pertama kalinya dalam konflik terbuka, Iran mengerahkan rudal balistik hipersonik terbarunya, Fatah-2.
Berikut adalah spesifikasi mengerikan dari rudal hipersonik Fatah-2 milik Iran:
-
Kecepatan Ekstrem: Mampu melesat dengan kecepatan 5,1 kilometer per detik atau setara Mach 15.
-
Jangkauan Luas: Memiliki daya jelajah hingga 1.400 kilometer.
-
Hulu Ledak HGV: Dilengkapi hulu ledak Glide Vehicle (HGV) yang memungkinkan rudal mengubah arah selama penerbangan dan bermanuver di ketinggian yang lebih rendah.
-
Sulit Dicegat: Kemampuan manuver pasca-memasuki atmosfer membuat pola lintasannya sulit diprediksi, sehingga menjadi tantangan berat bagi sistem pertahanan udara canggih seperti Arrow atau Iron Dome milik Israel.
Kawasan Timur Tengah Makin Membara
Eskalasi yang terjadi dalam 48 jam terakhir ini menunjukkan satu hal mutlak: diplomasi ancaman Washington tak lagi cukup untuk membendung respons militer Teheran.
Apalagi, media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan sedikitnya 201 orang tewas di 24 provinsi akibat serangan pembuka dari AS dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Kini, Timur Tengah benar-benar berada di ambang perang regional yang tak terkendali, dan dunia bersiap menyaksikan babak baru konflik yang berpotensi menyeret kekuatan global lainnya. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo