SOLOBALAPAN.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyita perhatian dunia setelah menyampaikan pernyataan keras terkait perang yang melibatkan Iran dan Israel sejak 28 Februari 2026.
Konflik tersebut sebelumnya telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, namun Trump menegaskan operasi militer belum akan dihentikan.
Trump Klaim Armada Laut Iran Dihancurkan
Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengklaim Amerika Serikat telah melumpuhkan kekuatan laut Iran.
Dilansir dari Antara News pada 2 Maret 2026, Trump menyebut angkatan laut Iran kini berada dalam kondisi tak berdaya.
"Saya baru saja mendapat laporan bahwa kami telah menghancurkan dan menenggelamkan sembilan kapal Angkatan Laut Iran, beberapa di antaranya berukuran relatif besar dan penting. Dalam sebuah serangan yang berbeda, kami menghancurkan sebagian besar pusat komando angkatan laut (Iran)," kata Trump.
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat masih akan terus memburu sisa kekuatan angkatan laut Iran.
Serangan ini disebut sebagai lanjutan dari operasi besar yang sebelumnya juga menewaskan puluhan pejabat tinggi Iran akibat gempuran Israel dengan dukungan AS.
Pernyataan Trump diperkuat oleh Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom). Mereka mengonfirmasi telah menyerang kapal perang Iran jenis korvet kelas Jamaran.
"Kapal itu saat ini sedang tenggelam di dasar Teluk Oman di sebuah dermaga di Chah Bahar," lanjutnya.
Trump Samakan Iran dengan Venezuela
Tak berhenti pada klaim militer, Trump juga mengungkap tujuan politik di balik agresi terhadap Iran.
Ia menyinggung skenario yang menurutnya “sempurna” seperti yang pernah terjadi di Venezuela.
Pada 2 Maret 2026, Trump menyatakan:
"Apa yang kami lakukan di Venezuela, menurut saya adalah skenario yang sempurna, benar-benar sempurna," ujar Trump.
Trump bahkan mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat telah menyiapkan figur pemimpin baru untuk Iran pascakonflik.
"Saya memiliki tiga pilihan yang sangat baik," tukasnya.
Namun, Trump menolak mengungkap identitas ketiga sosok tersebut dan memilih fokus menyelesaikan konflik lebih dulu.
"Saya tidak akan mengungkapnya sekarang. Mari kita selesaikan tugasnya terlebih dahulu," kata Trump.
Perang Dibatasi Empat Pekan, Sampai Lebaran?
Dalam pernyataan lain, Trump mengungkap bahwa perang melawan Iran memiliki batas waktu yang telah diperhitungkan.
Ia menyebut konflik tersebut diperkirakan berlangsung selama empat pekan.
"Prosesnya selalu memakan waktu empat pekan. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat pekan. Prosesnya selalu sekitar empat pekan, jadi, sekuat apapun negara ini, akan memakan waktu empat pekan atau kurang," tegasnya.
Jika merujuk pada kalender, durasi empat pekan ini berpotensi membuat konflik terus berlangsung hingga menjelang Lebaran.
Trump juga tidak menutup mata terhadap kemungkinan jatuhnya korban jiwa, termasuk dari pihak militer Amerika Serikat.
Di sisi lain, Trump mengklaim masih membuka peluang perundingan dengan Iran, meski mengakui pembicaraan tersebut semestinya sudah dilakukan lebih awal.
"Seharusnya berbicara pekan lalu, bukan pekan ini," tuturnya berbicara soal perang dengan Iran yang kini tengah terjadi.
Perang Masih Jauh dari Usai?
Dengan pernyataan Trump yang menegaskan target waktu empat pekan, kehancuran armada laut Iran, serta ambisi politik pascakonflik, publik internasional menilai perang Iran–Israel dengan dukungan AS masih jauh dari kata selesai.
Pertanyaan besar pun mengemuka: akankah konflik benar-benar berhenti sebelum Lebaran, atau justru meluas menjadi krisis berkepanjangan di Timur Tengah? (lz)
Editor : Laila Zakiya