SOLOBALAPAN.COM - Polemik unggahan paspor asing anak Dwi Sasetyaningtyas belum juga mereda.
Alih-alih hanya membahas kewajiban pengembalian dana LPDP oleh sang suami, sorotan publik kini melebar.
Sejumlah netizen mulai menguliti perilaku lama Tyas, sapaan akrabnya, yang disebut-sebut pernah bermasalah dengan banyak orang sebelum kasus ini viral secara nasional.
Dampak Unggahan Paspor WNA yang Melebar ke Mana-mana
Kasus bermula dari unggahan Dwi Sasetyaningtyas yang memamerkan paspor Inggris anak keduanya. Situasi memanas setelah pernyataannya:
"cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan"
Pernyataan itu dinilai menyakiti publik, terlebih karena Tyas dan suaminya, Arya Pamungkas Iwantoro, merupakan penerima beasiswa LPDP yang dibiayai dana negara.
Imbasnya, pemerintah turun tangan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Arya wajib mengembalikan seluruh dana beasiswa, termasuk bunganya.
"Pak Dirut LPDP sudah bicara dengan suami terkait dan dia sepertinya sudah setuju untuk mengembalikan uang yang dipakai LPDP nilainya jadi termasuk bunganya. Kan saya juga taruh uang di bank ada bunganya," kata Purbaya.
Tak berhenti di situ, ancaman sanksi berat juga disiapkan pemerintah.
“Nanti akan saya blacklist dia, di seluruh pemerintahan enggak akan bisa masuk. Jadi jangan menghina negara Anda sendiri,” lanjutnya.
Rincian Dana LPDP yang Jadi Sorotan Publik
Perhatian publik semakin tajam setelah selebgram Bima Yudho melalui akun Awbimax mengurai perkiraan dana negara yang digunakan untuk studi Arya di Belanda.
"Buat para rakyat Indonesia yang masih penasaran berapa sih total funding yang dikeluarkan oleh pemerintah, bukan pemerintah ya, tapi rakyat yang sudah membayar pajak, untuk satu orang kuliah dari S2 sampai S3," tulisnya lewat akun Awbimax.
Ia memaparkan rekam jejak pendidikan Arya sebagai berikut:
"Jadi yang bersangkutan ngelanjutin kuliah master dari 2014 sampai 2016 di Utrecht. Terus lanjut lagi PhD dari 2017 sampai 2022," tulisnya.
Total dana yang diperkirakan mencapai 182.585 Euro atau sekitar Rp3,6 miliar, angka yang memicu kemarahan publik dan membuat kasus ini kian membesar.
Netizen Mulai Bongkar Sikap Lama Dwi Sasetyaningtyas
Di tengah derasnya kritik publik, unggahan sejumlah netizen di Threads ikut mencuri perhatian.
Salah satunya datang dari akun yang mengaku pernah bekerja satu kantor dengan Dwi Sasetyaningtyas.
Dalam unggahannya, netizen tersebut mengaku langsung teringat pengalaman lama setelah melihat kasus LPDP yang kini viral.
"Liat case LPDP, jadi inget dulu beliau suka banget tantrum dan gak jarang ngeluarin kata kata kurang sopan ke team kantorku dulu. Sampe kita tuh mikir kalau dia mau unsubscribe jangan ditahan ya biarin aja. Cuman namanya service ya tetep senyum ngadepinnya. Tapi sumpah, kalimat dia emang diluar manusia normal kadang kurang assertive gitu. Dikit dikit mau post di social media. Terus sekarang dia di posting se-Indonesia," tulis akun Threads @naomitobs.
Unggahan tersebut kemudian berlanjut dengan sindiran soal karma dan respons rekan-rekan lama.
Akun yang sama menyinggung bagaimana orang-orang di kantor sebelumnya kemungkinan bereaksi saat melihat Dwi Sasetyaningtyas kini menjadi sorotan nasional.
"Di kantor lama pasti liat semua. Apa ya pikiran mereka? Senyum simpul? Don't know. Tapi yang jelas, hidup ini harmonisasi. Siapa berbuat tidak baik, akan menuai hal yang sama, begitupun sebaliknya," lanjutnya.
Tak berhenti di situ, akun tersebut juga menuliskan pernyataan bernada personal terkait pengalaman masa lalu dan keyakinan akan konsekuensi dari setiap perbuatan.
"Nah, yang pernah berbuat tidak baik sama aku, hayoooo! Nantikan tuaiannya. Kalau aku sih lagi nikmatin karma baikku nih," tulisnya lagi.
Sementara itu, unggahan lain turut bermunculan dari warganet berbeda yang mengaku memiliki pengalaman serupa.
Salah satunya menyebut pernah dimarahi dalam sebuah rapat, meski permasalahan yang dibahas justru berasal dari tim yang dipimpin oleh Dwi Sasetyaningtyas.
"Aku bacanya ketawa Nao, karena inget pengalaman dimarahin doi di meeting sama perusahaannya dulu. Padahal masalahnya ada di teamnya doi (salah cara pakai sistem kita)," tulis akun Threads @luthfialulu.
Pesan Keras Pemerintah: Jangan Hina Negara
Di tengah derasnya kritik, Menkeu Purbaya kembali mengingatkan para penerima beasiswa LPDP agar menjaga etika.
"Saya harap teman-teman yang dapat pinjaman dari LPDP kalau nggak seneng ya gausah menghina negara lah. Jangan menghina negara sendiri," ujar Purbaya.
Menurut Purbaya, dana LPDP berasal dari pajak rakyat dan sebagian dari utang negara, sehingga setiap awardee wajib menjaga integritas dan tanggung jawab moral.
Permintaan Maaf Tak Hentikan Gelombang Kritik
Dwi Sasetyaningtyas sendiri telah menyampaikan permohonan maaf terbuka.
"Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat “cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan”, dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut."
Namun, permintaan maaf itu belum sepenuhnya meredam amarah publik. Munculnya kembali cerita lama dari para netizen justru membuat kasus ini berkembang menjadi sorotan karakter dan rekam jejak pribadi. (lz)
Editor : Laila Zakiya