SOLOBALAPAN.COM, JAKARTA – Bola salju polemik Dwi Sasetyaningtyas (DS) tampaknya menggelinding semakin liar.
Usai memancing kehebohan publik lewat isu status paspor WNA sang anak dan dugaan pelanggaran aturan beasiswa LPDP oleh suaminya, kini masa lalu DS turut menjadi sasaran perburuan warganet.
Sebuah utas (thread) lawas yang pernah ditulis oleh Dwi di masa lalu kembali diangkat ke permukaan dan viral di media sosial.
Sorotan kali ini mengarah pada curahan hati Dwi mengenai hubungan traumatis dengan mendiang ayahnya.
Jejak Digital yang Diungkap Netizen
Kehebohan ini bermula dari unggahan akun Threads @anggafauzan pada Minggu (22/2/2026).
Akun tersebut membagikan sejumlah tangkapan layar berisi tulisan masa lalu Dwi yang secara terang-terangan menyinggung pola asuh sang ayah.
Pengunggah utas mencoba mengajak publik untuk melihat sisi lain dari sosok Dwi yang dinilai kerap bersikap defensif.
"Kalau kita coba berempati dan cari tahu apa yang mungkin jadi penyebabnya, kayaknya saya bisa memahami perasaan gak dianggap dan harus selalu mempertahankan diri.
Beberapa kali beliau cerita soal bapaknya yang sering menentangnya dan dia kena mental abuse," tulis akun @anggafauzan.
Trauma dan Keputusan 'Minggat' dari Rumah
Dalam tangkapan layar jejak digital tersebut, Dwi secara blak-blakan mengaku telah memendam rasa sakit hati akibat didikan keras sang ayah sejak kecil.
Trauma dan kekerasan mental (mental abuse) itulah yang mendorongnya untuk segera keluar dari rumah.
"Iya pas aku kecil. Pas aku udah SMP sih enggak, orang ngomong aja gak pernah, tapi mental abuse sih jangan ditanya ya. Makanya milih minggat aja kuliah sampai kerja nikah males banget pulang ke rumah," aku Dwi dalam tulisan lawasnya.
Bahkan, trauma tersebut membekas begitu dalam hingga Dwi mengaku masih harus berkonsultasi ke psikolog usai kepergian sang ayah, demi bisa berdamai dan memaafkan masa lalunya.
Pernyataan Kontroversial soal Kematian Sang Ayah
Namun, bagian yang paling menyita perhatian dan memicu reaksi beragam dari warganet adalah ketika Dwi melontarkan pernyataan yang bernada mensyukuri kematian ayahnya.
Bukan karena sang ayah terbebas dari rasa sakit, melainkan Dwi merasa lega karena dengan begitu, tidak akan ada lagi sosok yang mengkritik atau mengomentari cara ia mendidik anak-anaknya.
"Bapakku gak sempat ketemu cucu, karena udah meninggal pas aku hamil anak pertama itu. Kalau aku mikir jahat sih, lebih baik gitu daripada aku dikomenin pas ngedidik anak. Wkwkwk jujur gak kebayang dramanya," tandas Dwi.
Sontak, utas lawas ini memantik perdebatan sengit di kolom komentar.
Sebagian warganet merasa bersimpati atas luka batin (inner child) yang dialami Dwi sejak kecil, sementara sebagian lainnya tetap menyayangkan pemilihan kata yang dianggap kurang etis saat membicarakan orang tua yang telah tiada. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo